APA KABAR AYU?



[Suara Muslimah] 
APA KABAR AYU?

Oleh : Faiqotul Himmah*)

Masih ingat Ayu alias Saiful Bahri? Ya, pasangan sejenis yang menikah Juli 2017 lalu. Saiful Bahri, warga desa Pancakarya kecamatan Ajung dan Muhammad Fadholi, warga Panti, berhasil menikah secara resmi di KUA Ajung setelah memalsukan dokumen identitas. Mereka memutuskan menikah setelah menjalin asmara terlarang selama kurang lebih satu tahun.

Menurut pengakuan Fadholi ke media, awalnya Fadholi tidak tahu Ayu adalah laki-laki. Karena penampilan dan suaranya seperti wanita pada umumnya. Terlebih, Ayu nampak “sholihah” karena memakai kerudung. Hingga suatu saat, identitas Ayu terbongkar ketika Ayu melepas kerudungnya di depan Fadholi. Ternyata gadis yang dicintainya adalah lelaki tulen seperti dirinya! Apakah kisah mereka kandas? Rupanya tidak. Ayu mungkin terlalu memikat. Fadholi yang telah merasa nyaman berhubungan dengan Ayu bahkan nekad meneruskan hubungannya hingga ke pelaminan. 

Ibarat peribahasa, sepandai-pandai bangkai ditutupi, baunya tercium juga. Begitu juga dengan kisah Ayu dan Fadholi. Sepandai-pandainya mereka menutupi identitas asli Ayu, akhirnya tetangga sekitar tahu juga. Meskipun Ayu dan Fadholi berusaha menutupinya dengan rapi. Setiap bulan Fadholi tak lupa mengantar Ayu membeli pembalut di warung. Sesekali Ayu ikut sholat jama’ah di masjid, tentunya di shaf para wanita. Ayu pun sangat ringan tangan membantu tetangga yang sedang berhajat. Bahkan masakan Ayu terkenal enak. Namun tetangga mulai curiga ketika suara Ayu sering berubah.

Singkat cerita, kini Ayu dan Fadholi duduk sebagai terdakwa di meja hijau. Meski mereka mengaku telah melakukan analseks, namun bukan sebab itu mereka didakwa. Mereka disidangkan karena melanggar pasal 263 KUHP ayat 1. Yakni membuat surat palsu. Pelanggaran pemalsuan surat tersebut dapat dipidana penjara paling lama enam tahun. Namun, jaksa hanya menuntut mereka satu tahun. 

Analseks alias liwath yang mereka lakukan sama sekali tak bisa disentuh hukum. Mengapa? Karena dalam KUHP belum terdapat aturan mengenai itu. Padahal jelas, dalam pandangan Islam, liwath adalah dosa yang sungguh-sungguh besar!

Homoseks atau Liwath dalam Islam

Homoseksual atau liwath menurut sistem sanksi dalam Islam (Nizhamul Uqubat) termasuk dalam perkara had (hudud). Hudûd secara istilah adalah sanksi yang kadarnya telah ditetapkan oleh Allah bagi suatu tindak kemaksiyatan untuk mencegah pelanggaran pada kemaksiyatan yang sama. 

Alquran menyatakan liwath sebagai perbuatan keji. Allah Swt berfirman:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas." (QS al-A’râf [7]: 80-81)

Alquran juga menjelaskan bahwa Allah Swt memberi sanksi kepada mereka dengan khasf (dilempar batu hingga mati). Allah Swt. berfirman:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi." (QS Hûd [11]: 82)

Allah Swt mengisahkan hal itu kepada kita untuk mengingatkan kita. Sedangkan menurut Sunnah, telah diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin ‘Amru dan Nabi Saw bahwa beliau bersabda, “Terlaknatlah orang yang mengerjakan perbuatannya kaum Nabi Luth”. 

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang kalian dapatkan sedang melakukan perbuatannya kaum Nabi Luth, bunuhlah kedua pelakunya.” 

Karena itu diketahui sanksi liwâth (homoseksual) berbeda dengan sanksi zina. Sebab zina berbeda dengan liwâth. Fakta liwâth berbeda dengan fakta zina. Zina adalah masuknya kelamin laki-laki ke dalam farjinya perempuan, sedangkan liwâth adalah masuknya kelamin laki-laki ke dalam duburnya laki-laki. Masuknya kelamin ke farji berbeda dengan masuknya kelamin ke dubur. Oleh karena itu liwâth berbeda dengan zina.

Pembuktian liwâth adalah dengan adanya pengakuan, kesaksian dua orang saksi, atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Had liwâth dapat dijatuhkan dengan syarat, pelaku liwâth baik pelaku maupun yang dikumpulinya; baligh, berakal, karena inisiatif sendiri, dan ia terbukti telah melakukan liwâth dengan bukti syar’iyyah, yaitu, kesaksian dua orang laki-laki, atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seandainya pelaku liwâth adalah anak kecil, orang gila, atau dipaksa dengan pemaksaan yang sangat, maka ia tidak dijatuhi had liwâth.

Adakah Hukum Terbaik?

Begitu tegas larangan dan sanksi liwath dalam Islam, namun kini sanksi liwath masih diperdebatkan. Sebagai insan berakal, tinggal kini kita bertanya, adakah aturan terbaik selain yang Allah turunkan? Bukankah Allah adalah pencipta manusia dan alam semesta ini? Segala di dunia ini telah didesain begitu sempurna. 

Termasuk penciptaan manusia. Diciptakannya laki-laki dan wanita. Sebagai manusia, laki-laki dan wanita sama-sama memiliki sistem reproduksi, namun organ dan fungsinya berbeda. Diciptakannya pula naluri tertarik pada lawan jenis, sehingga organ reproduksi tadi bisa bekerja. Disyariatkannya pernikahan dengan bertaburan pahala. Dalam pernikahan itulah, manusia bisa memenuhi tuntutan nalurinya. Sehingga mereka memiliki keturunan dan tidak punah. Sampai hari (kiamat) yang dijanjikan-Nya. Dalam pernikahan yang merupakan cikal bakal sebuah keluarga itulah, manusia mendapatkan ketrentamannya.

Namun ketika aturan Allah dilabrak? Sebagaimana yang kita saksikan. Homoseksual telah melahirkan penyakit. HIV/AIDS, dulunya bernama GRID (gay related immune deficiency). Karena penyakit ini pertama kali menjangkiti kalangan gay era 80-an. Di Jember, LSL atau lelaki suka lelaki kini menjadi penyumbang terbesar ODHA, hampir menggeser posisi ODHA dari kalangan ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya. Ini berdasarkan penelitian dari Che-Pe Studies yang dimotori Dewi Rokmah, peneliti LGBT Jember.
Di Batam, ODHA tembus angka 8.161 dan mayoritas adalah gay, menyusul ibu rumah tangga lalu anak di bawah umur. Februari tahun lalu, 17 ODHA dari kalangan gay di Cianjur meninggal dan diperkirakan jumlahnya terus meningkat. 

Selain menimbulkan penyakit, homoseksual juga melahirkan kejahatan. Di Jember pada September 2017 lalu, seorang waria membunuh pasangan lelakinya karena menolak diajak berhubungan intim. Data lain menunjukkan 50 persen pembunuhan karena kasus LGBT berakhir dengan mutilasi. Dan di Amerika Serikat, 78,9 persen pembunuhan yang terjadi adalah karena kasus LGBT.

Jadi, masihkah kita akan terus-menerus melanggengkan aturan hidup buatan manusia? Aturan manusia yang terbukti menyuburkan kerusakan. Aturan manusia yang diekspor oleh Barat dan sekutunya ini telah mengajari kita untuk melawan agama. Menisbikan peran Allah dalam mengatur kehidupan ini. Buktinya? PBB justru menggelontorkan dana Rp 108 M untuk mendukung LGBT di Indonesia.

Padahal Allah, telah menurunkan syariah tidak lain sebagai solusi dan rahmat bagi seluruh alam semesta. “Dan tidaklah aku utus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam,” (QS. Al-Anbiya’ : 107).

Semoga Ayu dan lainnya menyesali perbuatannya dan kembali pada fitrahnya yang suci sebagai laki-laki. Wallahu a’lam.[]

*)blogger Jember, pernah nyantri di TmaI Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura

@infomuslimahjember #infomuslimahjember#jember

0 Comments

Posting Komentar