Islam Moderat, Amunisi Penjajahan Barat



[KAMPANYE]
Islam Moderat, Amunisi Penjajahan Barat

Oleh : Dwi Aida Rachmawati
(Mahasiswi Sastra Inggris–FIB, UNEJ dan Pemerhati Generasi)

Hari ini, Islam telah mempunyai banyak istilah sesuai dengan si pemberi istilah itu sendiri yang di sesuaikan dengan kondisi sekitar dan diwujudkan untuk memenuhi kepentingannya. Istilah yang lagi in adalah Islam moderat atau dalam bahasa arab disebut Islam wasathiyah ala Indonesia guna mencapai persatuan diatas perpecahan. Istilah moderat sendiri menurut KBBI berarti 1) selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem; 2) berkecenderungan kearah dimensi atau jalan tengah. Kesimpulan dari kedua penjabaran tersebut ialah suatu tindakan anti–ekstrem yang dihasilkan dari jalan tengah (tidak berpihak pada jalur kanan atau kiri).

Penggaung Islam moderat biasanya mendeskripsikan secara gamblang ide yang khas dari istilah tersebut yaitu, Islam sebagai agama yang terbuka, toleran, damai, dan tidak radikal. Sehingga audience menganggap bahwa Islam moderat pasti rahmatan lil a’llamin. Jika kita mau berfikir kritis, ide tersebut malah bersifat absurd karna bertolakbelakang dengan hakikat beragama Islam yaitu, patuh terhadap segala perintah dan menjauhi segala larangan dari Allah.

Terlebih, sudah jelas bahwa konsep jalan tengah merupakan taktik barat untuk memisahkan agama dari kehidupan di berbagai lini. Mulanya, konsep ini muncul pada saat momentum “Renaissance” (zaman pencerahan) terjadi di Eropa. Konsep jalan pintas atau jalan tengah disepakati oleh kaum para cendikiawan dan gerejawan, karena mereka menganggap bahwa doktrin agama sangat merugikan manusia. Celakanya, jalan tengah tersebut menghasilkan konsep sekulerisme yaitu paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama.(KBBI). Hal ini sangat mendukung statement Lord Curzon selaku mantan menteri luar negeri Inggris yang mengabarkan bahwa “Keadaan sekarang adalah bahwa Turki telah dihancurkan dan tidak akan bangkit kembali, karena kita telah menghancurkan jantung kekuatan moralnya: Khilafah dan Islam. (1859 - 1925).

Tak hanya itu, seorang mata–mata Belanda yang pura–pura masuk Islam, Christian Snouk Hurgronje telah merencanakan strategi untuk memisahkan masalah ibadah ritual, muamalah, dan politik. “Bila tidak dapat menjadikan umat Islam meninggalkan agama Islam, maka yang penting bagaimana umat Islam tidak menerapkan syariat Islam.” Christian Snouk Hurgronje (1857–1936). Tak kehabisan cara, Diapun sampai membuat strategi jitu khusus untuk Indonesia, negara mayoritas muslim. Strategi itu adalah 1) Pemisahan Islam Politik (Islam hanya Ibadah dan Ritual Keagamaan). 2) Pemberian gelar haji untuk mengontrol pemberontakan. 3) Politik “asosiasi” : membangun kader lokal berjiwa pendidikan barat. 4) Kriminalisasi: Merusak peran ulama dan dekontruksi image dari ulama dan syariat. 5) Deislamisasi Sejarah Nusantara sebagai bagian dari strategi Reconquista. 6) “Theorie Receptie” : mengutamakan hukum adat diatas syariat. (deerham.com, 31/1/17)

Ironisnya, kaum muslimin lupa bahwa agama yang di maksud kaum Renaissance adalah agama Kristen dan lupa bahwa agama Islam pernah berjaya 1300 tahun lamanya. Kaum muslimin juga lupa bahwa Yahudi dan Nasrani tidak rela jika Islam berjaya lagi sebelum kaum muslimin mengikuti millah mereka. Akibatnya, saat ini banyak sekali permasalahan dunia yang tidak sesuai dengan syariat Islam terutama di negara mayoritas Islam. Karena, kaum muslimin sekarang menganggap semua agama adalah sama. Sama–sama akan berbahaya jika diterapkan di setiap lini kehidupan, terutama agamanya kita yaitu, Islam. Padahal, Allah telah mengabarkan bahwa Allah hanya menyediakan dua jalan yang harus di pilih salah satu, bukan jalan tengah tapi jalan kebaikan. Allah .SWT. berfirman di surah Al-Balad [90] ayat 10:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ ﴿١٠﴾

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (jalan kebaikan dan keburukan).”

Tentulah kaum muslimin harus memilih jalan kebaikan.

Lalu, masihkah kita terhipnotis perang istilah yang diluncurkan barat kepada kita? Padahal jelas bahwa Islam moderat adalah alat penjajahan paradigma dari barat terhadap syariat Islam. Sudah saatnya kita kembali menerapkan agama sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW dan jangan lagi mengokohkan penjajahan barat dengan paradigma absurd.
Wallahu a’llam bishawab.

@infomuslimahjember || #infomuslimahjember

#kampanye #IslamPolitik #JemberLebihBaik

0 Comments

Posting Komentar