Kritik Atas Hadits Palsu “Cinta Tanah Air Sebagian dari Keimanan”



/Kritik Atas Hadits Palsu “Cinta Tanah Air Sebagian dari Keimanan”/

Oleh : Ust. Irfan Abu Naveed.

Di zaman ini, di bawah naungan Sistem Demokrasi yang sesat menyesatkan, ada sebagian orang menjadikan hadits palsu sebagai dalih paham sesat Nasionalisme.

Mereka menyebarkan hadits palsu ini dalam buku-buku, diantaranya buku bahan ajar Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk Sekolah Dasar –fakta ini pernah penulis temukan dulu, terlepas apakah mereka menyadarinya atau tidak-.

Redaksinya: حب الوطن من الإيمان “
Cinta tanah air adalah sebagian dari keimanan”

Dan tak kalah ironisnya, penulis menemukan sebuah video yang diupload akun sebuah ormas di Youtube dengan judul “Kesaktian Pancasila Karena Bersumber Dari Al Qur’an”. Dalam video tersebut, pembicaranya menuturkan: “..dan satu hal yang kemudian perlu kita ingat dan kita syukuri adalah bahwa ternyata kecintaan kita kepada Negara Indonesia itu bagian dari wujud keimanan kita kepada Allah… yang salah satunya dalam hadits Rasulullah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- bahwa cinta tanah air itu merupakan bagian dari iman seseorang…”

Padahal Imam ash-Shaghaniy dalam kitab Mawdhuu’aat menyatakan: 

الأحاديث المنسوبة إلى محمد بن سرور البلخي كلها موضوعة. وأحاديث شهر بن حوشب كذلك والله أعلم. ومنها قولهم : (حب الوطن من الإيمان 

“Hadits-hadits yang dinisbahkan pada Muhammad bin Surur al-Bulkhiy semuanya adalah hadits palsu, begitu pula hadits-hadits yang diriwayatkan Syahr bin Hawsyab, wallaahu a’lam. Diantaranya pernyataan: “Cinta tanah air adalah sebagian dari keimanan.”[1] 

Imam as-Suyuthiy mengomentari hadits palsu ini:
حديث حب الوطن من الإيمان. لم أقف عليه

“Hadits cinta tanah air sebagian dari keimanan, tidak saya temukan asal-usulnya.”[2]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy mengungkapkan:

موضوع. كما قال الصغاني ( ص 7 ) و غيره. و معناه غير مستقيم إذ إن حب الوطن كحب النفس و المال و نحوه، كل ذلك غريزي في الإنسان لا يمدح بحبه و لا هو من لوازم الإيمان ، ألا ترى أن الناس كلهم مشتركون في هذا الحب لا فرق في ذلك بين مؤمنهم و كافرهم؟ 

“Hadits palsu, sebagaimana dinyatakan Imam ash-Shaghaaniy (hlm. 7) dan para ulama lainnya. 

Dan maknanya tidak benar karena cinta tanah air seperti cinta diri, cinta harta dan yang semisalnya, semua jenis cinta ini bersifat naluriyyah belaka, tidak ada pujian (dari Allah dan Rasul-Nya) terhadap rasa cinta ini dan tidak termasuk konsekuensi keimanan. Bukankah engkau melihat orang-orang bisa berserikat dalam jenis cinta ini tidak ada perbedaan antara orang-orang yang mengaku beriman dan orang-orang kafir di antara mereka?”[3] 

Maka, penyusun mengingatkan mereka yang giat menyebarkan hadits palsu ini dalam bentuk apa pun, menyebarkannya di tengah-tengah masyarakat dan menisbahkannya pada Rasulullaah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-, evaluasi diri agar tidak melakukan perbuatan yang termasuk ke dalam celaan dalam hadits mutawatir berikut ini:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka ia akan mengambil tempat di dalam neraka.”[4] 

Dalam ilmu ushul fikih, hadits ini jelas mengandung indikasi tegas (qariinah jaazimah) yang menunjukkan keharaman berdusta mengatasnamakan Rasulullaah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-, dengan adanya lafazh (فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ) yang merupakan kecaman keras dari Rasulullaah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-. 

Penjelasan Para Ulama Terkait Berdalil dengan Hadits Palsu (Mawdhuu’) Ketahuilah, hadits palsu (mawdhuu) tidak boleh dijadikan sebagai hujjah. Ini merupakan kesepakatan para ulama, baik ulama ahli hadits (muhadditsuun), ahli tafsir (mufassiruun) maupun para ahli fikih (fuqahaa’ ). 

Dalam Qaamuus al-‘Iqaab dijelaskan: 

لا يجوز اعتباره ولا الاستدلال به، فهو مصنوع مختلَق ملصَق بالنبي صلى الله عليه وسلم وليس هو مما قاله أو فعله أو أقرّه، ولا هو صفة خَلْقية أو خُلُقية له صلى الله عليه وسلم

“Tidak boleh mengambil simpulan hukum dan berdalil dengannya, ia dibuat secara dusta dinisbahkan pada Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-, padahal ia bukan termasuk ucapan, perbuatan atau persetujuan Nabi SAW, bukan pula termasuk karakter penciptaan atau sifat Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-.” 

Memang ada segolongan ulama yang berpendapat bolehnya menggunakan hadits dha’if dalam fadhaa’il al-a’maal dan nasihat (meski yang dikuatkan (rajih): hadits dha’if tidak boleh dijadikan sbg dalil), namun mereka mensyaratkan tiga hal, salah satunya sebagaimana dinyatakan Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalaniy: 
أن يكون الضّعف غير شديد 

“Tingkat kelemahan hadits tersebut tidak boleh lemah sekali.”[5] 

Imam al-Nawawi menyatakan:

قال العلماء من المحدثين والفقهاء وغيرهم‏:‏ يجوز ويستحب العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالضعيف ما لم يكن موضوعا‏ 

“(Sebagian) ulama dari golongan ahli hadits, ahli fikih, dan lainnya berkata: diperbolehkan dan disunnahkan beramal dalam amalan-amalan fadhilah, nasihat dan peringatan dengan hadits dha’if, selama bukan hadits palsu.”[6] Dan hadits palsu adalah seburuk-buruknya jenis hadits dha’iif. Dalam sebuah kitab kajian ilmu hadits dinyatakan:

والضعيف على مراتبَ متفاوتَةٍ بحَسَب شِدَّة ضَعفِ رُواته وخِفَّته، فمنه الضعيف، والضعيف جدًّا، وقد قسّمه علماء المصطلح إلى أنواع كثيرة، وشرُّ أنواعه الموضوع 

“Dan hadits dha’iif dibagi ke dalam sejumlah tingkatan yang berbeda-beda berdasarkan tingkat kelemahan dan kelalaian para perawinya. Diantaranya dikatakan lemah (dha’iif), lemah sekali (dha’iif jiddan). Dan sungguh para ulama ahli ilmu hadits telah membaginya ke dalam banyak jenis, dan yang paling buruk adalah hadits palsu (al-mawdhuu’).”[7] 

Catatan kaki :

[1] Lihat: Mawdhuu’aat al-Shaghaaniy, karya Imam al-Raadhiy al-Shaghaaniy.

[2] Lihat: al-Durar al-Muntatsirah fii al-Ahaadiits al-Musytaharah, Imam al-Suyuthiy. Lihat pula Tadzkiratul Mawdhuu’aat al-Fataniy. 

[3] Lihat: Silsilah al-Ahaadiits al-Dha’iifah (1/110), Muhammad Nashiruddin al-Albaniy. 

[4] Lihat: Tadriib al-Raawiy fii Syarh Taqriib al-Nawawiy (2/177).

[5] Lihat: al-Hadiits (lil mustawaa’ al-raabi’), Jaami’ah al-Imaam Muhammad bin Su’uud al-Islaamiyyah. 

[6] Lihat: al-Adzkaar al-Nawawiyyah, Imam al-Nawawi. Lihat pula Tuhfatul Abraar bi Nukt al-Adzkaar al-Nawawiyyah, Imam Jalaluddin al-Suyuthiy. 

[7] Lihat: al-Hadiits (lil mustawaa’ al-raabi’) (hlm. 40), Sub Bab. Hukm al-‘Amal bil Hadiits al-Dha’iif, Jaami’ah al-Imaam Muhammad bin Su’uud al-Islaamiyyah.

0 Comments

Posting Komentar