Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Langkah Kemajuan



/ Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Langkah Kemajuan? /
Oleh: Nida Saadah
Negeri-negeri kaum muslimin kian melaju dalam berbagai program memberdayakan perempuan secara ekonomi (mempekerjakan perempuan). Beberapa komitmen dikukuhkan untuk memastikan program ini berjalan masif di negeri-negeri kaum muslimin. Sejak diluncurkannya CEDAW, BPFA, MDGs, APEC ‘Women and The Economic Forum’, hingga ‘Planet Fifty-Fifty’.
Logika yang dipakai sederhana dan sangat materialistik. Tolok ukur kontribusi adalah seberapa besar materi yang dihasilkan. Bahkan, dikaitkan dengan problem kemiskinan. Perempuan yang tidak berkontribusi materi dituding menjadi salah satu penyebab problem kemiskinan negara.
Padahal, semestinya pertanyaan besarnya adalah kenapa kemiskinan bisa terjadi di negeri-negeri kaum muslimin yang nyata-nyata terdapat sumber daya alam melimpah? Benarkah dengan menggerakkan perempuan secara masif dalam perekonomian akan melejitkan ekonomi sebuah bangsa? Lalu, bagaimana solusi tuntas problem kemiskinan tanpa membuat perempuan semakin menderita karena harus berhadapan dengan sekian dilema?
/ Kemiskinan dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan /
Upaya masif mendorong para perempuan bekerja dengan harapan akan mengentaskan kemiskinan keluarga dan bangsa, hanyalah sekedar angan-angan. Meskipun program pemberdayaan ekonomi perempuan sudah berjalan selama puluhan tahun, kemiskinan yang terjadi di berbagai negeri kaum muslimin tidaklah berubah. Bahkan semakin parah.
Meningkatnya partisipasi pekerja perempuan dapat dilihat dari tren beberapa tahun terakhir. Dari data BPS 2017, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan 55,04 persen. Meningkat dibandingkan tahun 2016 sebesar 52,71%. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, pertumbuhan jumlah pekerja perempuan meningkat setiap tahunnya. Pada 2015, 38% dari 120 juta pekerja di Indonesia adalah perempuan.
Ironisnya, meski jumlah perempuan yang bekerja semakin meningkat dari tahun ke tahun, jumlah penduduk miskin juga terus mengalami peningkatan.
Pada 2017, menurut Asian Development Bank: Di Indonesia, 10,9% populasinya hidup di bawah garis kemiskinan nasional. 10,4% populasi pekerjanya berpendapatan di bawah paritas daya beli $1,90. Dari 1000 bayi yang lahir di Indonesia, 23 di antaranya meninggal sebelum usia satu tahun. Kondisi di lapang bisa jadi lebih parah jika ukuran yang dipakai adalah standar kebutuhan pokok yang ditetapkan Islam, yakni pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.
Hal ini disebabkan gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan tidak menyentuh masalah utama penyebab kemiskinan di negara-negara berkembang. Yakni terjebak perangkap utang (debt trap) negara Barat, sumber daya alam dirampas negara Barat melalui privatisasi, dan terperangkap dalam mekanisme kendali negara Barat atas perdagangan internasional yang tidak adil. Sehingga, jadilah gerakan mendorong perempuan bekerja secara masif hanya sekedar gerakan bertahan hidup di tengah situasi sulit. Bukan melejitkan ekonomi negara sebagaimana dipropagandakan barat.
/ Penyebab Kemiskinan di Indonesia dan Negeri-Negeri Kaum Muslimin /
Kesulitan ekonomi yang saat ini dihadapi Indonesia dan berbagai negeri muslim lain, bukanlah suatu kebetulan semata. Ini adalah hasil kebijakan buatan manusia dan cacatnya ekonomi kapitalisme yang diterapkan. Padahal, Allah SWT telah melimpahkan dunia ini dengan sumber daya melimpah, kekayaan alam dan mineral, hutan luas, lautan, dan gurun.
Ketidakadilan pengelolaan sumber daya alam dalam hegemoni peradaban Barat inilah yang membuat kekayaan alam tersebut hanya tersedia untuk kalangan elit dan kaya. Sementara, kalangan miskin kelaparan dan amat menderita.
Ini adalah filosofi dasar kapitalisme yang cacat, yang percaya bahwa manusia memiliki kebutuhan tidak terbatas sementara sumber dayanya terbatas, yang mewajarkan sebagian besar dari masyarakat untuk hidup di bawah garis kemiskinan.
Padahal, pada kenyataannya sumber daya yang ada di dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap manusia, karena Allah (SWT) berfirman, " Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya." [TQS Fussilat 41 : 10]
Kemiskinan yang sangat menyedihkan yang kita lihat di dunia muslim saat ini dan secara global adalah akibat langsung dari kecacatan dan ketidakadilan pengelolaan ekonomi, kekayaan, dan sumber daya lahan oleh sistem buatan manusia.
Kebebasan kepemilikan, kebijakan pasar bebas, dan model keuangan kapitalisme berbasis bunga mengakibatkan kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir elit, sementara masyarakat kelaparan dan miskin.
Para penguasa di negeri-negeri muslim telah menjual kekayaan alam milik umat ini kepada negara dan perusahaan Barat, mengeksposnya hingga ke tataran eksploitasi. Inilah penyebab kemiskinan yang sebenarnya. Bukan karena perempuan tidak berkontribusi ekonomi dalam pembangunan.
/ Penyebab Kemiskinan Massal di Dunia Islam Era Kini /
Pertama, Pinjaman Berbasis Bunga. Perekonomian berbasis bunga telah melumpuhkan ekonomi kita. Sebagian besar pendapatan negara terserap hanya untuk membayar bunga utang, sehingga negara tidak memiliki dana memadai untuk membiayai pembangunan, melayani pemenuhan kebutuhan mendasar rakyatnya, dan mencari pemecahan dengan berutang kembali. Dengan cara seperti ini, mustahil Indonesia bisa melunasi utang sampai kapan pun. Kecuali Indonesia membuat lompatan besar dalam merevolusi perekonomiannya.
Kedua, Privatisasi Sumber Daya Alam. Di bawah kebebasan kepemilikan dan ekonomi pasar bebas, sumber daya utama seperti minyak, gas, listrik, mineral, dan bahkan air yang merupakan kebutuhan vital bagi orang-orang dari negara manapun, boleh diprivatisasi dan diberikan kepemilikan pribadi. Ini menyebabkan orang dari dunia muslim terkena tindakan korporasi rakus yang memeras kebutuhan dasar masyarakat, seperti listrik, gas, bahan bakar, bahkan air.
Ketiga, Liberalisasi Perdagangan. Liberalisasi perdagangan dan perjanjian perdagangan bertujuan untuk menghilangkan hambatan dan batasan perdagangan internasional, sehingga membuka pasar di negara berkembang untuk produk dan investasi dari negara-negara asing. Kebijakan ini telah menyebabkan pasar lokal dibanjiri dengan produk murah dari negara-negara luar, sehingga bisnis lokal dan petani kalah bersaing dari sisi harga, yang mengarah ke kehancuran perdagangan lokal dan pedagang.
/ Kemana Harus Berharap? /
Kemiskinan yang terjadi di Indonesia dan berbagai negeri muslim bisa diakhiri dengan menolak sistem kapitalisme yang gagal, demokrasi yang sekuler, dan menolak nation state yang membuat Indonesia dan berbagai negeri muslim menjadi lemah dan kehilangan sumber daya alam.
Kita harus mengganti para penguasa korup dan tidak kompeten. Kita harus menolak campur tangan lembaga asing. Kita juga harus menolak model perempuan sukses dan pemberdayaan perempuan ala Barat, yaitu ‘dengan menjadi perempuan bekerja’ yang telah dijual sebagai kebohongan untuk menjebak dan mengeksploitasi para muslimah.
Hanya Khilafah yang mampu mewujudkan perubahan nyata untuk para perempuan di dunia Islam. Khilafah adalah sebuah negara yang dibangun di atas perundang-undangan Islam dan menerapkan Hukum Allah SWT secara komprehensif.
Khilafah berasaskan akidah Islam, dibangun atas ketaatan pada Allah dan meraih ridha-Nya semata. Khilafah akan mengakhiri kepemimpinan gaya hidup materialistik konsumeristik. Khilafah dipimpin oleh penguasa terpilih yang transparan, adil, independen, dan pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab kepada rakyat dengan tulus.
Khilafah akan menghasilkan kondisi lingkungan yang penuh takwa, meminimalisir korupsi, memastikan kejujuran dalam transaksi, dan memelihara pola pikir yang bertanggung jawab di mana rakyatnya akan membenci penindasan dan eksploitasi. Khilafah akan memenuhi tanggung jawab ekonomi dan sosial bagi keluarga, tetangga, karyawan dan masyarakat.
/ Mekanisme Negara Khilafah Mengentaskan Kemiskinan Tanpa Mengeksploitasi dan Memanipulasi Para Perempuan /
Pertama, Negara Khilafah akan mengakhiri segera pembayaran utang berbasis bunga (riba) dari IMF dan semua pinjaman lain, karena Khilafah adalah negara yang mandiri tidak bergantung pada bantuan asing apapun. Dengan banyaknya pendapatan yang dimilikinya, Khilafah akan memprioritaskan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar bagi semua warga negara akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal, serta menginvestasikan sisanya untuk kebutuhan warga negara seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pertanian.
Kedua, Negara Khilafah akan menghapus perekonomian rakyat berbasis riba. Menutup bank-bank ribawi dan mengalihkannya pada produk keuangan syariah. Menyediakan investasi bebas bunga dalam bisnis lokal, proyek-proyek infrastruktur, atau pengembangan lahan yang semuanya akan menghasilkan lapangan kerja.
Ketiga, Negara Khilafah akan melarang semua bentuk penimbunan kekayaan, memastikan bahwa kekayaan beredar di tengah masyarakat dan memberikan insentif pada pembelanjaan dan investasi dalam bisnis.
Keempat, Negara Khilafah akan menstabilkan pasokan uang dan harga dengan memastikan bahwa mata uang kertas sepenuhnya didukung oleh emas atau perak, mencegah inflasi yang dihasilkan dari manipulasi oleh pemerintah atau spekulan uang kertas yang tidak didukung oleh aset.
Kelima, Negara Khilafah akan menghilangkan segala bentuk pajak. Khilafah akan menerapkan skema perpajakan rendah yang hanya ditarik dari warganya yang kaya.
Keenam, Negara Khilafah akan mengelola semua sumber daya milik umum dan menggunakannya untuk kepentingan umum sehingga semua merasakan manfaat dari aset-aset penting. Pemasukan dari sumber daya alam akan dibelanjakan untuk pendidikan, kesehatan, pertahanan, infrastruktur, dan mengentaskan rakyat keluar dari kemiskinan.
Dan yang terakhir, Negara Khilafah akan meninjau kembali lahan-lahan pertanian, sehingga para pemilik lahan yang mengabaikan tanahnya akan diberi peringatan untuk segera mengolahnya. Jika dalam jangka waktu tiga tahun pemilik tanah masih menelantarkan lahannya, maka Khilafah akan melakukan penyitaan dan diberikan kepada mereka yang bersedia dan mampu mengelolanya. Semua ini akan meningkatkan hasil pertanian Khilafah dan meningkatkan kepemilikan tanah yang bisa menjadi jalan pengentasan warga dari kemiskinan.
Khilafah, adalah sebuah sistem yang benar-benar akan membuat kemiskinan, eksploitasi, dan perbudakan menjadi sejarah. Tidak akan menolerir kelaparan satu warganya walau untuk satu hari saja. Sebuah sistem yang akan membangun pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menghilangkan pengangguran massal, juga menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan gratis. Sistem ekonomi berbasis industri dan kemajuan teknologi, sehingga benar-benar akan memberdayakan rakyatnya
Dalam kehidupan Negara Khilafah, bekerja bagi seorang perempuan betul-betul hanya sekedar pilihan, bukan tuntutan keadaan. Jika dia menghendaki, dia boleh melakukannya. Jika dia tidak menghendakinya, dia boleh untuk tidak melakukannya. Bandingkan dengan kondisi sekarang di mana perempuan banyak dipekerjakan dengan upah yang sangat rendah dan tidak layak karena tidak punya alternatif pilihan yang lain.
Dalam Negara Khilafah, pilihan ini bisa diambil perempuan secara leluasa, karena Islam menjamin kebutuhan pokok perempuan dengan mekanisme kewajiban nafkah ada pada suami/ayah, kerabat laki-laki bila tidak ada suami/ayah atau mereka ada tapi tidak mampu, serta jaminan Negara Khilafah secara langsung bagi para perempuan yang tidak mampu dan tidak memiliki siapapun yang akan menafkahinya seperti para janda miskin.
Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: “…siapa saja yang meninggalkan kalla, maka dia menjadi kewajiban kami.” (HR Imam Muslim). Maksud dari kalla adalah orang yang lemah dan tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai orang tua.
Dalam Negara Khilafah Islam tidak akan ada perempuan terpaksa bekerja mencari nafkah dan mengabaikan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Sekalipun Islam tidak melarang perempuan bekerja, tapi mereka bekerja semata mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat, sementara tanggung jawab sebagai istri dan ibu akan tetap terlaksana.
Pemberdayaan ekonomi perempuan dalam rangka mengentaskan kemiskinan, hakikatnya adalah ‘genderang perang’ Barat terhadap peran keibuan, merampok waktu berharga seorang ibu, mengorbankan tugas penting mereka sebagai pengasuh dan pendidik generasi masa depan. [NS]

Sumber: Muslimah News ID 

——————————
@infomuslimahjember #infomuslimahjember

0 Comments

Posting Komentar