Selasa, 20 Februari 2018

World Class University: Pusaran Obsesi Untuk Kemajuan Semu


[KAMPANYE] 
World Class University: Pusaran Obsesi Untuk Kemajuan Semu

oleh: Fitri Firda Sari (Mahasiswi Universitas Jember)

Cita cita menjadi “World Class University” sepertinya bukan sekedar wacana dan isu sesaat saja bagi kampus-kampus di Jember. Sebut saja Universitas Jember dengan orientasinya menuju World Class University telah mengambil beberapa langkah konkrit dalam upaya untuk mewujudkan impian tersebut. Setelah UNEJ sukses menjalin kerjasama dengan negara negara maju di asia yaitu Korea Selatan, Jepang, Thailand dan Malaysia, saat ini kerjasama konkrit dengan universitas di negara negara maju dari benua lainnya seperti Eropa (http://humas.unej.ac.id/universitas-jember-melebarkan-sayap-kerjasama-ke-eropa/?lang=id). Bukan hanya UNEJ, POLITEKNIK Jemberpun punya cita-cita dan obsesi yang sama. Pencanangan kinerja prima dan go green campus adalah sebagai bentuk upaya menuju world class university (http://www.polije.ac.id/id/berita/139-pencanangan-kinerja-prima-dan-go-green-campus-upaya-menuju-world-class-university.html).

Senada dengan UNEJ maupun POLITEKNIK Jember, kampus di luar Jember juga menjadikan World Class University sebagai salah satu obsesinya. Sebagaimana akhir tahun 2014 lalu BAN-PT kerjasama dengan UIN Jakarta dan UIN Malang menyelenggarakan Konferensi Internasional dengan judul “Towards World Class Islamic Higher Education Institutions, Menuju Lembaga Pendidikan Tinggi Islam Kelas Dunia”.

Meningkatnya atmosfer kompetisi pada semua aspek adalah sebagai dampak dari adanya globalisasi. Di Indonesia sendiri, beragam program dan kebijakan telah dicanangkan sebagai upaya untuk menjadi pihak yang tak tertinggal dalam permainan globalisasi. Negara-negara berkembangpun seakan diharuskan untuk menyetarakan kualitas dirinya dengan negara-negara Barat. World Class University dinilai sebagai suatu keniscayaan yang harus digapai untuk dapat bertahan di lingkungan global.
Sebuah kampus dinilai berkelas dunia tentu memiliki kriteria-kriteria tertentu. Berbagai definisi dan indikatorpun disampaikan oleh beberapa pihak. Kusmastanto (2007) mengemukakan beberapa kriteria world class university, diantaranya adalah 40 persen tenaga pendidik bergelar Ph.D, publikasi internasional 2 paper per staf per tahun, jumlah mahasiswa pascasarjana 40 persen dari total populasi mahasiswa (student body), anggaran riset minimal US$ 1300 per staf per tahun, jumlah mahasiswa asing lebih dari 20 persen, dan Information Communication Technology (ICT) 10 KB per mahasiswa.

Levin, Jeong dan Ou (2006: 32) mengutip pendapat Ambrose King dari Chinese University of Hong Kong (dalam Mohrman, 2005), bahwa kampus berkelas internasional adalah kampus dengan fakultas yang secara tetap mempublikasikan penelitian mereka pada jurnal-jurnal yang diakui oleh disiplin keilmuan masing-masing, juga lulusannya dapat bekerja diseluruh penjuru dunia. Mereka juga mengutip Niland (2000) bahwa kampus kelas dunia dibangun di atas reputasi dan persepsi, yang seringkali subjektif dan tidak pasti. Selain itu juga terdapat banyak lagi pendapat yang ditelusuri oleh Levin, Jeong dan Ou yang intinya menunjukkan perbedaan pandangan dan definisi dari world class university tersebut (http://ardianumam.web.ugm.ac.id/?p=224).

Dibalik ragam perbedaan pandangan terkait definisi maupun indikator yang baku, WCU cukup membuat kampus-kampus dalam negeri heboh. Hiruk pikuk kampus dalam negeri demi kenaikan rangking menjadi sebuah kewajaran. Berlomba-lomba untuk mendapat peringkat atas sesuai dengan parameter yang telah dibuat oleh lembaga-lembaga seperti Times Higher Education Supplement (THES), meskipun adanya sistem perangkingan ini tidak lepas dari kritik. Adalah Ian Diamon, Direktur Eksekutif Economic and Social Research Council Inggris yang menyatakan, metode kutipan dengan basis data yang digunakan THES yang lebih banyak menjangkau ilmu-ilmu eksakta jelas tidak dapat menjangkau artikel-artikel ilmu-ilmu sosial humaniora. Padahal betapa banyak kampus yang concern di bidang sosial humaniora, termasuk kajian keagamaan dan keislaman.

Selain kritik metodologi, seharusnya yang perlu kita perhatikan adalah bahwa gaduhnya kampus dalam negeri terkait WCU semakin menunjukkan betapa pendidikan tinggi Indonesia masih sangat miskin visi untuk memajukan peradaban sendiri. Mereka bergantung pada standar-standar kemajuan semu ala barat demi dapat bertahan di lingkungan global dan melanggengkan hegemoni kapitalis. Demi WCU akademisi dikejar target banyaknya publikasi internasional, kelas internasional, proporsi mahasiswa asing dll. Padahal yang harus dicemaskan adalah dengan luasnya kerjasama internasional akan mempermudah para pemilik modal untuk emndapatkan hasil penelitian strategis dengan biaya yang relatif kecil. Hanya dengan memberikan dana penelitian sekadarnya kepada civitas akademika para pemodal akan dapat secara leluasa mengakses hasil penelitian tersebut. Selain itu, parameter WCU selanjutnya adalah kemampuan lulusan untuk bersaing dan terserap dalam bursa tenaga kerja global. Hanya sebagai pekerja, dan ini sesuai dengan agenda kapitalis yang berkeinginan mendapat pekerja professional dengan upah yang murah.[]


@infomuslimahjember ||#infomuslimahjember

#IslamPolitik || #JemberLebihBaik

0 komentar:

Posting Komentar