Jejak Peradaban Islam Dalam Merajut Keberagaman



[KAMPANYE] 
/ Jejak Peradaban Islam Dalam Merajut Keberagaman /

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal” (TQS. Al-Hujuraat [49]: 13).

Ayat ini jauh lebih dulu ada dari pada ayat-ayat HAM. Bahkan sebelum sains dan teknologi mendominasi kehidupan, Islam telah lebih dulu menununtaskan pembahasan perihal keberagaman. Aturan yang terpancar dari kalamNya adalah aturan yang menghidupkan lagi merekatkan. 

Ini bukan pencitraan, tapi sebuah jaminan dari pemilik jagad raya yang telah terbukti nyata. Bahwa adanya perbedaan dalam kehidupan adalah fitrah dariNya. Bukan sebagai sebab terjadinya perpecahan, tapi peringatan bahwa segala rupa tiada mulia kecuali berhias takwa.

Sebagai seorang muslim, menjadi mulia adalah dambaan. Tentu bukan sekedar di mata manusia. Mulia di sisiNya adalah perkara yang paling utama. Kemuliaan semacam inilah yang kelak akan mengiringi pelakunya memasuki Surga. Karenanya, takwa adalah jalan yang akan ditempuh oleh mereka yang mendamba Surga.

Ketakwaan ini bukan pula sekedar dalam perkara ritual. Namun meliputi seluruh aspek kehidupan. Termasuk dalam hal menyikapi keberagaman. Dalam aspek perbedaan agama, misalnya. Seorang muslim yang memahami Islam, pasti mengerti bahwa tidak boleh memaksakan keimanan kepada siapa saja. Tugasnya hanya menyeru. Memberi kabar gembira sekaligus peringatan, bukan memaksakan. 

Lakum diinukum waliyadin, begitulah batasan dalam Islam. Apalagi dalam persoalan suku, bangsa, ras, warna kulit ataupun bahasa, sungguh Islam tidak menjadikan ini semua sebagai alasan perpecahan. Maka, tidak pernah ada masalah bagi dunia Islam dengan adanya berbagai keberagaman.

Mari kita jujur dalam melihat fakta sejarah kegemilangan peradaban Islam. Ketika Islam bukan sekedar pajangan. Saat Islam benar-benar terimplementasi dalam kehidupan. Kaffah, bukan setengah-setengah. Maka yang terlihat adalah keadilan, keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Bukan hanya bagi muslim, tapi juga non muslim. Tidak hanya bagi warga negara kekhilafahan, tapi juga warga negara luar daulah turut serta mereguknya. Begitulah keagungan Islam. Bukan menyulut perpecahan, tetapi merekatkan. Membangun, bukan menghancurkan.

Kisah fenomenal tentang Amirul Mukminin Umar Bin Khathab ra. ketika berhasil membebaskan baitul maqdis, tentu telah sampai di telinga kita. Berkali-kali Syaidina Umar mengingatkan seluruh pasukan ketika memasuki Baitul Maqdis, agar mereka tidak menebang pohon, mengotori sungai, mencemari mata air, membunuh anak-anak, wanita, orang tua dan orang lemah. Beliaupun berwasiat dengan sangat tegas, agar pasukannya tidak menghancurkan gereja dan sinagog. 

Padahal sebagai kepala negara Khilafah yang memiliki bentang kekuasaan begitu luas serta kekuatan yang tidak diragukan, mudah saja bagi Syaidina Umar ra. untuk memporak-porandakan negeri yang baru saja ia taklukkan. Namun Ia tidak melakukan yang demikian, hingga gereja Al-Qiyamah pun masih dapat kita saksikan wujudnya hingga sekarang.

Sikap mulia ini tentu bukan hanya ada pada Umar Bin Khathab ra. Ketulusan dalam membebaskan umat manusia dari berbagai macam penjajahan serta upaya untuk merekatkan persatuan, terus digalakkan oleh khalifah-khalifah sesudahnya. Bahkan di masa akhir kekhilafahan-pun, misi mulia tersebut tetap dijalankan. 

Termasuk dalam memberikan bantuan bagi Nusantara tercinta. Aceh adalah salah satu negeri yang turut merasakan ketulusan Daulah Islam tersebut. Bukan rahasia, bahwa kekhilafahan Turki Utsmani mengirimkan pasukan beserta alat tempurnya demi membebaskan Aceh dari penjajahan Portugis kala itu.

Daulah Khilafah juga melakukan upaya perekatan keberagaman hingga ke tanah jawa, bagian dari Nusantara. Salah satunya adalah seperti yang dinyatakan oleh Sri Sultan HB X dalam pembukaan Kongres Umat. 

Islam Indonesia VI, di Yogyakarta. Bahwa pada tahun 1479M, Sultan (Khalifah) Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai perwakilan Kekhalifahan Islam (turki) untuk tanah Jawa. 

Hal ini dikukuhkan dengan penyerahan bendera bertuliskan kalimat laa illa haillah Allah Muhammada Rasulullah. Bahkan hingga hari ini, duplikat bendera tersebut masih tersimpan di keraton Yogyakarta. Sebagai keabsahan Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat sebagai wakil Kekhalifahan Turki. Masyaallah!

Inilah jejak peradaban Islam dalam merajut keberagaman. Tentu masih sangat banyak jejak-jejak sejarahnya di seluruh belahan dunia yang tidak mungkin ditapaki satu per satu dalam tulisan singkat ini. Semoga goresan sederhana ini mampu membuka hati dan pikiran untuk jujur dalam melakukan penilaian.

Inilah bukti yang tidak terbantahkan, bahwa Islam yang terbingkai dalam Kekhilafahan bukanlah ancaman. Sebaliknya, menjadi perekat bagi keberagaman, Manebar rahmat bagi seluruh alam. Orang yang bersih hati dan akalnya, tentu sangat merindui kembalinya masa itu. Insyaallah rindu itu berbalas. Karena Allah subhanahu wa ta'ala. yang menjanjikan masa itu akan kembali. Semoga, kitalah yang akan menerima janji Illahi ini. aminn. Wallahualam.[] 

@infomuslimahjember || #infomuslimahjember 

0 Comments

Posting Komentar