London Menutup 500 Gereja; Membuka 432 Masjid Baru


[ INFO INTERNASIONAL] 
/ London Menutup 500 Gereja; Membuka 432 Masjid Baru /

/ Penting untuk Diketahui /
Di tengah gempuran media Inggris yang mendiskreditkan Islam dan pemeluknya, ditambah tekanan pemerintah terhadap lembaga-lembaga Islam di Inggris, populasi muslim terus meningkat dan semakin menunjukkan wajahnya. Mereka membuat makar, namun makar Allah lebih baik.

/ Berita: London Menutup 500 Gereja; Membuka 432 Masjid Baru /
Islamisasi yang merayapi London hampir selesai, dengan beroperasinya ratusan pengadilan syariah di ibu kota tersebut, dan masjid-masjid baru dibuka di dekat gereja-gereja terkenal yang sudah berdiri selama ratusan tahun.
"London lebih Islami dibandingkan negeri-negeri Muslim lain.", komentar Maulana Syed Raza Rizvi, salah satu ulama Islam ternama di "Londonistan", sebagaimana jusnalis Melanie Phillips menyebut Ibukota Inggris. Bukan, Rizvi bukanlah ekstrimis sayap kanan.
Pemenang Nobel Sastra, Wole Soyinka, tidak semurah hati itu. Dia menyebut Inggris sebagai "tempat limbah para islamis."
"Teroris tidak akan tahan dengan multikulturalisme London." komentar Walikota London, Sadiq Khan setelah serangan teror mematikan di Westminster tahun lalu. Kebalikan pernyataan tersebut adalah benar: multikulturalis Inggris menyemai fundamentalisme Islam.
Di atas semua itu, Londonistan, dengan 432 mesjid barunya, telah dibangun di atas reruntuhan menyedihkan Agama Kristen di Inggris. Banyak gereja di London yang telah berubah menjadi masjid.
Institut Gatestone melaporkan: Gereja Hyatt United telah dibeli oleh komunitas Mesir untuk diubah menjadi masjid. Gereja St. Peter telah berubah menjadi Masjid Madinah. Masjid Brick Lane telah dibangun di bekas Gereja Methodis. Bukan hanya gedung-gedungnya yang berubah, namun juga orang-orangnya. Jumlah orang yang masuk Islam bertambah dua kali lipat; sering sebagian mereka memeluk Islam radikal seperti Khalid Masood, teroris yang menyerang Westmister.
Beberapa waktu lalu Daily Mail mempublikasikan foto sebuah gereja dan sebuah mesjid yang jaraknya hanya beberapa meter di jantung kota London. Di Gereja San Giorgio, yang didesain untuk menampung 1.230 jemaat, hanya 12 orang yang menghadiri ibadah. Sementara di Gereja Santa Maria, hanya 20 orang.
Masjid Brune Street Estate memiliki masalah yang berbeda: penuh sesak. Masjid ini memiliki ruangan utama yang hanya mampu menampung 100 jamaah. Pada hari Jumat, orang-orang beriman meluber sampai ke jalan-jalan untuk melaksanakan salat. Hal ini menegaskan trend saat ini, saat Agama Kristen menjadi warisan pusaka, sementara Islam adalah Agama masa depan.
Di Birmingham, kota kedua terbesar di Inggris, sebuah menara masjid menghiasi langitnya. Di sana terdapat petisi agar masjid-masjid di Inggris diperbolehkan memanggil pemeluk Islam untuk melaksanakan salat dengan pengeras suara, tiga kali sehari.
Pada 2020, diperkirakan jumlah muslim yang menghadiri salat jamaah akan mencapai setidaknya 683.000 dan di saat yang sama jumlah penganut Kristen yang menghadiri ibadah mingguan turun menjadi 679.000.
"Lansekap budaya Inggris baru telah tiba; homogenisasi, Agama Kristen sebagai lansekap agama negara berada dalam kemunduran", jelas Ceri Peachof dari Universitas Oxford. Ketika setengah dari populasi muslim Inggris berumur di bawah 25 tahun, seperempat penganut Kristen berumur lebih dari 65 tahun. "Dalam waktu 20 tahun kedepan akan lebih banyak muslim yang aktif dibandingkan jemaat gereja aktif." komentar Keith Porteous Wood, direktur Masyarakat Sekuler Nasional.
Sejak 2001, 500 gereja di London dari segala aliran telah berubah menjadi rumah pribadi. Dalam periode yang sama, mesjid di Inggris telah menyebar cepat. Antara 2012 dan 2014, proporsi orang Inggris (Britons) yang mengidentifikasi dirinya sebagai Anglikan turun dari 21% menjadi 17%, menurun sebanyak 1,7 juta orang, sementara menurut survey yang dilakukan oleh Institut Riset Sosial NatCen, jumlah muslim telah naik hampir satu juta orang. Jemaat gereja menurun dari generasi ke generasi, jumlah mereka tiga kali lebih sedikit dibandingkan Muslim yang secara teratur hadir untuk salat Jumat.
Secara demografis, Inggris telah mendapatkan peningkatan wajah Islam di tempat-tempat seperti Birmingham, Bradford, Derby, Dewsbury, Leeds, Leicester, Liverpool, Luton, Mancehester, Sheffield, Waltham Forest, dan Tower Hamlets. Pada 2015, sebuah analisis tentang nama yang paling umum di Inggris menunjukkan bahwa Muhammad adalah nama yang paling banyak digunakan, termasuk variasi ejaannya seperti Mohammed dan Mohammad.
Kota-kota penting Inggris memiliki populasi musim yang sangat besar: Manchester (15,8%), Birmingham (21,8%) dan Bradford (24,7%). Di Birmingham, kemungkinan seorang anak terlahir dalam keluarga muslim adalah lebih besar dibandingkan terlahir dari keluarga Kristen. Di Bradford dan Leicester, setengah populasi anak-anak adalah muslim. Muslim tidak perlu untuk menjadi mayoritas di Inggris, mereka hanya perlu mengislamisasi secara bertahap kota-kota pentingnya. Perubahan ini telah terjadi. Londonistan bukanlah mimpi buruk; ini (hanya) perubahan budaya, demografi dan kepercayaan, saat penganut Kristen menurun, penganut Islam meningkat.
[Penerjemah : Frida]
——————————
From: Muslimah News ID

0 Comments

Posting Komentar