Cadar Dianggap Makar



[KAMPANYE]
Cadar Dianggap Makar

Oleh: Miftah Karimah Syahidah (Mahasiswa FKIP Fisika UNEJ)

Menjadi muslim taat tentu harapan setiap muslim. Namun, apa yang terjadi jika upaya itu mencoba dihalangi bahkan dilarang? Ya, fenomena pelarangan cadar bagi wanita muslimah di lingkungan kampus mulai menjadi polemik di masyarakat, terutama masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Mengapa? Pasalnya pelarangan penggunaan cadar ini tidak hanya di kampus-kampus negeri dan swasta, tapi sudah merambah ke kampus-kampus Islam seperti UIN dan IAIN, yang merupakan pusat kajian Islam.

IAIN Jember merupakan salah satu kampus Islam yang menerapkan kebijakan pelarangan cadar tersebut sejak 27 April 2017 lalu. Larangan tersebut tertuang dalam surat edaran yang ditandatangani oleh rektor IAIN Jember. Menurut Wakil rektor IAIN Jember, Nur Solikin, larangan penggunaan cadar perlu diberlakukan untuk menghalau tumbuhnya paham radikal di kampus. Karena paham ini dinilai berbahaya karena tidak megakui NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara. (Koran sindo, 10/04/2017)

Pelarangan cadar memang bukan fenomena baru di dunia Islam. Sebelum Indonesia, negeri-negeri muslim yang lain juga menetapkan hal yang sama. Tunisia contohnya. Negara ini telah mengeluarkan kebijakan pelarangan cadar pada tahun 2015 dengan alasan yang serupa yaitu cadar disinyalir sebagai identitas teroris dan menjadi ancaman bagi masyarakat. Meski dengan dalih bahwa cadar bukan identitas Islam, tapi budaya Arab. Namun sejatinya semua alasan yang berkembang di masyarakat hingga saat ini, karena niqab berhubungan dengan terorisme dan radikalisme.”

Antara Simbol Islam dan Terorisme-Radikalisme

Ketika Islam mulai dikenal sebagai solusi atas berbagai masalah kehidupan, ketika banyak muslim mulai sadar dan bersemangat menjalankan syariat-syariat Islam, stigma antara cadar dan terorisme-radikalisme “terlanjur” muncul dipermukaan. Sayangnya banyak orang yang tidak mengkonfirmasikan stigma tersebut dengan pendekatan Ilmiah. Terus terbawa dengan arus propaganda yang menyesatkan. Terlebih fenomena teror yang sering terjadi di masyarakat disinyalir bahwa pelakunya adalah muslim, atau ada identitas keislaman pada diri pelaku (berjenggot, celana gatung, memiliki panji Rasulullah, istri bercadar, dan lain-lain) atau ada bukti-bukti yang mengaitkan pelaku dengan identitas yang identik dengan islam. Begitulah, seolah-olah terdapat kaitan yang erat antara cadar dan terorisme-radikalisme. Sehingga muncullah ketakutan di tengah-tengah masyarakat terhadap simbol-simbol Islam, bahkan terhadap Islam itu sendiri.

Anehnya stigma negatif terhadap simbol-simbol islam ini nampak begitu ambigu dan berstandar ganda. Di satu sisi, Mereka begitu kritis terhadap nilai agamanya tetapi di sisi lain memberi ruang hidup yang bebas untuk ide-ide barat yang bertentangan dengan Islam. L6BT misal, atas nama toleransi dan HAM, ide yang jelas bertentangan dengan Al Quran dibiarkan berkembangbiak di negeri dengan penduduk mayoritas muslim ini. Bahkan secara terbuka menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin, dalam acara ultah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memberikan apresiasi dan simpati kepada kelompok L6BT serta menghimbau masyarakat untuk menghormati silang pendapat soal L6BT. Meski akhirnya pernyataan tersebut dibantah. Dan sangat berbeda cerita ketika membahas Islam, berhadapan dengan kaum muslimin, HAM dan toleransi tampak tumpul dan tak berdaya. Dengan kata lain nampaknya terdapat inkonsisten terhadap makna HAM dan toleransi, serta menunjukkan adanya upaya-upaya yang sengaja dilakukan untuk meng-kriminaslisasi simbol-simbol Islam, sehingga memunculkan Islamophobia ditengah-tengah kehidupan kaum muslimin.

Terorisme-Radikalisme, Narasi Barat Menyerang Islam

Istilah terorisme dan radikalisme bukan lahir dari Islam, tapi lahir dari rahim barat. Dan tentu, Tak ada istilah yang bebas nilai, apalagi di dunia politik. Setiap frasa dipilih dengan seksama dan dengan pertimbangan yang matang untuk meraih tujuan-tujuan tertentu. Perang terhadap terorisme yang diusung oleh AS pasca peristiwa serangan 11 September 2001 di menara kembar WTC, New York, Amerika yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain di dunia yang bertujuan untuk menyerang dan membendung kebangkitan Islam, terbukti mandul menghentikan gerakan pemikiran Islam. Pasalnya, dakwah Islam memang anti terorisme dan tak pernah melakukan aksi teror, sehinga isu terorisme tampak tidak cocok jika disandingkan dengan aktivitas dakwah pemikiran. Dan Hal ini memaksa para pembenci Islam untuk kembali memutar otak, mencari senjatabaruuntuk menghancurkan islam, hingga muncul istilah baru bernama radikalisme yang cukup memanas pada tahun 2017 silam.

Radikalisme berasal dari kata radical atau radix yang yang dalam bahasa latin artinya akar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata radikal memiliki arti mendasar (sampai pada hal prinsip); sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-uang, pemerintah); maju dalam berpikir dan bertindak. Pasalnya, Istilah radikal sendiri bersifat netral tidak condong pada sesuatu yang positif atau negatif.Sayangnya, kini istilah radikal menjadi kata-kata politik (poliyic word) yang cenderung multitafsir, bias, dan sering digunakan sebagai alat penyesatan atau stigma negatif lawan politik. Seperti penggunaan islam radikal yang sering dikaitkan dengan terorisme, bahkan radialisme dituduh sebagai pemicu terorisme.

Istilah radikal kemudian menjadi alat propaganda yang yang digunakan oleh AS dan Eropa untuk menyerang kelompok atau negara yang berseberang dengan ideologi dan kepentingan barat. Istilah radikalisme oleh barat kemudian digunakan untuk meyerang dan menghambat kebangkitan Islam. Barat melakukan monsterisasi bahwa Islam adalah paham radikal yang berbahaya, sehingga melahirkan islamophobia di barat dan seluruh dunia.

Inilah cara barat untuk melanggengkan hegemoni ideologi kapitalis sekuler. Program antiradikalisme atau deradikalisasi terus digulirkan dengan mengusung wacana moderasi agama hingga memunculkan istilah baru yakni Islam Moderat”, yang berbeda dengan Islam radikal yang keras dan fanatik. Islam moderat adalah Islam yang memunculkan wajah Islam yang damai, ramah, dan toleran terhadap ide dan penjajahan Barat. Ironinya, banyak kaum muslimin yang tertipu dengan proyek ini, bahkan ikut terlibat dalam berbagai program deradikalisasi dan menjadi corong tersebarnya Islam moderat yang megusung ide-ide barat, menafikkan penerapan syariah Islam secara kaffah dan formalisasi syariah oleh negara. Sebab tegakknya daulah Islam adalah ancaman terbesar bagi ideologi kapitalis di seluruh dunia.

Dengan demikian label radikal dan moderat adalah cara barat untuk menciptakan polarisasi di kalangan kaum muslim agar terpecah belah dan menghambat kebangkitan Islam. Sebab sejak dahulu para penjajah selalu tidak suka melihat persatuan dan kebangkitan umat. Terlebih kebangkitan Islam tentu akan menjadi bumerang bagi hegemoni mereka.

Islam Solusi, Bukan Ditakuti

Islam adalah agama yang memiliki aturan yang sempurna dan paripurna. Islam adalah solusi atas setiap problematika kehidupan. Sebagai seorang muslim sudah selayaknya untuk menjalankan dan menerapkan Islam dalam setiap lini kehidupan sebagai konsekuensi atas keimanannya. Dan saat ini kebangkitan Islam mulai nampak, kesadaran umat untuk kembali kepada syariat kian mencuat. Persatuan umat yang dulu utopis, kini telah nampak di depan mata.

Oleh karena itu, sudah bukan waktunya untuk phobia terhadap Islam pun syariat-syariatnya. Bukan saatnya kaum muslimin termakan dengan frasa dan isu-isu murahan yang sengaja dibuat oleh barat untuk melemahkan dan menjegal kebangkitan Islam. Saatnya kembali kepada identitas sebagai muslim, dan bangga dengan ke-Islamannya. Dan bersatu untuk mewujudkan syariah Islam di setiap lini kehidupan.[]

@infomuslimahjember ||#infomuslimahjember

#IslamPolitik || #JemberLebihBaik

0 Comments

Posting Komentar