Pelajar Jadi Begal, Salah Siapa?



[INFO JEMBER] 
Pelajar Jadi Begal, Salah Siapa?

Oleh : Eka Kirti Anindita, S.Pd. (Pengajar SMK Inklusi Jember dan Pemerhati Generasi) 

Bicara masalah pelajar memang tak ada habisnya. Dari dulu guru selalu dipusingkan dengan kenakalan siswanya, orang tua dipusingkan dengan ulah anak-anaknya. Sebetulnya ada juga para pelajar yang berprestasi, bahkan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Namun mana yang lebih banyak menghiasi berita di media? Yang bikin bangga atau yang menimbulkan masalah??

Kalau dulu, kenakalan pelajar masih seputar bolos sekolah, absen dari mengerjakan PR, contek mencontek, bertengkar, corat coret seragam saat lulusan, dan paling parah adalah tawuran. Lalu kini?? Kenakalan pelajar meningkat mengalahkan ‘kenakalan orang tua’.Berita kriminalitas yang dilakukan oleh pelajar hampir setiap pekan muncul di media massa. Mulai dari penyalahgunaan narkoba, pencurian, pemerkosaan terhadap teman, bahkan yang sampai membuat heboh adalah pelajar yang menganiaya gurunya.

Belum tuntas pengusutan kasus pelajar yang menganiaya guru SMK Teknologi Balung, kini muncul masalah pelajar membegal. Sebagaimana yang diberitakan www.suarajatimpost .com, pelajar di Bangsalsari berinisial MAA (16) dikenal bengal dan diketahui selama 4 bulan tidak sekolah kini bertindak kriminal dengan membegal dan membawa kabur motor milik temannya sendiri. Tidak hanya membegal, tersangka juga dengan tega melukai korbannya dengan menusuk punggung dan ketiak menggunakan sebelah pisau.

Berbagai kasus yang dilakukan pelajar tersebut tentu harus menjadi perhatian apalagi di tengah gencar-gencarnya penerapan kurikulum pendidikan berkarakter (K13 revisi) yang hendak membentuk pelajar memiliki karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Ketika pemerintah telah menerapkan kurikulum pendidikan karakter seharusnya bisa menekan angka permasalahan kenakalan para pelajar, tapi realita di lapangan berlaku sebaliknya. Apakah kurikulumnya yang salah? Atau orang tua yang kurang bisa mendidik anak? Atau guru dan sekolah yang gagal mendidik muridnya? Atau para pelajar itu saja yang khilaf?

Jika kita menyalahkan para siswa, tentu mereka salah karena tidak bisa mengendalikan diri. Tapi mereka demikian tak lepas dari peran orang tua dalam mengasuh mereka. Masalahnya kini banyak orang tua yang abai terhadap para anaknya. Orang tua cenderung menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menyita waktu untuk berkumpul dan mendidik anak. Belum lagi tak sedikit orang tua yang broken home atau pergi ke luar negeri sehingga anak tidak mendapat pendidikan yang tepat dari keluarga. Ketika di sekolah, pendidikan saat ini ‘direcoki’ dengan gonta ganti kurikulum dan berbagai kebijakan yang membuat guru kesulitan fokus mendidik siswa. Di saat bergaul di luar, para siswa bertemu dengan kawan-kawan yang membawa pengaruh negatif.

Sudah jadi rahasia umum bahwa banyak pergaulan atau perkumpulan remaja dan pelajar yang diisi dengan aktivitas melanggar aturan. Sedangkan masyarakat pun abai dengan masalah tersebut. Masyarakat cenderung membiarkan dan menganggap hal tersebut wajar terjadi. Di saat yang sama, berbagai tayangan di media mempertontonkan gaya hidup liberal, hura-hura, pacaran sex dan narkoba jadi hal biasa. Apalagi hukuman atau sanksi yang diberikan tidak menjerakan. Walhasil lengkaplah sudah faktor yang melahirkan pelajar amoral dan jauh dari agama. Semua terkait sebagai sistem rusak. Tak heran jika masalah yang ditimbulkan meningkat, baik kuantitas maupun ‘kualitas’ keburukannya.

Jika sudah sedemikian hingga, masihkah kita mendiamkan hal tersebut? Boleh jadi kita terkategori orang tua yang berhasil mendidik anak, boleh jadi kita sebagai guru yang berhasil mendidik murid, boleh jadi kita saat ini sebagai pihak yang bisa menjaga anak dan pelajar yang dalam jangkauan kita. Tapi bicara masalah pelajar adalah bicara masa depan generasi. Jika makin banyak pelajar yang terlibat masalah, maka masa depan banglah yang akan dipertaruhkan. Tentu kita tak ingin anak cucu kita kelak dipimpin oleh pemimpin-pemimpin bermasalah. Oleh karenanya butuh curahan pemikiran, perhatian, dan aksi dari semua pihak untuk menyelamatkan generasi. Butuh solusi paripurna sehingga masalah pelajar tuntas hingga akar.

Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim dan Jember bahkan sebagai kota seribu pesantren, tentu bisa dijadikan pertimbangan. Kita sebagai muslim harus mengembalikan solusi masalah pada Islam, sebagai agama yang sempurna dan rahmatan lil alamin. Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Ar-Ruum ayat 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Maka sudah saatnya bagi kita untuk kembali pada Islam dengan menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan. Sehingga terwujudlah generasi yang bertaqwa, keluarga yang mampu mendidik anaknya dengan Islam, sekolah dan pendidikan yang melahirkan calon pemimpin bertaqwa, masyarakat yang peka dan peduli terhadap generasi, serta negara yang akan mencetak generasi unggul serta mencegah generasi rusak dengan berbagai kebijakan dan sanksinya. Wallahua’lam.[] 

Sumber: Suara Jatim Post 

0 Comments

Posting Komentar