Ironis, Pencabulan Terjadi di Kota Santri



[INFO JEMBER] 
Ironis, Pencabulan Terjadi di Kota Santri

Oleh : Winda Sari

(Mahasiswi Universitas Jember)

Kasus pencabulan atau pelecehan seksual bukanlah hal baru untuk didengar, kasus ini sudah sering terjadi di negeri ini, karena seringnya, ada beberapa kasus pelecehan seksual yang sempat viral, menghebohkan Nusantara dan seisinya. Kasus pencabulan yang sempat viral itu adalah kasus pencabulan siswa di Jakarta International School (JIS) dan kasus pencabulan oleh Andri Sobari alias Emon. Ironisnya, kasus pencabulan ini banyak menimpa kalangan anak-anak. Anak-anak menjadi sasaran empuk bagi pelaku pelecehan seksual. Karena dari segi emosional, anak masih belum bisa untuk berontak.

Kini, kasus pencabulan terulang lagi, dan mirisnya terjadi di kota Jember. Jember dengan julukan kota santri atau kota seribu pesantren, juga tak bisa lepas dari kasus pencabulan. Yang lebih mengejutkan, pencabulan dilakukan oleh seorang guru ngaji. Gelarnya guru ngaji, tetapi kelakuan tak mencerminkan sebagai guru ngaji, begitulah jika nafsu sudah menguasai dan tak bisa untuk mengendalikannya.

Sejumlah santriwati diduga telah dicabuli oleh guru ngajinya sendiri yang berinisial MH lantaran santrinya tidak mampu mengaji dengan baik, dengan dalih sebagai hukuman, MH meluncurkan aksi bejatnya itu. Tersangka MH memberikan hukuman kepada muridnya dengan mencubit muridnya sambil meraba alat vital dari murid tersebut.

MH, Warga Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, yang kesehariannya beraktivitas sebagai pengajar di Lembaga Pendidikan Madrasah Diniyah, kini telah diamankan oleh Satuan Reserse Kriminal Polres Jember.

Saat ini, polisi masih terus melakukan penyelidikan dan pengembangan terkait kasus ini, karena diduga masih ada korban yang belum melaporkan yang sebelumnya sudah ada tujuh santriwati yang sudah melapor. Dari tujuh santriwati ini, rentang usianya 6 sampai 13 tahun.

Banyaknya kasus pelecehan seksual terjadi karena korban sudah masuk perangkap pelaku. Apalagi anak-anak, sangat mudah untuk memerangkapkan anak-anak, dengan iming-iming uang, jajan, dan sebagainya, membuat anak-anak akan mudah tergiur. Dengan cara itu, pelaku pelecehan seksual akan mudah mendekati atau mengambil hati korban untuk meluncurkan aksinya.

Seorang guru ngaji mencabuli muridnya, kok bisa padahal guru ngaji?

Mungkin itu yang terbesit dipikiran terkait kasus ini. Zamannya sekarang ini aturan agama sudah tersisihkan. Agama dipisahkan dengan kehidupan. Akhirnya, aturan agama pun juga terlupakan. Walaupun guru ngaji atau kyai sekalipun tapi jika aturan agama disisihkan dan digunakan hanya untuk masalah ibadah pokok, seperti sholat, zakat, puasa, keluarlah dari garis orbitnya.

Begitu pula dengan kasus ini, yang hanya menuruti hawa nafsu saja, pemenuhan hasrat yang tidak sesuai dengan aturan agama. Pemikirannya masih tergolong pemikiran yang dangkal hingga dapat mempengaruhi perasaan, dan akhirnya perasaan itulah yang menguasai dirinya. Perasaan inilah yang membawa seseorang kepada tingkah lakunya hingga timbul kelakukan yang memalukan (pencabulan).

Aksi pelecehan seksual merupakan bentuk pelanggaran, selain melanggar hukum, juga melanggar aturan agama. Maraknya kasus pencabulan meletakkan peran penting bagi keluarga, masyarakat, dan Negara. Jika hanya keluarga dan masyarakat saja yang andil dalam pencegahan kasus semacam ini, tidak akan berjalan lancar tanpa campur tangan dari Negara. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan preventif agar kasus semacam ini tidak terulang lagi, karena tindakan preventif lebih baik dibandingkan represif, dan hal ini perlu adanya keterlibatan Negara.

0 Comments

Posting Komentar