Agar Anak Melakukan Ketaatan dengan Riang


[KELUARGA SAKINAH] 
Agar Anak Melakukan Ketaatan dengan Riang

Oleh: Wardah Abeedah
Anggota Revowriter dan Pemerhati Anak

“Nak, ayo sholat!”
“Dek, makannya dihabisin lah!”
“Sayang, kamarnya diberesin!”

Bagaimana respon anak kita ketika kita menginstruksikan kalimat-kalimat di atas pada anak-anak kita? Bisa jadi sebagian anak langsung melakukannya. Sebagian lagi, mungkin tanpa perlu disuruh sudah melakukannya dengan begitu mandiri. Sebagian yang lain mungkin menjawab, “Sebentar lagi, Bun”. Atau, “Aku capek”. Tak jarang mereka justru membentak lagi memberontak, “Kenapa sih, sholat terus?”, “Umi sukanya nyuruh-nyuruh terus”. “Nggak mau. Masakan Bunda nggak enak”.

Tentunya sebagai orangtua, yang kita impikan adalah anak melakukan ketaatan tanpa kita suruh, dengan ringan. Bahkan lebih dari itu, kita ingin mereka melakukan ketaatan dengan riang bahagia. Suka beribadah, hobi beramal shalih. Namun masalahnya, menjadikan anak-anak beramal shalih dengan riang tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh ilmu, butuh pula big effort.

Bunda dan ayah, berikut tips agar anak bisa melakukan ketaatan dengan ringan dan riang ada dua;

Pertama, munculkan rasa syukur di hati anak

Jika kita memiliki teman yang setiap hari tak pernah absen memberi makanan bagi kita ataupun keluarga kita, kira-kira ketika teman kita yang super baik itu membutuhkan bantuan kita, akankah kita acuhkan atau kita tolong? Pastinya jawabannya kita akan bersegera membantu. Kenapa? karena kita merasa berterimakasih atas budi baiknya selama ini. Begitu pula ketika kita menanamkan rasa terimakasih, rasa syukur di hati anak-anak kita pada Allah yang teramat luas rahmatNya. Maka mereka akan rela mengorbankan hidupnya untuk Allah.

Sering-seringlah mengajak anak mensyukuri setiap nikmat yang diperolehnya. Nikmat memiliki rumah di saat banyak tetangga atau teman belum memiliki tempat tinggal. Syukur atas rizki makanan yang terhidang di atas meja padahal di belahan dunia lain banyak yang kelaparan. Karunia kesehatan dan anggota tubuh yang sempurna, nikmat memiliki orangtua yang lengkap dan bisa mendidik dengan layak. Rasa syukur atas nikmat ilmu sehingga faham banyak hal, bisa membedakan baik dan buruk, terutama nikmat Islam yang menjadikan hidup kita mulia dan baik ketika taat.

Sebutkan banyak nikmat yang tak terhitung lainnya. Sesekali ajak anak menjenguk kerabat di Rumah Sakit. Tanyakan pada perawat berapa banyak tabung oksigen yang dibutuhkan untuk bernafas setiap harinya dan berapa rupiah yang dibutuhkan jika harus membayar oksigen yang kita hirup setiap harinya? Jangan lupa ajak anak ketika kita berinfaq ke tetangga yang yatim atau miskin. Ajak anak melihat kondisi mereka yang tak seberuntung kita. Atau ketika mengajak anak ke agrowisata, kenalkan bagaimana baiknya Allah yang telah menurunkan hujan yang menumbuhkan makanan tanpa harus kita siram setiap ahrinya, betapa baiknya Allah yang telah memeberikan khasiat pada setiap makanan yang bermanfaat untuk manusia. Kenalkan juga firman Allah,

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Ajarkan bahwa untuk mensyukuri nikmat tak cukup berkata Alhamdulillah. Namun juga wajib menjaga amanah rizki dan memanfaatkannya untuk beribadah pada Allah. Ketika mendorong anak untuk beribadah, kaitkan dengan rasa syukur atas nikmat sehat, atau nikmat memiliki rumah. Maka badan yang sehat dan rumah yang dimiliki sejatinya digunakan untuk beribadah pada Allah. Ketika anak malas bersih-bersih rumah, ajak mereka mensyukuri rezeki dari Allah berupa karunia rumah tempat kita berteduh dari panas dan hujan. Saat anak malas makan, seringlah mengulang-ulang menyebut nikmat Allah berupa makanan, berupa rahmat Allah yang meletakkan khasiat-khasiat menyehatkan pada makanan karena sifat penyayangnya pada manusia.

Kedua, dorong anak-anak beramal dengan dalil-dalil keutamaan amal

Saat akan mengajak anak untuk belajar dan membaca Alqur’an, sebutkan keutamaan-keutamaan belajar dan membaca Alquran. Saat menyuruh mereka shalat, seru mereka dengn motivasi dalil pahala shalat. Tentunya tantangannya disini adalah, orangtua harus belajar dan mengahafal dalil-dalil. Tapi bukankah memahami dalil-dalil tadi juga akan memotivasi kita sensiri untuk turut beribadah dengan ringan?

Terlebih dampak memotivasi anak menggunakan dalil Alquran dan As-Sunnah bukan sekedar agar anak beramal shalih dengan ringan, dampak positif lainnya buah hati kita akan menjadikan ‘Ridha Allah’ sebagai tujuan semua amal atau aktivitasnya.

Mengapa mendorong mereka dengan kalam Allah dan sabda Rasulullah menjadi efektif? Karena anak adalah manusia, makhluk ciptaan Allah. Allah telah mensetting akal dan hati manusia untuk menerima fitrah. Setiap manusia dibekali naluri beragama. Dimana ia merasa dirinya lemah dan ada Dzat Yang Maha Hebat, Maha Baik yang harus disembahnya dan ia wajib tunduk padaNya. Sedangkan firman Allah sendiri sudah bersifat menenangkan, menundukkan, dan menunjuki. Jangankan anak-anak difahamkan maknanya saat kita menyuruh mereka melaksanakan ketaatan. Bahkan ketika mendengar ayat-ayat suci dibacakan meski tak faham artinya saja, baik anak-anak atau orang dewasa sudah membuat hati kita tenang, naluri beragama kita ON dan siap diarahkan pada keinginan untuk tunduk dan berlari menuju ridha Allah.

Tentunya kedua tips ini harus kita lakukan dengan penuh kesabaran dan konsisten. Membentuk anak-anak menjadi shalih berbeda dengan membangun rumah. Hasilnya akan berefek panjang, maka prosesnya juga cukup panjang dan melelahkan. Apalagi mereka adalah makhluk kecil yang belum smpurna akalnya, makhluk hidup yang Allah karuniakan naluri. Mengajak senantiasa bersyukur dan motivasi dalil harus dilakukan berulang-ulang, agar menancap pada anak. Bagi anak usia tamyiz dan diatasnya (sekitar enam hingga sembilan tahun) masih sangat membutuhkan pendampingan orangtua. Karena di usia ini, mereka belum bisa mandiri.

Keistiqomahan mendampingi anak pada masa ini, akan terlihat hasilnya di usia pra baligh, ketika buah hati kita menginjak usia sepuluh tahun. Jika fase pendampingan sukses, in sya Allah pada masa ini kebiasaan beramal shalih tadi sudah terpola. Anak-anak akan beranap shalih tanpa perlu disuruh lagi, meski mungkin ada kalanya mereka lupa dan perlu kita ingatkan. Allahu a’lam bis shawab.[]


0 Comments

Posting Komentar