Mahkota Kemuliaan Bagi Perempuan


/ Mahkota Kemuliaan Bagi Perempuan /
Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd. l Penulis, Motivator dan Pemerhati Remaja
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al-Hujarat [49]: 13)
Jika hati manusia jernih dalam merasa, akalnya tajam dalam membeda maka akan ia jumpai ketenangan hidup bersama Islam. Tidak perlu bersusah hati dengan perbedaan yang ada. Baik beda dalam perkara bangsa, suku bahkan gender. Sekali lagi, sungguh itu semua bukan persoalan. Karena memang demikian fitrah yang Allah subhanahu wa ta'ala sematkan dalam kehidupan.
Adanya perbedaan adalah ketetapan. Bukan untuk memuliakan atau menghinakan antara satu dengan yang lainnya. Karena hina dan mulianya manusia hanya diukur dari kadar takwa.
Tapi ternyata tidak demikian bagi manusia yang terpapar akut oleh sekulerisme dan liberalisme. Enggan taati aturan agama (baca: Islam), berkenan untuk hidup dalam kebebasan. Maka merekapun dengan lancang menggugat ketetapan Tuhan. Mempermasalahkan fitrah yang bersumber dari wahyu demi kebahagiaan semu berbalut nafsu. Padahal, kerja keras dalam gawe semisal itu adalah kesia-siaan. Tidak akan pernah mendatangkan bahagia. Sebaliknya, derita yang akan setia mendera.
Terhangat, mencuat kembali propaganda yang sangat masif tentang tuntutan persamaan gender. Bahwa tidak boleh ada beda antara laki-laki dan wanita. Hak dan kewajiban harus sama. Bahkan, kodrat perempuan sebagai ibu pun turut dipermasalahkan. Tuduhan keji tersemat, bahwa perempuan yang mengabdikan dirinya sebagai ibu rumah tangga adalah manusia kolot yang jauh dari kata mulia.
Dari banyaknya tuntutan, terselip pesan bahwa perempuan harus berdaya. Dalam artian, menghasilkan dari sisi materi agar tidak tertindas oleh laki-laki. Begitulah kaum feminisme memaknai. Bahwa adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah bencana. Bak sebuah kompetisi, maka hidup keduanya harus selalu dalam persaingan. Inikah makna kebahagiaan?
/ Bukan Sekedar Bahagia /
Tidak dipungkiri, lahirnya ide feminisme dan banyaknya kaum hawa yang turut memperjuangkannya menunjukkan bahwa kaum perempuan merasa belum peroleh bahagia. Semakin tahun, peringatannya kian semarak. Semakin banyak pula tuntutan yang diajukan.
Hal ini menunjukkan, persoalan perempuan tidak pernah usai di bawah bendera feminisme. Sebaliknya, nasib makhluk berhati lembut ini justru semakin jauh dari apa yang dipinta. Meski telah berlangsung lebih dari satu abad, hari peringatan ala sekuler-liberalisme yang dikhususkan untuk dirinya. Masihkah berharap pada feminisme yang jumawa?!
Sebagai seorang Muslim, sudah selayaknya bernaung pada bendera Tauhid semata. Islam datang adalah untuk memanusiakan manusia. Bukan sekedar bahagia yang ingin Islam hadirkan. Lebih dari itu, Islam ada untuk memuliakan manusia. Baik adam maupun hawa. Tidak sekedar di dunia, tapi hingga ke surga. Bukankah ini yang manusia cita?
Karenanya, Allah subhanahu wa ta'ala lengkapi Islam dengan syariat kehidupan. Termasuk di dalamnya, Islam juga memiliki aturan dalam perkara hubungan laki-laki dan perempuan. Ada hak dan kewajiban yang tidak bisa disamakan. Karena memang keduanya dicipta dalam kondisi berbeda. Fisik maupun psikologinya. Pun, tidak ada yang paling sempurna dari keduanya. Sehingga tidak ada alasan untuk iri antara satu dan yang lainnya. Begitulah Islam menggariskan, adanya beda bagi dua jenis manusia ini adalah untuk saling menyempurnakan.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala yang telah kita baca bersama, bahwa mulianya manusia bukan karena apapun yang fana. Ketakwaan, inilah satu-satunya ukuran. Maka hakikatnya, yang paling mulia adalah ia yang paling taat pada aturan Tuhannya. Laki-laki menjalankan kewajibannya sebagai laki-laki. Demikian pula hanlnya dengan perempuan, taat menjalankan apa yang Allah subhanahu wa ta'ala titahkan baginya. Itulah mulia.
/ Mahkota Kemuliaan /
Berbanding terbalik dari ide feminis yang menistakan posisi perempuan sebagai Ibu rumah tangga. Islam justru menetapkannya sebagai kemuliaan. Karena memang begitulah fitrah yang telah Allah subhanahu wa ta'ala berikan. Bahwa wanita adalah pemimpin bagi rumahnya.
Adapun laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya. Perempuan haknya adalah dinafkahi, maka lelaki berkewajiban menafkahi. Seorang ibu harus menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, maka Islampun memberikan kesempatan yang sama baginya untuk mengejar ilmu pengetahuan. Maka, menjadi seorang Ibu dan pengelola rumah tangga bukanlah sebab kemunduran. Sebaliknya, ialah pintu kemajuan bagi generasi yang akan datang.
Banyak kalam Allah subhanahu wa ta'ala, juga hadist Rasulullah ﷺ yang menggambarkan kemuliaan perempuan. Bahkan mahkota kemuliaan berupa gelar syuhada dipersembahkan bagi perempuan, tanpa harus terjun di medan perang. Salah satunya adalah dengan menjalankan kewajiban sebagai alumm wa rabbatul bait. Menjadi Ibu sekaligus pengelola rumah tangga.
Inilah jalan takwa yang menghantarkan wanita pada derajat mulia. Bahkan inilah mahkota kemuliaan bagi perempuan. Bukan dengan menggugat ketetapan yang telah Allah subhanahu wa ta'ala gariskan sebagaimana yang dipropagandakan para penyanjung kebebasan. Melainkan beramal dalam taat, menapaki setiap petunjuk yang telah diwahyukan.
Demikianlah seharusnya sikap orang yang yakin akan adanya hari penghisaban. Sami’na wa atho’na. Karena Islam hadir untuk mengatur agar tercipta keteraturan hidup. Bukan untuk menghinakan, tapi untuk memuliakan. Bagi laki-laki, juga teruntuk perempuan. Masyaallah!
——————————

Sumber Muslimah News ID 

@infomuslimahjember #infomuslimahjember

0 Comments

Posting Komentar