Beras Melimpah, Harga Tetap Wah


[KAMPANYE]
Beras Melimpah, Harga Tetap Wah

Oleh : Novia Roziah ( Komunitas revowriter)

Jember merupakan salah satu daerah lumbung pangan di wilayah Jawa Timur. Tahun 2017 lalu Jember mendapat peringkat sebagai daerah dengan serapan gabah tertinggi di Indonesia. Selain itu, ketersediaan beras di Badan Urusan Logistik Subdivisi regional XI Jember, dipastikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 24 bulan kedepan, terhitung sejak april 2017. Seperti diungkapkan Wakil kepala bulog subdrive XI jember Dwiana Puspita Sari. Ibu Dwiana menyatakan bahwa stok beras yang tersimpan di sejumlah gudang Bulog Jember hingga kini mencapai 63.000 ton setara beras, sehingga dengan jumlah tersebut sangat surplus untuk ketahanan pangan di Jember (rayapos.com).”

Seharusnya dengan jumlah ketersediaan yang disampaikan bulog itu, berkorelasi dengan stabilnya harga beras di pasaran. Fakta di lapangan berbicara lain. Per tanggal 1 Februari 2018 ini, harga beras di Jember mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga beras di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Tanjung, Pasar Mangli, Pasar Kreongan, dan Pasar Wirolegi masih cenderung tinggi dikisaran Rp 9000,- hingga Rp 13.000,- per kilogram untuk kualitas medium hingga premium. Di Pasar Tanjung, harga beras jenis IR 64 sebesar Rp 9.400,- per kilogram, beras mentik berkisar Rp 12.500,- hingga Rp 13.000,- per kilogram, sedangkan beras Begawan berkisar Rp 11.000,- hingga Rp 11.500,- per kilogram.
Merespon harga beras dipasar yang melonjak beberapa pekan terakhir ini, pemerintah daerah Jember melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga. Terhitung sejak selasa (9/1) bulog subdrive 11 Jember menggelar operasi pasar ditingkat distributor. Namun, hal ini tidak mampu membuat harga beras turun (KRadioJember.com).

Didaerah lain pola yang terjadi juga sama. Di Lumajang, meski stok beras di bulog Lumajang masih terpenuhi, namun kenaikan harga beras masih tetap terjadi, wilayah lain di Indonesia juga begitu. Di Cianjur Jawa Barat, harga beras juga mengalami kenaikan. Di Medan, Sumatera Utara, harga beras naik kisaran 1000 rupiah per kilonya. Operasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah daerah, tidak mampu mengendalikan harga beras kembali normal.

Selain itu, kenaikan harga beras ternyata tidak berkorelasi dengan kesejahteraan petani. Bahkan petani di Jember mengaku, harga gabah pada pekan pekan terakir ini mengalami penurunan. Tidak dapat dipungkiri penyebabnya adalah adanya kebijakan impor beras yang di ambil oleh pemerintah pusat. Kebijakan impor beras menjadi sumber keresahan dan kekecewaan bagi para petani bukan hanya di Jember tapi bagi petani diseluruh Indonesia.

Seperti halnya yang disampaikan oleh direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Dr. Enny Sri Hartati kepada VOA, beliau mengatakan kebijakan impor beras yang dilakukan menjelang panen raya ini sangat merugikan petani. Apalagi beras jenis khusus yang diimpor pemerintah itu akan dijual dengan harga medium sehingga akan berpotensi merusak harga beras di pasar.

Meski banyak kalangan yang menolak kebijakan impor beras ini, pihak pemerintah pusat tetap ngotot dengan kebijakanya, dengan alasan stok beras sedang menipis. Seperti yang diungkapkan presiden Jokowi, yang dilansir Kompas.com. “Itu (impor beras) untuk memperkuat cadangan beras kita. Agar tidak terjadi gejolak harga yang ada di daerah-daerah,” kata Presiden. Data yang dikeluarkan kementerian perdagangan, cadangan beras Indonesia per Jumat (12/1) berada di bawah standar, yakni 900 ribu ton. Menteri Perdagangan mengklaim jumlah ini tidak mencukupi dan mengakibatkan harga beras semakin melonjak tinggi.

Merujuk rekomendasi dari FAO (organasasi sayap PBB yang mengurusi Pangan), bahwa cadangan beras untuk negera sebesar Indonesia harus berada pada kisaran 1,1 juta ton – 1,8 juta ton. Jadi, selain alasan kurangnya stok. Pemerintah mencari pembenaran kebijakan impornya karena merujuk ketentuan dari badan pangan internasional FAO ini.

Simpang Siur Data Beras

Data yang disampaikan kementerian perdagangan berlawanan dengan data yang dikeluarkan oleh kementerian pertanian. Versi Kementerian Pertanian stok beras per januari 2018 adalah 4,5 juta ton. Konsumsi rtata-rata 2,4-2,5 juta ton. Sehingga surplus 329 ribu ton. Berbeda dengan versi kementerian perdagangan stok beras nasional 900 ribu ton, konsumsi rata-rata 2,4-2,5 juta ton. Defisit 1,3-1,4 juta ton sehingga kebutuhan januari impor 500 ribu ton.

Menteri pertanian Amran Sulaiman meyakini bahwa panen raya bukanlah ilusi. Menurut amran ada tambahan 400 ribu hectare lahan tanam baru dengan padi siap panen. Kementerian pertanian memprediksi terdapat 979 ribu hectare sawah akan panen dan mengahasilkan 5,5 juta ton pada bulan januari ini.

Impor Beras Korbankan Rakyat

Saling tuding menjadi hal yang biasa terjadi pada setiap pro dan kontra atas kebijakan pemerintah. Kementerian pertanian mengklaim surplus, sehingga tidak perlu impor. Namun, ternyata stok beras kurang sehingga membutuhkan impor. Siapa yang yang menjadi korban? Lagi lagi rakyat. Pemerintah seakan tidak memperdulikan dampak yang akan ditimbulkan setelah impor ini dilakukan. Selain akan mempengaruhi harga beras di pasaran, yang akan membuat rakyat kesulitan membeli beras. kebijakan impor menjelang panen raya ini berpotensi merusak harga padi yang diproduksi oleh para petani di Indonesia.

Beras sebagai makanan pokok hampir 90% masyarakat di Indonesia seharusnya menjadi bahan pertimbangan serius pemerintah, bagaimana agar makanan pokok ini selalu ada dengan harga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian keseajahteraan rakyat akan terpenuhi, namun yang terjadi justru sebaliknya pemerintah mengambil langkah instan yang sangat merugikan rakyat.

Padahal seharusnya yang dilakukan pemerintah adalah tindakan preventif agar stok beras bisa terpenuhi, mengingat Indonesia merupakan negara yang digadang gadang memiliki luas tanah sawah yang mencukupi sehingga tidak perlu impor beras. Menurut Rizal ramli, jika dikelola dg baik, ditambah juga pembukaan lahan maka dalam 5 tahun kedepan Indonesia bisa menjadi negara pengekspor beras.

Impor beras untuk siapa?

Kepentingan segelintir pengusaha (baca: kapitalis) lebih diutamakan dari pada mayoritas rakyatnya. Kebijakan impor beras ini juga disinyalir sudah diambil sejak lama. Seperti diungkapkan mantan kabulog Rizal Ramli: “Pemerintah sudah sejak lama mempersiapkan impor beras ini, karena sebelum impor itu ada banyak hal yang perlu disiapkan, kontrak jual belinya, asuransinya, ketersediaan stok berasnya. Jika memesan sebelum panen raya di Vietnam dan Thailand maka laba yang akan didapatkan pihak importir (dalam hal ini pihak bulog) lebih besar sekitar 30 USD perton nya.”

Karena mengharap laba dari pembelian beras ini, pemerintah tega mengkhianati rakyat. Hal ini menjadi bukti, bahwa sistem perekonomian indonesia tidak ramah terhadap rakyatnya. Pemerintah lebih memilih mendapatkan “komisi” yang tidak seberapa, dibandingkan melindungi mayoritas rakyatnya. Maka tidak heran dalam sistem ekonomi kapitalisme kebijakan yang diambil oleh pemerintah adalah kebijakan yang berpihak pada para kapitalis, bukan rakyat.

Sistem kapitalisme inilah yang menjadi biang kerok kecarut marutan beras ditengah tengah masyarakat. Jika memang menginginkan kesejahteraan hakiki, maka sistem yang tidak ramah terhadap rakyat ini harus diganti dengan sistem yang mampu mensejahterakan rakyat. Yakni Islam.

@infomuslimahjember ||#infomuslimahjember

#IslamPolitik || #JemberLebihBaik

0 Comments

Posting Komentar