JEMBER KOTA KARNAVAL?



[KAMPANYE]
JEMBER KOTA KARNAVAL?

Oleh: Faiqotul Himmah*)

“Kalo lo lagi nyasar, trus lo nemuin bule sama rakyat rame-rame nonton karnaval, lo ada di Jember!”

Kira-kira begitulah bunyi salah satu poster yang saya temukan di salah satu halaman facebook komunitas yang mewadahi warga Jember. Ya, beberapa tahun ini Jember “mendadak” terkenal bukan hanya di seantero nusantara namun di berbagai belahan dunia. JFC yang diselenggarakan rutin tiap tahun-lah yang membuat Jember tak lagi dianggap kota kecil yang tak punya potensi.

JFC, singkatan dari Jember Fashion Carnival, parade busana sepanjang 3,6 km yang digagas oleh Dynand Fariz, desainer kelahiran Jember. JFC mengawali tahun pertama sampai ke sembilan secara mandiri tanpa sokongan sponsor dari swasta atau pemerintah. Di tahun ke-14 kali ini, JFC telah tampil dengan sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya. Serangkaian acara selama empat hari digelar, melibatkan 2000 peserta, 3711 fotografer dan lebih dari 6000 penonton. Beberapa tahun ini, JFC mulai sering muncul di layar kaca, mengiringi event-event besar skala nasional – regional. Karnaval ala JFC pun mulai bermunculan di pelosok-pelosok Jember. Bukan hanya itu, beberapa daerah mulai mengimitasi.

Tak hanya untuk JFC, Dyannd Fariz (Pesiden & Creator JFC) juga membuat Indonesia memenangkan berbagai ajang internasional untuk kategori kostum nasional terbaik. Salah satunya adalah kostum Chronicle of Borobudur yang dikenakan oleh Elvira Devinamira dalam ajang kontes Miss Universe ke-63 di Miami, Amerika Serikat, pada 21 Januari lalu. JFC seolah bukan lagi milik Jember semata, namun milik Indonesia. Inilah yang dicita-citakan Dynand Fariz.

“Mimpi besar saya ingin memeluk dunia. Membawa nama kota kelahiran saya jadi perhatian dunia dan jadi tujuan wisata dunia. Indonesia ke depannya bisa menjadi pusat karnaval dunia, kita harus jadi nomor satu,” pungkasnya. (wolipop.com,29/8)

Pusat Karnaval Dunia

Dalam “Carnaval Conference” yang bertema “Dari Kota Kecil Menjadi Kota Karnaval Dunia”, Dynand Fariz mengungkapkan bahwa Jember dulu adalah kota kecil yang kurang dikenal, namun kini dicatat sebagai kota Carnival ke-4 dunia. (www.antaranews.com, 27/8/2015)

Karnaval hakikatnya bukan budaya asli nusantara. Karnaval adalah warisan budaya Romawi yang diteruskan oleh Barat dan ditiru Indonesia. Karnaval berasal dari bahasa latin “carnevale” yang artinya meniadakan menu daging. Itu menandai periode pra paskah di mana sesuai dengan tradisi agama Kristen, menu daging dilarang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karnaval adalah pawai dalam rangka pesta perayaan. Sementara menurut Hermia Andreyani, pendiri sekolah fashion pertama di Malang, menyatakan bahwa karnaval biasanya melibatkan perayaan publik atau parade, yang menggabungkan beberapa elemen dari topeng, sirkus, dan parade jalanan. Kostum karnaval terlihat lebih meriah dan memiliki banyak aksesoris tambahan (merdeka.com, 8/10/12). Dalam perkembangannya, karanval tidak lagi diadakan untuk menandai pra paskah saja, namun berkembang menjadi tradisi perayaan momen tertentu di sebuah wilayah/negeri. Bahkan, kini kita mengenal karnaval fashion. Kita pun mengenal Paris, Milan dan Rio de Jenairo sebagai kota karnaval fashion dunia. Dynand Fariz pun mengakui bahwa di kota Paris-lah gagasan untk menjadikan Jember sebagai kota mode terbentuk.

Pada kenyataannya saat ini, karnaval fashion sangat kental dengan nilai kebebasan berekspresi. Busana dan kreativitas seni yang ditampilkan dekat dengan budaya buka-bukaan yang diadopsi Barat. Karnaval di Rio de Jenairo misalnya, ngeri. Sebagai budaya yang tumbuh dalam sistem hidup kapitalistik, karnaval dijadikan salah satu komoditas untuk meraup keuntungan materi tanpa memperhatikan dampak sosial ataupun lingkungan bagi masyarakat. Karenanya wajar jika pengelola didukung oleh penguasa akan melakukan berbagai cara untuk menarik wisatawan asing dan domestik, demi meraup devisa sebanyak-banyaknya.

Demikian pula di Jember, tak tanggung-tanggung Pemkab menggelontorkan satu milyar rupiah untuk JFC tahun ini. Memang, semenjak boomingnya JFC usaha perhotelan dan restoran di Jember terus tumbuh. Januari lalu PHRI (Pesatuan Hotel dan Restaoran Indonesia) Jember sampai meminta pemerintah kabupaten menghentikan dulu ijin mendirikan hotel baru. Wisatawan asing yang masuk ke Jember kali ini juga lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Padahal, tidak dapat dipungkiri perlahan tapi pasti, masuknya wisatawan asing akan membawa serta budaya mereka. Hal ini sangat menonjol di tempat-tempat yang banyak didatangi wisatawan asing. Hotel-hotel atau penginapan yang tadinya tidak pernah menyediakan minuman keras akhirnya menjual minuman keras di hotel atau penginapannya untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan asing. Hiburan-hiburan khas Barat muncul; karaoke, bar-bar, ataupun hiburan malam lainnya. Begitupun di Jember, restoran, kafe, tempat-tempat hiburan mulai menjamur.

Tidak hanya itu, gaya berpakaian pun yang tadinya dianggap ‘meresahkan’ akhirnya menjadi biasa. Berpakaian serba minim di tempat umum semacam supermarket –bahkan jalanan kampus- menjadi pemandangan sehari-hari. Bahkan kami khawatir, budaya seks bebas atau penyimpangan seksual –sesama jenis- pun menjadi biasa. Padahal kondisi generasi muda di Jember sangat memprihatinkan. Meski tidak ada penelitian resmi, namun banyak kalangan mengakui remaja Jember banyak yang melakukan seks bebas. Ini setidaknya tercermin dalam hangatnya perbincangan mengenai tes keperawanan sebagai syarat lulus sekolah beberapa waktu lalu. Data mengenai HIV/AIDS menunjukkan bahwa Jember menduduki peringkat ke-3 teringgi se-Jawa Timur dan 26 di antara yang positif AIDS adalah remaja.

Demam JFC yang menjangkiti masyarakat membuat karnaval-karnaval semacam itu bermunculan. Bahkan hampir tiap kecamatan punya karnaval ala JFC. Sebutlah Kalisat Fashion Carnival dan lainnya. Orientasi generasi –bahkan masyarakat- menjadi tertuju pada fashion. Dukungan pemkab dengan meliburkan sekolah atau memulangkan muridnya lebih awal selama perhelatan JFC mengamini hal ini. Karnaval fashion lebih penting daripada pendidikan.

Jember Kota Karnaval atau Kota Santri?

Menarik laporan Pemkab Jember tahun lalu tentang pertumbuhan pariwisata Jember yang sangat dipengaruhi fanatisme masyarakat terhadap ajaran agama dan tokoh agama. Pariwisata Jember tidak bisa berkembang pesat seperti di kota-kota besar karena masyarakat tidak menghendaki adanya bar-bar atau kafe yang menyediakan miras. (jemberpos.com)

Laporan itu sejatinya masih menegaskan Jember sebagai kota religius berbasis pesantren. Inilah potensi Jember yang mesti dikembangkan. Di samping potensi wisata alam. Jika karnaval dimaknai sebagai hiburan atau wisata, Islam sejatinya tidak mengharamkan hiburan ataupun wisata. Islam tidak mengharamkan hiburan atau permainan asalkan tidak menyalahi hukum syara’ dan sekedarnya saja, tidak terus menerus, bersifat sementara saja – ‘sa’atan wa sa’atan’. Handhalah bertanya tentang hal ini kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasul bersabda : “Demi Dzat yang diriku ada dlam kekuasaanNya. Sesungguhnya andaikan kamu disiplin terhadap apa yang kamu dengar ketika bersama aku dan juga tekun dalam dzikir , niscaya malaikat akan bersamamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalanmu. Tetapi hai Handhalah ‘sa’atan wa sa’atan’ (sekedarnya saja)” (HR Muslim)

Pemahaman wisata dalam Islam adalah melakukan perjalanan untuk merenungi keindahan ciptaan Allah Ta’ala, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiabn hidup. Allah SWT berfirman:
‘Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’ (QS. Al-Ankabut: 20)

Demikianlah, telah sangat jelas bahwa ketika sebuah tempat menjadi tujuan wisata dunia, maka besar peluang masuknya wisatawan ke tempat tersebut. Dan selanjutnya pun akan bisa kita bayangkan, budaya asing dan gaya hidup mereka dengan mudah masuk ke tempat tersebut dan berpeluang besar mewarnai tempat tersebut. Sehingga tidak aneh jika hal-hal yang tadinya dianggap negativ oleh masyarakat setempat menjadi hal yang biasa. Buktinya sudah sangat jelas, di Bali misalnya, saat ini berpakaian ‘hampir telanjang’ sudah biasa nampak di jalan-jalan umum, minuman keras sudah menjadi hal yang biasa dan sebagainya.[]

*)Pimpinan Redaksi Info Muslimah Jember, dimuat di Radar Jember September 2015

@infomuslimahjember ||#infomuslimahjember

#IslamPolitik || #JemberLebihBaik

0 Comments

Posting Komentar