Menangkal Logika Sesat Feminisme


/ Menangkal Logika Sesat Feminisme /
Oleh: Ratih Paradini
"If a woman wants tobe a warrior let her be and if a man wants to be a princess let him be"
Begitu bunyi salah satu poster yang terpampang pada Aksi Womens March di Jakarta pada tanggal 3 maret 2018.
Perempuan menuntut kesetaraan. Sebab dalam beberapa kancah peradaban dunia perempuan menjadi mahkluk yang dinomorduakan, ditindas, dan hanya dimanfaatkan sebatas pemenuh syahwat saja. Zaman Yunani Kuno, perempuan adalah makhluk yang amat hina, tugasnya memenuhi nafsu birahi, serta dianggap sebagai penjelmaan setan.
Perlakuan bangsa Persia terhadap perempuan hampir sama, juga menghinakan perempuan. Dalam kehidupan bermasyarakat, perempuan tidak memiliki kuasa apapun. Bahkan ketika masa haid dan nifas, mereka harus mengasingkan diri dari masyarakat
Sekat-sekat seksis dan pandangan patriarki membuat perempuan merasa peran dan ranahnya terbatasi. Keterbatasan ini membuat mereka merasa kemampuannya tidak tereksplor, jadilah kaum hawa selalu hidup di bawah ketiak bani adam.
Kaum feminis berlogika, jika lelaki bisa bekerja di ranah publik maka perempuan juga bisa. Jika lelaki bisa jadi kepala rumah tangga hingga pemimpin negara, perempuan mengapa tidak? Jika lelaki bisa berpakaian seenaknya, perempuan pun harus bisa.
Ketika perempuan masih mengalami permasalah pelecehan, pemerkosaan, penyiksaan hingga penjualan. Kaum feminis menunjuk lelaki sebagai aktor utamanya. Hal ini karena mereka memandang lelaki dan perempuan dalam pandangan yang kompetitif. Logikanya, ketika kekuatannya setara, maka lelaki akan sulit menindas perempuan.
/ Feminisme Sudutkan Islam /
Jika menelisik asal usulnya gerakan feminis ini lahir sekitar tahun 1890-an. Feminisme tidak lahir di tengah peradaban Islam. Namun lucunya mereka banyak mengkritik dan menyudutkan syariat Islam. Padahal jika menginginkan penghargaan, penjagaan, ketenangan dan penghormatan; semua itu sudah diakomodir oleh Syariat Islam.
Feminis tak ingin dilecehkan, tapi tak ingin auratnya disalahkan sebagai biang pelecehan. 'Stop Blaming Victim' kata mereka. Memang tak semua yang terbuka auratnya jadi korban. Tapi pakaian terbuka memicu syahwat lelaki, bukan? Jika sudah demikian, siapapun bisa jadi korban bahkan anak-anak, sebab syahwat sudah tak terbendung. Feminis mengatakan "Bukan rok kami yang mini tapi otak kalian yang mini", lelaki menjawab "Sudah tahu otak kami mini masih juga pakai rok mini". Lalu kapan perdebatan ini berujung?
Feminisme menuntut pendidikan tinggi bagi perempuan. Di zaman peradaban Islam, ada ribuan ulama perempuan tanpa perlu demo menuntut kesetaraan. Dr. Mohammad Akram Nadwi, seorang peneliti di Oxford Centre for Islamic Studies, terkejut dengan penemuannya sendiri.
Penelitiannya tentang ulama hadist perempuan, ia menduga hanya akan menemukan 20 - 30 ulama perempuan, ternyata dia menemukan lebih dari 8000 ulama perempuan, hingga kamus biografinya sekarang sudah mencapai 40 volume. Beliau bahkan yakin, angka 8000 ini belum menunjukkan angka yang sebenarnya. Bahkan pendiri Universitas pertama di dunia (Al-Qarawiyyun) adalah seorang perempuan, menakjubkan bukan? Begitulah output Sistem Islam.
Feminisme menuntuk hak-hak politik. Jauh sebelumnya, para muslimah di zaman Khalifah Umar sudah punya 'panggung' mengkritik penguasa.
Kala feminisme tak ingin perempuan dinomorduakan. Dalam Islam perempuan bahkan 3X dinomorsatukan. Rasulullah bersabda “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu,” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab Rasulullah (HR. Bukhari dan Muslim).
/ Kebebasan Merusak Perempuan /
Justru ide kebebasan telah menjadi jalan merusak perempuan. Analogi sederhana seperti laptop, yang paling mengetahui fungsi laptop adalah pencipta laptop, jika penggunanya berujar "Laptop punya Saya, terserah mau Saya apakan. Untuk melempar mangga, atau jadi keset kaki terserah saya". Kesudahan cerita dari laptop tersebut bisa ditebak, pasti rusak. Sama halnya manusia, yang paling tahu aturan-aturan peran dan fungsinya adalah penciptanya. Melewati batas-batas aturan Tuhan justru menjerumuskan pada kerusakan.
Perbedaan biologis, anatomis, fisologis hingga hormonal membuat tabiat lelaki dan perempuan berbeda. Wajar jika peran dan tanggung jawab yang telah Allah tetapkan juga berbeda. Bukan untuk berkompetisi tapi untuk bersinergi, mulia dengan perannya masing-masing. Sebab Allah tidak melihat kasta manusia dari gender tetapi dari ketaqwaannya.
Dalam sejarah Islam, perempuan muslimah pernah protes kepada Rasulullah terhadap perbedaan syariat antara lelaki dan perempuan. perempuan bernama Zainab datang menemui Rasulullah ﷺ lalu berkata:
"Aku telah diutus oleh kaum perempuan kepada Engkau. Jihad yang diwajibkan oleh Allah atas kaum lelaki itu, jika mereka luka parah, mereka mendapat pahala. Dan jika mereka gugur pula, mereka hidup disisi Tuhan dengan mendapat rezeki. Manakala kami kaum perempuan, sering membantu mereka. Maka apakah pula balasan untuk kami?"
Rasulullah ﷺ bersabda "Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui dari kaum perempuan, bahwasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi adalah sangat sedikit sekali daripada golongan kamu yang dapat melakukan demikian”
Protes mereka bukan landasan materi sebagaimana budak-budak dunia masa kini, yang ingin menyaingi lelaki dalam harta dan dunia. Protes mereka landasan iman, inginkan tugas syariat agar mendapat limpahan pahala hingga akhirat.
——————————
Sumber: Muslimah News ID 


@infomuslimahjember #infomuslimahjember 

0 Comments

Posting Komentar