Sekularisme, Bawaan Genetik Islam Moderat


[KAMPANYE]
Sekularisme, Bawaan Genetik Islam Moderat

Oleh: Juanmartin

Bangkitnya kesadaran politik kaum muslimin akan kebobrokan sistem kapitalisme menjadikan barat khususnya AS merasa sangat perlu membelokkan kebangkitan kaum muslimin. Barat memahami betul bahwa Islam memiliki ciri khas pergolakan pemikiran. Di sisi lain, baratpun sangat faham dengan kemerosotan berpikir umat Islam.

Oleh barat, upaya pergerakan Islam yang coba membangkitkan pemikiran kaum muslimin ini di perhadapkan dengan pemikiran destruktif yang di ambil barat dari konsep Islam namun dengan interpretasi yang disesuaikan dengan kepentingan mereka.

RAND corporation sebagai salah satu Lembaga think tank AS sebagaimana yang ditulis Cheryl Benard, “Civil Democratic Islam”, mendeskripsikan salah satu program yang massif dilakukan AS untuk mencegah kebangkitan kaum muslimin adalah dengan melakukan pengelompokan umat islam pada kutub islam radikal/fundamentalis/garis keras, islam moderat/islam damai/washatiyyah, Islam tradisionalis (di Indonesia bahkan muncul Islam nusantara). Masing-masing kelompok lalu dikontraskan satu sama lain.

Rand Corporation dalam Building Moderate Muslim Networks menjelaskan karakter Islam moderat adalah mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM (termasuk kesetaraan jender dan kebebasan beragama), menghormati sumber hukum yang non-sektarian dan menentang terorisme.

Sebaliknya islam radikal fundamentalis diasosiasikan pada sosok intoleran, cenderung radikal dalam konotasi memaksakan kehendak, brutal, memperjuangkan penerapan syari’at Islam secara kaffah melalui tegaknya Khilafah Islamiyyah, menolak demokrasi berikut derivatnya, termasuk anti barat.

Islam moderat ini selanjutnya dijajakan barat ke negeri-negeri kaum muslimin tak terkecuali Indonesia. Presiden Jokowi bahkan menunjukkan komitmen besar terhadap Islam moderat untuk mewujudkan Islam rahmatan lil ‘aalamin dengan wajah yang toleran.

Dalam pertemuan alim ulama Indonesia beberapa waktu lalu Jokowi menegaskan bahwa Islam moderat menjadi "Tuntunan untuk mewujudkan Islam yang wasathiyah, yang moderat, yang santun dan bukan Islam yang keras, bukan Islam yang radikal. Islam radikal bukan Islamnya Majelis Ulama Indonesia. Islam yang radikal bukan Islamnya bangsa Indonesia”. Presiden Jokowi bahkan bertekad menjadikan Indonesia sebagai rujukan, menjadi contoh, menjadi role model bagi negara lain dalam mewujudkan rahmatan lil ‘aalamiin melalui Islam moderat.

Islam rahmatan lil al-‘alamin dalam bingkai islam moderat ini juga dibenturkan dengan perjuangan menegakkan syariah dan khilafah. Melalui antek-anteknya dari kalangan liberal, barat menjelaskan bahwa prinsip moderat merupakan substansi dari ajaran Islam bahkan menjadi sifat utama ajaran Islam.

Mereka memanipulasi pengertian wasathiyah (moderisme/jalan tengah) sebagai sifat umat Islam. Pada tataran implementasi, Islam sebagai rahmat seluruh alam versi islam moderat ini justru menghalalkan ide pluralisme, mengamini sinkritisme yang justru memanipulasi syari’at islam itu sendiri.

Alhasil berbagai macam ajaran Islam di terjemahkan dengan mengikuti nilai-nilai sekularisme. Eljibiti dihalalkan, ucapan natal diperbolehkan, hijab di anggap budaya, cambuk dan potong tangan di anggap melanggar HAM, dll. Parahnya, ajaran Islam termasuk khilafah dan jihad di anggap mengancam keberagaman dan radikal serta jauh dari konsep rahmatan lil ‘aalamin. Pada akhirnya, konsep islam rahmatan lil ‘aalamin ini menjadi dalih untuk membungkam gerakan dakwah ideologis, mempersekusi pengemban dakwah termasuk para ulama pun di kriminalisasi.

Adalah satu kesalahan jika pejuang syariah dan khilafah di benturkan dengan rahmatan lil ‘aalamiin? Bagaimana mungkin perjuangan menegakkan syariah dan khilafah yang diperintahkan oleh syara’ dengan dalil-dalil yang qath’i lalu dikontraskan dengan ide Islam rahmatan lil alamin? Jelas tidak mungkin ada pertentangan di antara keduanya. Justru keduanya memiliki keterkaitan yang amat erat. Bahwa syariah dan khilafah yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta'ala akan mewujudkan rahmatan lil ‘alamin ketika ditegakkan. Dengan kata lain, rahmatan lil ‘alamin merupakan hikmah atas ditegakkannya syariah secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah.

Islam rahmatan lil’aalamin dalam gagasan islam moderat justru tak memiliki konsep yang tegas. Jika islam damai menurut islam moderat adalah jalan damai, maka pada dasarnya sekularisme adalah jalan tengah yang menjadi bawaan genetik konsep Islam moderat.[]

@infomuslimahjember || #infomuslimahjember

#kampanye #IslamPolitik #JemberLebihBaik

0 Comments

Posting Komentar