Kontrak Ibadah Paling Lama Itu Bernama: NIKAH!


[KELUARGA SAKINAH] 
Kontrak Ibadah Paling Lama Itu Bernama: NIKAH!

Oleh: Nurul Mauludiyah 

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir" (QS. Ar Ruum: 21)

Sahabat muslimah, ayat diatas adalah penggalan ayat populer yang sering kali kita baca dalam berbagai kartu undangan pernikahan. Sebuah ayat yang menggambarkan syariah agung Allah, yaitu pernikahan. Didalam Islam, menikah bukan sekedar janji suci dua sejoli, sehidup semati. Islam menempatkan pernikahan sebagai syariah agung nan mulia, yang mengatur pertemuan antara unsur kelelakian (maskulinitas) dan keperempuanan (feminitas) dengan bentuk pengaturan khusus. Bagaimana pandangan Islam terkait pernikahan, berikut beberapa penjelasan singkatnya.

Menikah: Anjuran Ilahiyah

Islam telah menganjurkan dan bahkan memerintahkan kepada kaum muslimin untuk melangsungkan pernikahan. Diriwayatkan oleh Ibnu Mas ud RA, Rasulullah bersabda: "Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah kalian menikah.." (Mutafaqalaih)

Juga diriwayatkan dari Qatadah yang menuturkan riwayat dari al Hasan, yang bersumber dari Samarah: "Bahwa Nabi SAW telah melarang hidup membujang" (HR Ahmad)

Sahabat muslimah, dua dalil diatas menunjukkan bahwa menikah merupakan bagian dari syariah. Bahkan, Islam melarang umatnya untuk menyengaja membujang (tabattul), meskipun dalam rangka menyucikan diri untuk fokus ibadah saja.

Menikah: Ibadah yang paling lama

Sahabat muslimah, jika 1-2 jam adalah waktu paling lama yang kita butuhkan untuk menjalankan 5 kali sholat wajib dalam 1 hari. Tidak demikian dengan menikah. Seketika ijab qobul diucapkan oleh sang mempelai pria, sesaat setelah itu perjalanan ibadah terpanjang akan dijalani. Karena dengan menikah, berbagai ketentuan syariah seputar kehidupan suami istri secara otomatis harus dijalankan sebagai konsekuensi. Saat kehidupan pernikahan dijalani sesuai dengan aturan Islam, selama itulah pahala ibadah InsyaaAllah didapatkan. Lalu pertanyaannya, sampai kapan ibadah ini dijalankan? Tentu semua pasangan berharap, pernikahan yang dijalani tidak berujung perceraian kecuali maut memisahkan. Jadi, sepanjang hidup pernikahan itulah perjalanan panjang ibadah dalam bingkai pernikahan harus dijalankan. Kehidupan pernikahan, dijalankan oleh kaum muslimin untuk meraih ridho Allah.

Ada pahala dan keutamaan besar yang Allah janjikan bagi setiap pasangan muslim yang menjalankan biduk pernikahannya sesuai dengan SyariahNya. Bagi suami, ia bergelar orang yang terbaik saat ia memperlakukan istrinya dengan baik. Diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda: "Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya kepada keluarga (istrinya)" (HR al Hakim dan Ibn Hibban dari Jalur Aisyah RA).

Bagi istri, ada pahala besar saat ia taat kepada suaminya, sekaligus murka Allah jika ia bertindak membangkang. "Rasulullah pernah bertanya kepada seorang wanita: 'Apakah engkau sudah bersuami?' Wanita itu menjawab: 'Ya'. Beliau lantas bersabda "Sesungguhnya ia (suamimu) adalah surga atau nerakamu" (HR Al Hakim dari jalur bibinya Husain bin Mihsin)

Perjalanan panjang, pastikan cukup perbekalan

Jika untuk menjalankan ibadah sholat yang hanya beberapa saat saja kita butuh banyak ilmu seputar sholat, maka kehidupan pernikahan yang merupakan bentuk ibadah terpanjang tentu mengandung kebutuhan yang besar untuk dipersiapkan sebelum dijalani.

Terlebih, menjalani kehidupan pernikahan mengandung sejumlah besar konsekuensi pelaksanaan hukum Allah. Mulai dari kewajiban dan hak suami istri, hak dan kewajiban pada anak, atau hukum-hukum lain seperti waris, silaturahmi, dan pengasuhan anak. Semua itu membutuhkan kesiapan ilmu dan tsaqofah agar kehidupan pernikahan benar-benar berjalan sesuai dengan tuntutan dalam Islam.

Belum lagi, pernikahan yang merupakan relasi baru yang dibangun antara 2 insan dengan berbagai keinginan masing-masing, maka dibutuhkan kesiapan mental agar senantiasa terwujud kasih sayang dan ketaqwaan didalam keluarga. 

Karena itu, berbicara masalah pernikahan bukan sekedar keinginan atau saingan. Tapi butuh persiapan agar ibadah panjang pernikahan mampu kita wujudkan. Wallahu a'lam bish showab.

@infomuslimahjember || #infomuslimahjember

0 Comments

Posting Komentar