Kontribusi Muslimah Mencetak Generasi Ulama


/ Kontribusi Muslimah Mencetak Generasi Ulama /

Oleh: Rahmadinda Siregar (Aktivis Muslimah)

Islam memiliki pandangan yang unik dan khas terhadap kaum perempuan. Posisi perempuan ditempatkan dalam kedudukan yang cukup strategis dalam membangun peradaban gemilang. Pandangan Islam terhadap perempuan, keluarga dan generasi, adalah mata rantai yang tidak terpisah bagi tegaknya sebuah peradaban Islam yang luhur.

Sejak awal, Islam telah memosisikan perempuan sebagai kehormatan yang senantiasa harus dijaga dan dilindungi. Islam juga telah memberi posisi bergengsi, yang dengan peran inilah menjadikan perempuan memperoleh kedudukan bermartabat. Posisi itu adalah ummu wa robbatul bait (ibu dan manajer rumah tangga).

Islam memberikan hak-hak yang sama kepada perempuan seperti halnya laki-laki. Islam pun menetapkan hukum-hukum yang memelihara hak-hak perempuan, menjaga kemuliaan, dan menjaga potensi/kemampuannya (QS. At-Taubah: 5 ) Berbeda halnya dengan kaum feminis yang menganggap perempuan bias dari akar fitrah penciptaannya. 

Di samping menjadi ummu wa rrobatul bait, para perempuan juga terlibat secara aktif sebagai sosok muslimah yang berkiprah dalam mendorong lahirnya generasi ulama yang faqih fiddin. Kiprah penting pada muslimah inilah yang menopang eksistensi peradaban Islam. 

Seorang wanita, baik ibu maupun saudari perempuan adalah pilar masyarakat. Mereka memiliki peranan besar dalam melahirkan dan mendidik generasi. Membaca kisah hidup para ulama, para pembimbing umat, dan masyarakat, kita akan menyaksikan bagaimana peran ibu yang begitu besar dalam mendidik dan menanamkan karakter mulia kepada mereka.

Ibu mereka menanamkan dasar-dasar agama dan pokok-pokok akidah islam untuk buah hatinya. Lalu pribadi-pribadi mulia tumbuh menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.

Ketika para ibu lupa dan lalai terhadap peranan tersebut, maka akan lahirlah generasi yang gamang akidah dan agamanya. Generasi yang mudah terombang-ambing tak berprinsip. Mereka tergerus mengalir bersama zaman, terbang bersama hembusan angin pemikiran. Hal itulah yang tentu diinginkan kaum feminis. Mereka mendorong para ibu menuntut kesetaraan dalam semua hal, hingga para perempuan meninggalkan tugas mulia mereka menjadi ibu pembangun peradaban.

Sejarah Islam mencatat banyak ibu-ibu istimewa yang melahirkan para ulama besar. Mereka menjadi sosok terdepan untuk dijadikan teladan bagi para muslimah. Di antaranya ibu Sufyan ats-Tsaury.

Sufyan ats-Tsaury adalah tokoh besar dari generasi tabi’ at-tabi’in. Ia seorang fakih yang disebut dengan amirul mukminin fil hadits (pemimpin umat Islam dalam hadits Nabi). Di balik ulama besar generasi ketiga ini, ada seorang ibu yang mendidik dan menginfakkan waktu untuk membimbing anaknya. 

Sufyan mengisahkan, “Saat aku berencana serius belajar, aku bergumam, 'Ya Rabb, aku harus punya penghasilan (untuk modal belajar pen.)’. Sementara kulihat ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah kuurungkan saja keinginan belajar. Aku memohon kepada Allah agar Dia (Yang Maha Pemberi rezeki) mencukupiku”.

Beliau merasa bimbang. Jika menuntut ilmu, maka butuh modal dan bekal. Jika mencari modal dan bekal, tidak bisa fokus belajar. Karena ilmu itu mudah pergi dan menghilang.

Datanglah pertolongan Allah melalui ibunya. Ibunya berkata, “Wahai Sufyan anakku, belajarlah, aku yang akan menanggungmu dengan usaha memintalku”.

Ibunya memberi semangat, nasihat, dan keyakinan kuat bagi Sufyan untuk semangat dalam menuntut ilmu. Di antara ucapan ibu Sufyan lainnya, “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemahlembutanmu, dan ketenanganmu? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah, ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat untukmu”.

Sosok perempuan hebat lainnya yaitu Ibu Imam asy-Syafi’i. Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar.

Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah. Di Mekah, ia mempeljari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni. Sehingga bahasa Arab pemuda Quraisy ini pun jadi tertata dan fasih.

Dengan taufik dari Allah ﷻ kemudian kecerdasan dan kedalaman pemahaman Imam As-Syafi'i telah tampak saat beliau baru berusia 15 tahun, Imam asy-Syafi’i sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Hal itu tentu tidak terlepas dari peranan ibunya yang merupakan seorang muslimah yang cerdas dan pelajar ilmu agama.

Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku, aku menghafal Al-Qur'an saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Al-Qur'anku, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.

Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya.

Ibu hebat lainnya yang melahirkan para ulama adalah ibu Imam Malik bin Anas, Ibnu Taimiyah, Imam Ahmad bin Hambal, dll. Mereka senantiasa membimbing dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi hebat. Mereka juga menanamkan ketakwaan terhadap anak-anaknya seperti halnya ibu Sufyan At-Tsauri.

Demikianlah kontribusi besar para muslimah di masa dahulu. Mereka adalah sosok ibu hebat yang memproduksi massal lahirnya generasi salafusshalih yang faqih fiddin. Tentunya hal tersebut tidak akan bisa berjalan sempurna tanpa peran negara dan sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh. Lain halnya dengan sistem sekuler hari ini, yang mencoba mencerabut peran hakiki para perempuan dengan mengeksploitasinya dengan mesin-mesin kapitalis, mencetak para perempuan agar enggan menjalankan perannya di area domestik, serta mendorongnya untuk tidak taat kepada Allah SWT.

Tentu hanya Islam yang bisa mewujudkan peran mulia ibu sebagai pencetak generasi ulama ini dengan sempurna. Islam memuliakan penjagaan atas kehormatan dan pemenuhan hak-hak individu setiap warga negaranya tanpa diskriminasi. Hal itu hanya bisa terwujud ketika Islam Kaffah terterapkan dalam naungan Khilafah 'Ala Minhaj Annubuwwah []



Sumber: Muslimah News ID 

@infomuslimahjember #infomuslimahjember#jember

0 Comments

Posting Komentar