HIV Meradang di Kota Seribu Pesantren



[KAMPANYE]
HIV Meradang di Kota Seribu Pesantren
Oleh: Aisyah Qusnul Khotimah*)

Jember seringkali disebut sebagai kota santri atau seribu pesantren. Jumlah pesantren serta santri di kabupaten Jember memang tidaklah sedikit, begitupun jumlah tokoh agamanya. Namun di tengah kondisi ini, Jember juga dilanda duka dengan berbagai macam permasalahan masyarakat yang terjadi. Salah satu permasalahan yang dari hari ke hari tak kunjung usai yakni marakknya kasus HIV/AIDS.

Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyebar melalui cairan tubuh tertentu yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Seiring berjalannya waktu, HIV dapat menghancurkan begitu banyak sel-sel imun sehingga tubuh tidak dapat melawan infeksi dan penyakit. HIV tidak dapat diobati. Sedangkan Acquired Immune Deficiency Syndrome atau AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi HIV. Akibat menurunnya kekebalan tubuh maka orang tersebut sangat mudah terkena berbagai infeksi (infeksi oportunistik) yang sering berakibat fatal.

Kasus HIV/AIDS di Jember dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. dari hasil pendataan KPA tiap tahunnya penderita HIV terus mengalami peningkatan. Tahun 2014 terdapat 1.640 penderita, 2015 meningkat menjadi 2.309 penderita, 2016 meningkat menjadi 2.809 penderita, dan ditahun 2017 menjadi 3.186 penderita HIV. Penyebarannya merata di hampir 31 kecamatan dengan Kecamatan Puger , Kecamatan Kencong , dan Kecamatan Gumukmas sebagai urutan tiga tertinggi penyebarannya. Penelitian KPA memparkan bahwa di Kecamatan Puger masih banyak beroperasi prostitusi dan kegiatan seks bebas, baik secara terang - terangan maupun tersebunyi. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu besarnya jumlah penderita HIV/AIDS kecamatan tersebut.

Ironisnya, potensi penyakit menular terus datang dari pasangan homoseksual, termasuk yang masih muda, yakni umur 17 tahun sampai 20 tahun. Artinya, diantara mereka masih ada yang berstatus sebagai pelajar. HIV/AIDS ini disebabkan salah satunya karena mereka sering bergonta-ganti pasangan. Selain homoseksual, potensi tertinggi tertular HIV/AIDS masih tetap dialami oleh Ibu Rumah Tangga (IRT). Bahkan wanita tuna susila (WTS) tidak mengalami kenaikan jumlah penderita dengan angka yang cukup tinggi. Begitu juga dengan kalangan waria, meskipun tidak mengalami peningkatan yang signifikan (Jawapos, 03/12/2018).

Kasus HIV/AIDS ini pun ternyata bukan hanya terjadi di Jember, namun hampir merata di seluruh Indonesia. DKI Jakarta dengan 48.502 orang, disusul oleh Jawa Timur 35.168 orang, Papua 27.052 orang, Jawa Barat 26.066 orang, Jawa Tengah 19,272 orang, serta Bali 15.873 orang (kompas.com).

Infeksi HIV/AIDS ini pertama kali ditemukan di kalangan gay San Fransisco, tahun 1978. Sejak itu, HIV/AIDS menyebar cepat di seluruh Amerika dan meluas ke seluruh dunia hingga hari ini. UNAIDS menyatakan bahwa HIV adalah epidemi mematikan dan terburuk yang pernah dihadapi manusia. Betapa tidak, setiap menit 4 orang berusia 15-24 tahun di dunia terinfeksi HIV. Data UNAIDS menunjukkan bahwa sejak 5 Juni 1981, HIV membunuh lebih dari 25 juta manusia. Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat bahwa hingga Desember 2006, di dunia, terdapat 39,5 juta penderita HIV/AIDS. 37,2 juta diantaranya adalah remaja, 2,3 juta usia kurang dari 15 tahun.

Upaya Penanggulangan

Melihat ancaman berbahaya HIV/AIDS ini, pemerintah telah melalukan berbagai upaya untuk menanggulangi masalah ini. Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia secara umum mengadopsi strategi yang digunakan oleh UNAIDS dan WHO. Kedua lembaga internasional ini menetapkan beberapa langkah penanggulangan HIV/AIDS, antara lain: kondomisasi, subsitusi metadon dan jarum suntik steril. Upaya penanggulangan HIV/AIDS versi UNAIDS ini telah menjadi kebijakan nasional yang berada di bawah Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Targetnya, tahun 2030 mendatang Indonesia zero dari kasus HIV, tak ada lagi yang meninggal akibat AIDS dan tak ada lagi stigma buruk maupun diskriminasi terhadap ODHA (orang-orang yang telah mengidap HIV/AIDS).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun mengklaim telah melakukan banyak upaya untuk mencegah dan mengendalikan HIV/AIDS di Indonesia. Dalam 15 tahun terakhir,
Kemenkes menerbitkan produk hukum berupa peraturan menteri kesehatan (permenkes) sebagai payung hukum untuk mendukung pelaksanaan program. Kemudian penyediaan layanan kesehatan untuk melakukan tes HIV dan pemberian perawatan dan pengobatan anti retroviral (ARV), baik di rumah sakit (RS) maupun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Pada 2015, Kemenkes juga telah memiliki layanan komprehensif berkelanjutan (LKB). Pemerintah pun telah memberikan pelatihan bagi petugas kesehatan. Juga penyediaan tes HIV, obat ARV disubsidi penuh oleh pemerintah, mesin dan reagen untuk monitoring pengobatan, serta penyediaan obat untuk infeksi oportunistik.

Adapun kebijakan baru dalam upaya pencegahan dari ibu ke anak adalah eliminasi penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B yang dikenal triple eliminasi yang diatur dalam permenkes no 52 tahun 2017. Menurut Kemenkes, kebijakan ini bertujuan agar bayi yang dilahirkan sehat dan terbebas dari ketiga penyakit tersebut. Dengan kebijakan ini, semua ibu hamil dilakukan tes HIV, sifilis, dan hepatitis B pada saat melakukan pemeriksaan kehamilannya. Semakin dini diketahui status ketiga penyakit tersebut, kata dia, semakin cepat ibu hamil mendapatkan pengobatan sehingga penularan kepada bayinya dapat dicegah. Selain itu, Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat untuk berani mengurangi penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan mengecek status HIV-nya.

Berbagai upaya diatas telah dilakukan untuk menangani masalah HIV/AIDS di negeri ini selama bertahun-tahun dengan dana yang tentu tidak sedikit. Namun fakta di lapangan tak menunjukkan perubahan, justru semakin pesat grafik peningkatan kasus dan penderita HIV/AIDS di seluruh penjuru negeri ini. Hal ini menunjukkan bahwa memang ada yang salah dalam penanganan masalah yang sejak dulu mengancam eksistensi manusia ini.

Akar Masalah HIV/AIDS

Penularan HIV ini terutama terdapat di dalam darah, air mani, dan cairan vagina, cairan preseminal, air susu ibu. Jika dikaitkan dengan berbagai uraian fakta yang terjadi sebelumnya, dapat dilihat bahwa seks bebas jelas telah menjadi sumber pertama dan utama penularan HIV/AIDS. Dalam laporan survey CDC Desember 2002 membenarkan bahwa ada peranan seks bebas dalam penularan HIV/AIDS. Hal ini juga semakin jelas terlihat dari pola penularan HIV/AIDS ke seluruh dunia.
Terlebih, terdapat banyak lokalisasi legal maupun ilegal di negeri ini. Sungguh merupakan hal yang sangat sia-sia jika segala macam upaya dan besarnya dana, namun tak menyentuh akar persoalan, yakni menjamurnya seks bebas yang sengaja dibiarkan dan dipelihara oleh negara. Di sisi lain, sejauh ini semua solusi dan upaya pemerintah dan dunia tersebut terbukti tak mampu menurunkan besarnya angka HIV/AIDS.

Akar persoalan penyebaran HIV/AIDS adalah seks bebas yang sudah menjadi budaya dan gaya hidup di tengah-tengah masyarakat. Budaya maksiat ini terlahir dari paham liberalisme. Suatu paham yang menjadikan kebebasan individu sebagai hal yang diagung-agungkan, atas nama hak asasi manusia. Ketika terbukti bahwa seks bebas adalah sumber penularan HIV/AIDS yang sangat cepat, dan upaya penanggulangan yang dilakukan ini justru menfasilitasi perilaku seks bebas, maka tidaklah mungkin mampu menyolusi permasalahan yang masih belum berujung di negeri mayoritas muslim ini.

Solusi Paripurna Problem HIV/AIDS
Sesunghunya solusi paripurna HIV/AIDS bukanlah dengan mengadopsi kebijakan-kebijakan internasional yang bersandar pada prinsip sekularisme. Solusi paripurna hanya ada dalam Islam. Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna yang datang dari Pencipta.

Islam melarang perbuatan zina, homoseks, yang menjadi pintu penularan HIV/AIDS. Seperangkat sistem dalam Islam mencegah terjerumusnya manusia dalam perbuatan keji itu. Melalui penerapan sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam dan lainnya. Hukuman yang sangat berat bagi pelaku zina dan homoseks mencegah orang terjerumus. Jika ada yang tertular bukan karena perbuatan keji atau kemaksiyatan, maka negara dalam Islam akan memberikan pengobatan dan perlindungan maksimal.Wallahu’alam. []

*aktivis mahasiswi,enterpreneur

@infomuslimahjember ||#infomuslimahjember

#IslamPolitik || #JemberLebihBaik

#HIV #Jember

0 Comments

Posting Komentar