Islam Identitas Asli Nusantara



[KAMPANYE] 
/Islam Identitas Asli Nusantara/

Oleh : Wardah Abeedah*

Indonesia dan Islam, adalah dua kata yang tak terpisahkan. Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan yang diraih bumi pertiwi adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Dalam Pancasila, nilai yang pertama kali disebut adalah ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan, persatuan dan keadilan diletakkan di bawah ketuhanan Yang Maha Esa. Dari beberapa agama yang dianut rakyat Indonesia, hanya Islam lah yang memiliki tuhan yang esa atau satu. Sebagaimana kelima sila, sila pertama ini dirumuskan oleh tokoh-tokoh Islam terdahulu dengan teks asli “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Namun sayangnya tujuh kata yang merupakan spirit perjuangan rakyat ini dihapus sesaat pasca kemerdekaan.

Berkat dakwah para wali dan ulama dari Timur Tengah berabad lalu, saat ini hampir 90% rakyat Indonesia memeluk Islam. Ini menjadikan Indonesia yang menempati peringkat ke empat dengan penduduk terbanyak, otomatis menjadi negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia.

Semua keterkaitan antara Islam dan Indonesia ini bukanlah hal yang mengherankan karena berabad lamanya Islam masuk ke Indonesia. Bahkan sebelum penjajah kafir Belanda menjejakkan kakinya di bumi nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang bertebaran di tanah katulistiwa di memiliki kaitan erat dengan kehilafahan Islam di masa itu.

Pada tahun 100H di masa kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz, Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindavarma mengirim surat pada Amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz meminta dikirimkan dai agar bisa mengajarkan Islam padanya. Dua tahun kemudian beliau masuk Islam dan kerajaannya dikenal dengan Sribuza Islam. Di masa kekhilafahan Al-Mustanshir billah, Kerajaan Samudra Pasai berhasil diIslamkan dan kemudian bergabung dengan kekhilafahan Abbasiyah.

Ratusan tahun kemudian, Walisongo yang berasal dari beberapa penjuru Timur Tengah yang merupakan bagian dari Kekhilafahan Utsmani, dikirim ke nusantara oleh Khalifah Sultan Mahmud 1. Sehingga dakwah para wali mampu menghapus ajaran lama animisme dan dinamisme, berganti Islam yang dianut oleh para raja. Hal ini menjadikan kerajaan-kerajaan Hindu yang ada berubah menjadi kesultanan yang menerapkan syariat Islam. Khilafah Utsmani memberikan gelar bagi para Sultan sebagai wakil Khalifah di nusantara. Bahkan membantu mereka untuk menerapkan syariat Islam.

Sebagaimana yang dilakukan Khalifah Utsmani di tahun 1652 yang mengirim 500 pasukan, sejumlah meriam dan amunisi ke Aceh untuk berperang melawan Portugis. 

Sejak saat itu, Islam menjadi visi politik. Islam juga menjadi spirit pembebasan nusantara dari penjajah. Para pejuang yang sebagian besar berasal dari kalangan ulama dan pesantren, intelektual, juga bangsawan menjadikan spirit jihad untuk mempertahankan tanah air. Bukan semata demi nasionalisme. Tapi demi menerapkan syariat Islam di Indonesia. Ini terbukti , ketika menjelang kemerdekaan, tokoh-tokoh muslim yang tergabung dalam BPUPKI merumuskan falsafah negara berdasarkan Islam dan penerapan syariatnya.

Sedangkan Kapitalisme Demokrasi yang saat ini sedang dipaksa tegak di Indonesia bukanlah identitas asli bangsa. Ia adalah ideologi baru yang ditanamkan Barat melalui Inggris dan Portugis demi menjajah Indonesia secara politik dan ekonomi. Hingga saat ini, meski kedua negara tersebut secara fisik hengkang dari Indonesia, namun ideologi kapitalis Barat terus-menerus dicekokkan dan diterapkan di negeri yang didiami mayoritas umat Islam ini.

Posisi Indonesia sebagai satelit Barat semakin menguat sejak Indonesia bergabung dengan PBB pada tanggal 28 September 1950. Semenjak itu, berbagai kebijakan Barat diratifikasi dan diterapkan di tanah air. Melalui berbagai UU dan kebijakan yang dibuat eksekutif juga legislative, Barat mendikte agar semua kebijakan dan aturan yang ada sesuai dengan kepentingannya. Baik itu kepentingan ekonomi dengan mengeruk sumber daya alam, liberalisasi pendidikan dan kesehatan, hingga kepentingan ideology dengan intervensi kurikulum pendidikan.

Saat ini kesadaran ummat untuk kembali kepada Islam kembali membuncah sebagaimana masa pra kemerdekaan dahulu. Namun demi kepentingan neokolonialisme, bangsa Indonesia dijauhkan dari identitas aslinya dengan berbagai propaganda. Kata ‘Islam’ dan ‘jihad’, serta kata ‘khilafah’ dihapus dari sejarah Indonesia. Saat ini dibuatlah propaganda dengan melabeli dan menyematkan kata ‘radikalisme’, ‘terorisme’ kepada kata ‘Islam’. Ini dilakukan demi menjadikan kaum muslimin takut kepada Islam kaffah. Digencarkan pula proyek deradikalisasi yang intinya adalah deislamisasi untuk mencegah kembalinya Islam tegak di bumi nusantara dan di dunia.

Sejarah kembali berulang. Indonesia menjadi kancah pertempuran antara hak dan bathil. Jika pada masa lampau perang itu terjadi secara fisik antara umat Islam yang dipimpin ulama dan pesantren melawan kafir Belanda yang menjajah secara fisik. Maka saat ini juga terjadi perang ideologi antara negara-negara Barat yang berideologikan Kapitalisme Sekuler melawan Umat Islam yang selalunya dilabeli radikal akibat perjuangannya mengembalikan Islam sebagai identitas nusantara. Wallahu a'lam bis showab.[] 

@infomuslimahjember ||#infomuslimahjember 

0 Comments

Posting Komentar