Kiprah Perempuan Dalam Islam


/ Kiprah Perempuan Dalam Islam /

Oleh: Rindyanti Septiana S.Hi ( Penulis buku Bidadari Pelukis Dunia)

Allah telah menetapkan bahwa secara politis, peran utama dan strategis bagi perempuan adalah sebagai ummun wa rabbatul bait, sebagai pencetak generasi, sehingga terlahir generasi yang berkualitas prima, sebagai pejuang-pejuang Islam yang ikhlas.

Islam juga telah memberikan batasan dengan jelas dan tuntas terkait aktivitas perempuan, demikian pula dengan aktivitas politiknya. berikut ini beberapa aktivitas politik yang boleh atau wajib diterjuni oleh perempuan :

/1./ Kewajiban amar makruf nahi munkar
Aktivitas ini merupakan kewajiban bagi laki-laki maupun perempuan, karena nash-nash yang berkaitan dengan masalah ini bersifat umum, berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan. 

Allah berfirman dalam QS Al-Imran ayat 104 yang artinya : “Hendaklah (wajib) ada segolongan umat yang menyerukan kepada kebaikan (Islam); memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”

/2./ Hak dan Kewajiban baiat
Islam memberikan hak dan kewajiban untuk melakukan baiat khalifah kepada perempuan sebagaimana kepada laki-laki. Ummu Athiyah berkata :

“Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau membacakan kepada kami agar jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dan melarang kami untuk niyahah (meratapi mayat). 

Karena itulah salah seorang perempuan dari kami menarik tangannya (dari berjabat tangan), lalu ia berkata, “ Seseorang telah membuatku bahagia dan aku ingin membalas jasanya.” Rasulullah tidak berkata apa-apa, lalu perempuan itu pergi kemudian kembali lagi.” (HR Bukhori)

/3./ Hak Memilih dan dipilih Menjadi Anggota Majelis Umat
Dalam riwayat shahih, Ibnu Hisyam dari Ka’ab bin Malik disebutkan bahwa setelah 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan (Nasibah binti Ka’ab dan Asma binti Amr bin Adi) melakukan baiat aqobah 2, Rasul bersabda kepada mereka :

“Datangkanlah 12 wakil dari kalian yang pada mereka ada tanggung jawab ras kabilahnya masing-masing.” (HR Ahmad).

/4./ Kewajiban Menasihati dan Mengoreksi penguasa
Pernah terjadi di masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khaththab, ketika seorang perempuan, Khaulah binti Hakim bin Tsa’labah memprotes Umar. 

Ketika beliau menetapkan jumlah mahar tertentu bagi perempuan karena tingginya mahar yang diminta kaum perempuan pada waktu itu. Kemudian Umar menyadari kekeliruannya dan segera mencabut keputusannya, ia berkata : “Perempuan ini benar dan Umar salah”.

/5./ Kewajiban menjadi Anggota Partai Politik
Partai politik ada untuk menjaga agar semua hukum-hukum Allah tetap diterapkan secara keseluruhan oleh manusia dalam kehidupannya sepanjang masa.

Keberadaannya wajib bagi kaum muslim, baik di dunia ini diterapkan sistem Islam atau tidak. Hanya saja perbedaannya adalah jika ada sistem Islam, kewajiban untuk beraktivitas di dalamnya adalah fardhu kifayah.

“Siapa saja yang tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin, berarti dia bukanlah termasuk golongan mereka. Siapa saja yang tidak berada di waktu pagi dan petang selaku pemberi nasihat bagi Allah dan RasulNya, bagi kitabNya, bagi pemimpinnya dan bagi umumnya kaum muslimin, berarti ia bukan termasuk di antara mereka”. (HR.ath-Thabrani dari Hudzayfah radhiyallahu anha)

Kaum perempuan memegang peran penting dan strategis dalam mencetak generasi penerus umat yang memiliki kualitas mumpuni. Yakni berperan dalam mendidik dan membina anak-anak mereka dengan aqidah yang kuat, sehingga akan lahir generasi yang tunduk pada syari’at dan siap untuk memperjuangkannya. 

Bisa kita bayangkan jika kaum perempuan berusaha maksimal dalam membina anak-anaknya, kelak di kemudian hari akan terwujud masyarakat Islam ideal melalui tangan-tangan generasi berkualitas ini.

Sejarah peradaban Islam pun menunjukkan hal demikian. Peran para shahabiyat radiyallahu ‘anhunna sangat besar dalam mengubah masyarakat Jahiliah menjadi masyarakat Islam yang agung dan sejahtera. Siapa yang tidak kenal Ibunda Khadijah radhiyallahu anha. 

Selain sebagai istri dan ibu teladan, beliau adalah partner terbaik sekaligus pendukung utama dakwah Rasulullah ﷺ. Ada juga Sumayyah radhiyallahu anha. Sosok pribadi kuat yang rela menjadi martir dakwah sekaligus menjadi teladan terbaik dalam keteguhan memperjuangkan kebenaran.

Ada sosok Asma Binti Abu Bakar radhiyallahu anha, ‘pemilik dua ikat pinggang (dzatun nithaqain)’. Ia adalah seorang muhajirah yang cerdas dan pemberani, mengorbankan jiwa, raga dan hartanya hanya untuk Islam. Ia berperan penting bagi keberhasilan hijrah Nabi ﷺ. 

Ia juga ibu yang melahirkan generasi mumpuni sekelas Abdullah bin Zubair radhiyallahu anha. Ada Khaulah Binti Tsa’labah radhiyallahu anha. sosok perempuan tangguh berkesadaran politik tinggi yang selalu siap mengawal para pemimpin dalam menegakkan hukum Allah melalui keberaniannya melakukan koreksi.

Selain itu Asma Binti Kaab radhiyallahu anha. Satu di antara dua perempuan cerdas yang turut dalam peristiwa monumental berupa Pembaiatan Nabi ﷺ di Aqabah dan selalu tampil sebagai representasi kaumnya. 

Serta Nusaibah Binti Kaab radhiyallahu anha, perempuan perkasa yang bersama suami dan anak-anaknya berulang-ulang turut berperang dan menjadi perisai Nabi ﷺ saat jihad fi sabilillah.

Tak terhitung lagi sosok perempuan lain yang berjasa besar dalam mewujudkan masyarakat Islam dan memelihara eksistensinya hingga bisa tampil sebagai sosok masyarakat terbaik (khayru ummah) selama belasan abad. 

Tampilnya kekuasaan Islam (Khilafah) yang menebar rahmat di dua pertiga belahan dunia selama belasan abad itu juga membuktikan prestasi terbaik para ibu. Saat itu kaum perempuan berhasil menjadi arsitek terbaik bagi peradaban mulia dengan kemajuan yang luar biasa di segala bidang.

——————————


@infomuslimahjember #infomuslimahjember#jember

0 Comments

Posting Komentar