Aurat Kami Urusan Allah


/ Aurat Kami Urusan Allah /
Oleh: Nindira Aryudhani (Relawan Media dan Opini)
“Aurat gue bukan urusan elo!” Demikian pekik bangga yang belakangan ini kembali dilontarkan oleh kaum feminis. Slogan klasik, yang sejak dulu telah mereka gemakan. Berganti tahun, rupanya mereka konsisten mengemban slogan tersebut.
Bisa jadi, peristiwa ini terjadi karena telah diburukkannya wajah Islam dengan label radikalisme. Para muslimah yang taat menutup aurat sempurna pun jadi sasaran diskriminasi. Pakaian syar'i mereka, termasuk cadar, bahkan menjadi faktor kriminalisasi. Hingga tak heran, jika saat ini kaum feminis seperti mendapatkan ruang untuk mengotak-atik perkara aurat.
Feminis telah menyebarkan keraguan tentang makna menutup aurat. Di mana hukum menutup aurat yang diwajibkan dalam Islam, mereka anggap sebagai wujud pengekangan terhadap kebebasan berekspresi.
Di antara angin segar yang pasti bermanfaat bagi ide kaum feminis adalah kasus pelarangan pemakaian cadar bagi mahasiswi muslimah di kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, beberapa waktu yang lalu.
Padahal, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat An-Nuur [24] ayat 31;
“Katakanlah kepada perempuan yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putea suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan.”
Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan para muslimah untuk memelihara auratnya beserta pihak-pihak yang menjadi mahram bagi si muslimah tersebut. Karenanya, terdapat konsep aturan kehidupan khusus.
Aturan ini berupa mekanisme berinteraksi para anggota keluarga (meliputi orang tua, saudara yang sama jenis, saudara yang berlawanan jenis, saudara kandung, saudara angkat, termasuk asisten rumah tangga), secara khusus kepada perempuan yang menjadi anggota keluarga tersebut. Aspek yang harus diterapkan yaitu mengenalkan perbedaan aurat laki-laki dan perempuan, serta menerapkan tiga waktu aurat.
Lantas, jika kaum feminis berkata bahwa pamer aurat adalah hak mereka, maka apakah mereka pernah berpikir tentang kewajiban terhadap aurat tersebut? Rasanya tidak pernah. Karena mereka juga berslogan bahwa jika ada laki-laki yang terangsang dengan cara berpakaian mereka yang pamer aurat, maka laki-laki tersebut yang berotak ‘ngeres’.
Fakta menunjukkan, bahwa pada dasarnya keberadaan setiap laki-laki atau perempuan dapat membangkitkan naluri seksual pada lawan jenisnya, sehingga pada saat naluri itu terbangkitkan akan terjadi interaksi seksual di antara keduanya.
Namun demikian, bisa juga naluri ini tidak muncul ketika kedua lawan jenis itu berinteraksi, misalnya ketika melakukan jual-beli, pada saat melaksanakan operasi bedah pasien, atau pada proses belajar-mengajar, dan lain sebagainya. Hanya saja, pada keadaan-keadaan semacam ini atau keadaan lainnya, tetap ada potensi bangkitnya naluri seksual di antara masing-masing lawan jenis.
Adanya potensi tersebut memang tidak selalu akan membangkitkan naluri seksual secara pasti. Sebab, bangkitnya naluri seksual terjadi ketika ada perubahan pandangan pada diri kedua lawan jenis itu; dari pandangan untuk melestarikan keturunan menjadi pandangan yang bersifat seksual semata.
Namun, interaksi kedua lawan jenis tersebut tidak mungkin tercipta kecuali dengan suatu sistem yang mengatur interaksi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan umum demi menciptakan sebuah kerja sama tanpa keharaman sedikit pun.
Satu-satunya sistem yang dapat menjamin ketentraman hidup dan mampu mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan pengaturan yang benar hanyalah sistem pergaulan dalam Islam. Sistem ini mengatur hubungan lawan jenis antara laki-laki dan perempuan dengan peraturan yang rinci, dengan menjaga naluri ini agar hanya disalurkan dengan cara yang syar'i.
Islam telah mengatur kehidupan khusus dengan hukum-hukum tertentu yang dapat memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
Dengan itu, akan tercapailah tujuan dari penciptaan naluri tersebut pada manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta'ala. Caranya adalah dengan membatasi interaksi yang terjadi sesuai dengan maksud diadakannya hubungan tersebut. Pun dengan menjauhkan laki-laki dan perempuan dari interaksi yang mengarah pada hubungan lawan jenis atau hubungan yang bersifat seksual semata.
Jadi, dalam Islam memang tidak diperbolehkan adanya konsep kebebasan berekspresi. Karena dalam Islam, justru semua perbuatan harus ada aturannya.
Dalam kaitannya dengan aurat, hanya kepada mahramnya saja seorang muslimah boleh menampakkan bagian anggota tubuh tempat melekatnya perhiasannya, yang memang tidak dapat dihindari perlu ditampakkan dalam kehidupan khusus di dalam rumah.
Selain sesama kaum perempuan atau mahramnya, tidak boleh hidup bersama mereka. Oleh sebab itu, di tempat umum seorang perempuan tidak boleh menampakkan kepada mereka bagian anggota tubuh tempat melekatnya perhiasan, yaitu bagian-bagian tubuh yang biasa tampak dari seorang perempuan pada saat melakukan aktivitas di dalam rumah, selain wajah dan kedua telapak tangannya.
Jadi, kehidupan khusus dibatasi hanya untuk perempuan —tanpa dibedakan apakah Muslimah ataukah bukan Muslimah, karena semuanya adalah termasuk perempuan— dan para mahramnya. Ketentuan ini—yakni perempuan dilarang menampakkan anggota tubuh yang menjadi tempat perhiasannya terhadap laki-laki asing (nonmahram) tetapi tidak dilarang terhadap para mahram-nya— merupakan bukti yang jelas bahwa kehidupan khusus dibatasi hanya untuk para mahram saja.
Atas dasar ini, pemisahan kaum laki-laki dari kaum perempuan dalam kehidupan khusus adalah pemisahan yang total, kecuali dalam perkara-perkara yang dibolehkan oleh syariah.
Dalam kehidupan umum, hukum asalnya adalah terpisah dan tidak boleh ada interaksi antara laki-laki dan perempuan. Kecuali pada perkara-perkara yang telah dibolehkan syariah, di mana syariah telah membolehkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan suatu aktivitas untuk perempuan; serta pelaksanaannya menuntut adanya interaksi dengan laki-laki.
Jadi sekali lagi, jika kaum feminis begitu berani berkata “aurat gue bukan urusan elo”, berarti seharusnya boleh juga semua muslimah berani berkata “aurat kami bukan urusan Anda, karena aurat kami adalah urusan Allah subhanahu wa ta'ala.” Wallaahu a’lam bish showab [].

Sumber: Muslimah News ID 

@infomuslimahjember #infomuslimahjember #info

0 Comments

Posting Komentar