Dampak Pandangan Feminis Terhadap Peran Ibu


[KELUARGA SAKINAH]
Dampak Pandangan Feminis Terhadap Peran Ibu
Michael Gorbachev, Presiden Uni Sovyet waktu itu, pernah berkunjung ke Amerika Serikat. Istrinya, Raisa bersama Barbara, istri Presiden Amerika Serikat George Bush Sr. diundang berbicara di sebuah “universitas perempuan terkenal”. Ketika keduanya keduanya berbicara, sekelompok perempuan yang tergabung dalam Women’s Lib meneriakkan yel-yel, bahkan membawa poster, yang mencemooh karena mereka hanya menjadi ibu rumah tangga yang tidak mempunyai karir sendiri. Bahkan beberapa profesor perempuan menolak hadir karena merasa direndahkan bila mendengar pembicara perempuan yang hanya seorang ibu rumah tangga.
Demikian pendapat umum di kalangan feminis yang memandang posisi ibu rumah tangga begitu rendah.[i] Pandangan mereka itu didasari oleh asumsi bahwa perempuan yang berdaya adalah perempuan yang berperan di sektor publik, terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Sebaliknya, perempuan yang tidak berdaya adalah perempuan yang memfokuskan peran di sektor domestik (rumah tangga). Mereka dianggap tidak berdaya karena satu hal saja, yaitu tidak mampu menghasilkan sejumlah materi. Ketidakmampuan wanita dalam hal ini dianggap oleh feminis, akan membuka peluang pria untuk menindas wanita. Untuk itu, wanita pun harus juga bekerja sehingga memiliki kesetaraan dengan suami dalam hal mencari nafkah. Dengan cara itulah, menurut feminis, kesewenang-wenangan laki-laki (dalam hal ini suami) dapat dikendalikan dan pandangan minor tentang kemampuan bekerja wanita dapat dihilangkan.
Dampak Buruk
Bekerjanya seorang istri di luar rumah menimbulkan efek buruk bagi stabilitas keharmonisan keluarga. Baik antara dirinya dengan suami maupun antara dirinya dengan anak-anak. Meskipun dengan bekerjanya seorang istri membuat beban suami menjadi lebih ringan, namun di sisi lain justru akan membuat suami kehilangan harga dirinya dan karena itu keharmonisan pun menjadi memudar. Dalam hal ini, agaknya betul apa yang disampaikan Muhammad bin Luthfi al-Shobbag, bahwasanya hubungan suami-istri bukanlah didasarkan atas materi saja.[ii]
Dengan bekerjanya seorang wanita, perhatiannya kepada anak-anaknya pun akan berkurang. Apabila hal itu terjadi, anak-anak akan merasa bahwa diri mereka tidak lebih penting dari pekerjaan ibunya dan kerenanya ia pun melakukan sejumlah kenakalan—yang bagi mereka—sebenarnya hanya bertujuan untuk memancing perhatian dan kasih sayang ibunya.
Apabila sang ibu tetap tak peduli dan mau memerhatikan anaknya secara lebih—dalam arti tetap dengan kesibukan kerja—maka sang anak akan frustasi dan kenakalan yang dilakukan sang anak akan diupayakan terjadi sesering mungkin.[iii]
Ditambah dengan semakin buruknya hubungan sang ibu dengan suami—sehingga menyebabkan perceraian—maka kondisi anak semakin nestapa karena harapan mendapatkan kasih sayang secara lebih, menjadi pupus akibat berpisahnya ia dengan salah satu orangtuanya. Akibat selanjutnya bisa ditebak: frustasi sang anak akan berubah menjadi depresi.
Psikolog terkenal John Bowlby, meyakini bahwa ikatan antara ibu dan anak yang tidak memberikan rasa aman, tidak adanya cinta dan kasih sayang dalam pengasuhan anak, atau kehilangan salah satu orangtua di masa kanak-kanak, akan menciptakan set kognitif yang negatif.[iv] Kondisi kognitif yang seperti ini ketika bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan kehilangan (kasih sayang, teman, guru, dsb), maka kehilangan tersebut akan menjadi pemicu yang dengan segera menimbulkan depresi.[v] Bila sudah begini, maka waspadalah, karena pengalaman membuktikan seringkali remaja yang mengalami depresi akan mencoba bunuh diri.[vi]
Tertolaknya Feminisme
Hancurnya isntitusi keluarga yang dihasilkan dari penerapan feminisme, membuat sebagian kalangan menyalahkan feminisme itu sendiri dan mengajak khalayak untuk kembali kepada konsep keluarga yang harmonis. Di mana di dalam sebuah keluarga terdapat seorang ayah selaku pemimpin dan pencari nafkah, dan ada ibu yang bertugas mengasuh anak dan mengatur rumah tangga. Marijean Hall, ketua Organisasi Parent Action mengatakan, “We have to be able to blend the growth of women and the women’s movement, rather than moving backward in time[vii] (Kita harus mampu memadukan perkembangan wanita dan pergerakannya menjadi sebuah pergerakan keluarga baru, dari pada bergerak ke masa lalu).”
Pernyataan ini barangkali bisa mewakili perasaan orang-orang Barat yang menginginkan perubahan dari kondisi buruk yang ditimbulkan feminisme. Dan tampaknya jumlah mereka mayoritas, sehingga gerakan feminisme di Barat nyaris tinggal wacana.[viii] Kenyatan ini sangat terlihat ketika kita membaca sebuah laporan studi berjudul The Shriver Report: A Woman’s Nation Changes Everything yang dipublikasikan The Center for American Progress dan Maria Shriver akhir 2009 lalu. Di situ terungkap bahwa hampir 86 persen perempuan setuju bahwa hari ini kaum perempuan masih sebagai penanggung jawab utama untuk urusan rumah tangga. Sekitar 85 persen perempuan juga percaya apabila suami dan istri sama-sama memiliki pekerjaan, maka tanggung jawab utama urusan rumah tangga tetap dibebankan kepada perempuan.[ix]
Dari cuplikan data di atas, terlihat jelas bahwa peran wanita sebagai ibu rumah tangga adalah fitrah, sehingga meskipun sudah sekian puluh tahun dicekoki dengan paham feminisme, namun wanita Barat tidak terpengaruh dan malah kini mereka menjadi penentang feminisme itu sendiri.
Penutup
Patricia Aburdene dan John Naisbit, dua penulis terkenal, berkolaborasi menulis sebuah buku berjudul Megatrends for Women, di mana dalam buku tersebut keduanya memasukkan fenomena bangkitnya keluarga sebagai salah satu tren di masa depan. Ulasan lengkap keduanya bisa dilihat pada bab The Family Revival. Dari sini timbul pertanyan menarik: bila wanita Barat saja sudah jenuh dengan feminisme dan ingin kembali kepada sistem keluarga yang harmonis, mengapa sebagian wanita di Indonesia justru terbalik—tertarik dengan feminisme dan merasa harus menerapkannya—bahkan menganggapnya sebagai harga mati? Jawabannya silahkan cari sendiri.
Namun yang harus diingat, sistem keluarga yang diinginkan mayoritas wanita Barat saat ini tentu saja juga tidak akan mampu membawa mereka kepada perbaikan hakiki. Sebab, perbaikan hanya bisa didapat apabila menerapkan Islam secara komprehensif dalam kehidupan. Sebagai ilustrasi, keluarga yang baik saja tidak cukup untuk menghasilkan anak-anak yang bermoral baik. Apabila lingkungannya buruk, tetap saja pendidikan yang didapat sang anak akan tidak berpengaruh maksimal. Sebab terbukti lingkungan pun sangat mempengaruhi moral anak; apakah anak itu baik atau buruk, salah satunya ditentukan lingkungan.
Hal inilah yang tidak bisa dijawab oleh Barat, karena mereka menjadikan akal sebagai hakim—padahal hakim yang hakiki adalah Allah SWT—maka hukum-hukum yang dihasilkan mereka pun menjadi kontradiktif. Maha suci Allah yang telah berfirman:
“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Alquran? Sekiranya Alquran itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. Al-Nisa [4]: 82).
Oleh karena itu, kebangkitan keluarga saja tidak cukup untuk menghadirkan perubahan yang betul-betul berarti. Menjadikan perempuan berfungsi sebagaimana mestinya masih tidak cukup menjadi solusi bagi permasalahan anak saat ini. Perbaikan dan solusi yang sebenarnya hanya akan didapat dengan satu hal: kembali kepada apa yang dibawa Muhammad saw secara menyeluruh—berupa menerapkan Islam secara kaffah—karena di situlah terdapat perbaikan yang hakiki dan solusi yang sejati. Wallâhu a’lam bi al-shawâb. (Adnan Syafi’i)
Catatan Akhir:
[i] Adnin Armas dan Ahmad Taufik Abdurahman, “Peran Mulia Ibu Rumah Tangga,” Gontor (4/2001): h. 23.
[ii] Muhammad bin Luthfi al-Shobbag, dkk., Pesan untuk Muslimah. Cet. VII. Penerjemah Muhammad Sofwan Jauhari (Jakarta: Gema Insani Press, 1416 H/1996 M), h. 37.
[iii] Arthur T. Jersild, dosen Columbia University menulis, “Perbuatan nakal yang dilakukan berkali-kali merupakan perilaku agresif yang bersumber dari rasa frustasi (Delinquent acts frequently are aggressive acts springing from frustation).” Lihat, Arthur T. Jersild, The Psychology of Adolescence, 2nd ed. Cet. V (New York: The MacMillan Company, 1965), h. 315.
[iv] John W. Santrock, Adolescence: Perkembangan Remaja. Penerjemah Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 529.
[v] Ibid, h. 530.
[vi] Ibid, h. 532.
[vii] Patricia Aburdene dan John Naisbitt, Megatrends for Women (New York: Villard Books, 1992), h. 216.
[viii] Lihat, Syamsuddin Arif, “Feminisme dan Isu Gender,” dalam Nuim Hidayat, ed., Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Cet. II (Jakarta: Gema Insani Press, 1429 H./2008 M.), h. 109.
[ix] “Perjuangan Kesetaran Bergeser,” (SINDO, 29/10/2010): h. 19.

0 Comments

Posting Komentar