Ekosistem Laut, Tumbal Keserakahan Kapitalisme !



[SUARA MUSLIMAH] 
Ekosistem Laut, Tumbal Keserakahan Kapitalisme !

Oleh: Fitri Firda Sari (Mahasiswi Agribisnis FP Universitas Jember)
Indonesia selain dikenal sebagai negara agraris, juga dikenal sebagai negara maritim. Diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dan secara geografis Indonesia dikelilingi oleh ribuan pulau dengan dua pertiga luas lautan yang lebih besar dibandingkan dengan daratan dengan garis pantai di hampir setiap pulau di Indonesia ± 81.000 km yang menjadikan Indonesia menempati urutan kedua setelah Kanada sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia (https://kumparan.com/lampu-edison/garis-pantai-terpanjang).
Wilayah perairan yang luas menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya laut, dan sangat berpotensi untuk mendukung perekonomian negeri.
Namun sayang dirasa, potensi yang begitu luar biasa dari perairan Indonesia tengah terancam beragam kerusakan. Menurut data Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI 2009 saja, tercatat kalau luas terumbu karang Indonesia 70.000 kilo meter persegi yang masih dalam kondisi sangat baik hanya 5,5 persennya saja. Hal itu menunjukkan penurunan yang signifikan dari 2000 lalu yang mana pada tahun itu terumbu karang yang kondisinya sangat baik mencapai 6,2 persen. Data LIPI 2009 juga menyebutkan kalau terumbu karang yang kondisinya baik mencapai 26 persen, cukup baik 37 persen dan yang sudah mengalami kehancuran sebanyak 31,5 persen.
Kenyataan itulah yang nampak saat ini dan diprediksikan bakal terjadi lagi kerusakan-kerusakan pada terumbu karang ke depannya.
Kerusakan terumbu karang tidak bisa dianggap remeh. Sebagaimana diketahui bahwa terumbu karang menjadi tumpuan penting dalam ekosistem laut. Terumbu karang (coral reef) bukan sekedar menjadi tempat hidup dan berkembang biota laut belaka, namun terumbu karang mempunyai fungsi dan peran yang tidak bisa diremehkan bagi lingkungan secara keseluruhan (baik di laut, pesisir, maupun darat), dan bagi kehidupan manusia.
Rusaknya ekosistem laut tentu tidak lepas dari aktivitas eksploitasi besar-besaran. Kontaminasi limbah industri, eksploitasi ikan besar-besaran (overfishing) menggunakan bahan peledak dan bahan berbahaya lainnya, pengerukan pasir laut, merupakan hasil dari dunia usaha yang sangat menjanjikan bagi mereka yang bermodal besar. Artinya, penyumbang kerusakan laut adalah eksploitasi dalam skala besar yang dilakukan oleh dunia usaha/kapitalisme, bukan sekedar oleh nelayan kecil.
Kapitalispun menyadari bahwa kerusakan tengah terjadi dan demi menyelamatkan keberlanjutan usahanya, mereka mulai berpikir tentang lingkungan. Sehingga sekian banyak konferensi mengenai penyelamatan lingkungan yang dijalankan, hanya menjadi agenda formalitas para pemilik modal yang menjadi pelaku pengrusakan alam paling besar.
Tak ketinggalan, Indonesiapun turut serta dalam arus solusi-solusi yang ditawarkan kapitalis yang berbalut kepentingan ekologi. Sebuah kekhawatiran justru muncul ketika konsep ini diterima akan menjadi ajang peleburan dosa para kapitalis yang selama ini merusak lingkungan.
Bahkan munculnya poin ke 14 SDG’s tentang ekosistem laut tentunya berangkat dari kondisi kelautan yang semakin menurun kualitasya yang artinya juga akan berdampak buruk bagi perkembangbiakan modal mereka.
Di lain pihak, negara juga tetap membuka diri bagi masuknya investasi asing dengan berbagai kebijakan. Ibarat kata rencana keberlanjutan lingkungan yang salah satunya tertuang dalam sdg’s poin 14 tentang ekosistem laut hanya akan menjadi instrumen apik yang dilegalisasi untuk mengikis aset alam dan merusak ekosistem dalam negeri.
Tentu, perhatian para kapitalis terhadap lingkungan bukan dilandaskan pada kepentingan ekologi, melainkan hanya sekedar memikirkan keberlanjutan usaha yang harus terus menerus menaikan keuntungannya. Materi tetap menjadi asas dalam setiap daya juang mereka.
Berkembangnya sistem ekonomi kapitalis menjadi sebab dari semakin meluasnya beragam problema, termasuk problem ekologi kelautan. Peningkatan kegiatan produksi yang tidak terkontrol dan mengabaikan lingkungan menjadi sebab perubahan-perubahan ekologis yang negatif.
Berkaca pada sebuah ayat dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Rum[30]:41).
Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi disebabkan ulah tangan manusia. Sistem kapitalisme yang bercokol dalam negeri semakin menyuburkan dan memanjakan peran tangan-tangan tamak para kapitalis. Hilangnya peran islam sebagai pengatur kehidupan semakin mengarahkan bumi pada ambang kehancuran.
Solusi-solusi ala kapitalis tentu tidak bisa dijadikan rujukan. Sebuah kerusakan yang disebabkan virus kapitalisme yang berorientasi materi belaka hanya bisa disembuhkan dengan penerapan sistem terbaik yang datangnya dari sang maha pencipta.
Maka tiada jalan lain selain kembali kepada Islam dan menerapkan islam sebagai aturan kehidupan dalam bingkai Khilafah agar tercipta keberkahan dan terhindar dari kebinasaan yang disebabkan ketamakan segelintir manusia.
Sumber: 

@infomuslimahjember #infomuslimahjember #jember #ekosistem #laut

0 Comments

Posting Komentar