Darurat, Kota Santri Teracuni L6BT



[KAMPANYE]
Darurat, Kota Santri Teracuni L6BT

Oleh: Umi Nafilah, S.Pd*)

Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (L6BT) menjamur dan menyebar bak virus di Bumi pertiwi, Indonesia. Pada tahun 2012 saja Data Kementerian menunjukkan bahwa terdapat 1.095.970 Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) alias Gay yang mencapai 3 persen dari penduduk Indonesia. Mencengangkan, belum yang tidak diketahui, itu artinya jumlah gay tahun ini jauh lebih banyak lagi.

kaum sodom awal sejarah sejak pada zaman Nabi Luth, kemudian merambah ke Romawi dan Yunani, merambah pula ke Kerajaan Inggris, terbukti pada tahun 1533 M parlemen Inggris mengeluarkan undang-undang yang dikenal dengan Act Of 25 Henry VIII yang memberikan hukuman gantung kepada pasangan homoseksual dan pasangan heteroseksual yang melakukan persetubuhan melalui dubur.

Gerakan kaum sodom modern muncul pada awal abad ke-20. Setelah Perang Dunia ke-2, berbagai gerakan kaum sodom pun bermunculan diberbagai negara di Barat yang dikenal dengan homophile movement. Cara penyebarannya, mereka menggunakan media ilmiah seperti diskusi-diskusi dalam bidang medis, konferensi-konferensi, maupun membuat komunitas-komunitas yang bisa memayungi kaum sodom. Komunitas atau kelompok tersebut memiliki cabang di berbagai negara, diantaranya adalah Scientific-Humanitarian League atau World Legue For Sexual Reform yang memiliki keanggotaan internasional.

Komunitas-komunitas semacam itu terus bertambah dan meluas, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan di Indonesia pada 13-14 Juni 2013, tepat di Nusa Dua, Bali menyelenggarakan Dialog Komunitas L6BT Nasional Indonesia, dengan tema “Hidup Sebagai L6BT di Asia”. Dialog menghadirkan 71 peserta dari 49 lembaga yang mewakili keseluruhan keragaman organisasi L6BT di Indonesia, di samping wakil-wakil pemerintah pusat, lembaga hak asasi nasional, lembaga donor, perguruan tinggi, lembaga non pemerintah untuk hak asasi manusia, organisasi bantuan hukum dan organisasi masyarakat madani, serta beberapa tokoh agama, yang diselenggarakan oleh United Nations Development Programme (UNDP) bersama United States Agency for International Development (USAID) sebagai mitra kerja. Dialog tersebut diadakan setelah agenda sebelumnya, yaitu ‘Being LGBT in Asia: A Participatory Review and Analysis of the Legal and Social Environment for Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (L6BT) Persons and Civil Society’ (Hidup Sebagai L6BT di Asia: Tinjauan dan Analisa Partisipatif tentang Lingkungan Hukum dan Sosial bagi Orang dan Masyarakat Madani Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (L6BT)). 'Being LGBT in Asia' yang diluncurkan pada Hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember 2012, merupakan upaya pembelajaran yang pertama-kali setingkat Asia, yang dilakukan bersama organisasi-organisasi akar rumput dan para pimpinan komunitas L6BT di Asia, dengan didampingi UNDP dan USAID. Dengan fokus di delapan negara prioritas, yaitu Cina, Filipina, Indonesia, Kamboja, Mongolia, Nepal, Thailand dan Vietnam.

Wajar jika Indonesia dibidik dalam penyebaran L6BT, karena data pada tahun 2012 saja, sekitar 1 juta lebih penduduk Indonesia menjadi bagiannya. Diantara bukti berhasilnya L6BT menyebar di negeri yang mayoritas muslim terbesar di dunia ini, Jember yang dijuluki kota santripun kena dampaknya, yaitu ditemukannya kasus pernikahan sesama jenis pada tahun 2017, Muhamad Fadholi (21) dan Ayu Puji Astuti alias Ahmad Adip (23) di Desa Pancakarya, kecamatan Ajung, Jember. Pada tahun yang sama, di kecamatan Semboro, Jember terdapat kasus pembunuhan oleh seorang waria (Viko) membunuh Andi karena kesal cintanya ditolak, bahkan di tahun yang sama pula, Jember dihebohkan dengan sebutan kampung kucing atau kampung para gigolo yang melayani hubungan seks sejenis dan lain jenis yang beroperasi di Kecamatan Jenggawah, Jember dan ditemukan data sekitar 1700 gay menyebar di Jember, belum termasuk yang tidak terdata dan masih banyak lagi fakta jember terkait L6BT menjadi deretan fakta yang mencengangkan di kota santri ini, sungguh miris Jember telah teracuni L6BT.

Jika kita cermati, banyak sekali bahaya L6BT, meskipun Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan homoseksualitas dari kategori penyakit, namun lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut mencatat bahwa kaum gay dan transgender memiliki resiko 20 kali lebih besar untuk tertular penyakit HIV-AIDS dibandingkan dengan mereka yang menjalin hubungan secara normal (dengan lawan jenis), tidak hanya itu, menurut Prof. DR. Abdul Hamid El-Qudah spesialis penyakit kelamin menular dan Aids di asosiasi kedokteran Islam dunia (FIMA) dalam bukunya Kaum Luth Masa Kini bahwa 78% pelaku homoseksual terjangkit penyakit kelamin, dan masih banyak dampak buruk lainnya. Terbukti di Jember tiap tahunnya pengidap HIV/AIDS meningkat hingga pada tahun 2017 yang lalu sebanyak 3.186 penderita yang diantara penyebabnya yaitu hubungan homoseksual atau sesama jenis.

Jika kita telisik lebih dalam, salah satu hal yang membuat L6BT semakin menyebar karena negara tidak memiliki undang-undang yang tegas melarang penyakit penyimpangan perilaku ini. Walhasil dipelosok kota Jember pun akhirnya tidak memiliki aturan yang tegas pula dalam pelarangan kemaksiatan ini. Sekulerisme dan liberalisme tak lain biang dari terbuka kran lebar-lebar masuknya L6BT ke Indonesia hingga sampai ke pelosok-pelosok daerah.

Pertanyaannya adalah, akankah kita berdiam diri? relakah kita jika generasi pelanjut estafet negeri berpenyakit L6BT? Masihkah liberalisme sekulerisme dipertahankan untuk generasi? Tidakkah kita menyadari bahwa Islam adalah solusi hakiki negeri ini? karena Islam tidak hanya sebagai agama, namun juga sebagai pengatur kehidupan manusia, baik muslim maupun non muslim, karena Islam adalah rahmatan lil aalamiin, Rahmat bagi seluruh Alam. Allahu’alam bi showab... []

*Pengajar, Admin FP Info Muslimah Jember

@infomuslimahjember ||#infomuslimahjember

#IslamPolitik || #JemberLebihBaik

0 Comments

Posting Komentar