Pemimpin Islam Anti Pencitraan


[SUARA MUSLIMAH] 
Pemimpin Islam Anti Pencitraan

Oleh : Lailin Nadhifah Spd (Lingkar Studi Perempuan Peradaban-LSPP)

2018 tahun politik. 153 daerah akan memilih pemimpin daerah yang baru. "Bunga" pencitraan bermekaran bak musim semi. Rakyat kembali disapa dan di kunjungi paslon pemimpin daerah. Daerah kumuh, pasar, rumah sakit, sekolah, daerah tertimpa bencana, menjadi "sasaran" pencitraan. Tak luput, penampilan merakyatpun seperti kaos oblong, sandal jepit, celana kusam, wajah ndeso dan melas melengkapi. Profesi merakyatpun dilakoni, jadi tukang becak, kondektur, buruh angkut pasar, menyapu jalanan, menyempurnakan kesan paslon sangat mengerti derita hidup rakyat. Tersirat menyampaikan pesan " Kami akan angkat kalian dari semua derita dan membuat kalian sejahterah".

Sudah jamak, pesta demokrasi pemilihan kepala daerah sampai kepala negara juga legislatif dan eksekutif, melakoni ritual cari muka atau pencitraan.Tujuannya satu, menggasak suara sebanyak banyaknya. Herannya, masih saja ada yang percaya. Padahal, tak terhitung berapa kali tertipu. Kata pepatah, habis manis sepah dibuang. Setelah suara diraup, siapa loe nagih nagih janji.

Penyebab rakyat tertipu lagi dan lagi, oleh pencitraan politikus tidak lebih karena minimnya kesadaran politik yang benar. Yaitu kesadaran yang dibangun diatas pengaturan urusan hidup mereka baik di dalam negri ataupun diluar negri dan menjadikan ideologi yang sesuai dengan fitrahnya, menentramkan hati dan sesuai dengan pemikirannya sebagai acuan.
Jika demikian, mereka tidak akan tertipu oleh pencitraan bahkan oleh bantuan terselubung di balik sepaket sembako, selembar kerudung, atau angpao. Kesadaran itu tidak akan membuat mereka terperosok pada lubang yang sama untuk kedua kali. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW :

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidaklah seorang mukmin tersengat bisa dari lubang (binatang berbisa) yang sama sebanyak dua kali.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Islam melarang berbuat ceroboh dan mudah tertipu serta wajib senantiasa sadar dan waspada. Maka apabila seorang mukmin "tersengat "pencitraan dalam satu lubang untuk kali pertama maka itu satu kelalaian. Namun jika ia kembali memasukkan tangannya kedalam lubang tersebut maka itu dungu dan tolol.

Dan kaedah ini –sebagaimana terlihat- berkenaan dengan hal-hal yang sifatnya tersembunyi dan samar- samar , yang tidak diketahui manusia kecuali dengan pengalaman (telah mengalami), maka dimaklumi jika seorang terjatuh kedalammya untuk kali yang pertama, namun jika mengulangi maka ia dicela dan disalahkan karena telah terang baginya hal itu.

Terlepas dari tak terhitungnya rakyat tertipu oleh pencitraan politikus demokrasi kapitalis. Bahwa, suatu kewajaran di sistem demokrasi kapitalis, politikus harus piwai melakukan pencitraan bahkan saat berkuasapun mewujudkan janjinya juga "lips". Asal terealisasi, persoalan kualitas dan mampukah menyelesaikan persoalan rakyat, tunggu dulu...pilih lagi untuk periode berikutnya. Mengapa wajar demokrasi mencetak politikus cari muka? Pencitraan melulu?
Demokrasi, sistem politik yang lahir dari ideologi kapitalis sekuler. Demokrasi membentuk politikus menjadikan kekuasaan sebagai ajang eksistensi dan sumber materi. Seperti yang diungkapkan oleh Milton Friedmen dalam bukunya “Capitalism and Freedom” sistem ekonomi(kapitalis) merupakan buah dari kesepakatan politik.

Demokrasi dipandang sebagai gagasan yang paling tepat untuk menjalankan sistem pemerintahan suatu negara. Demokrasi menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dimana didalamnya memuat kebebasan individu. Dalam penerapannya demokrasi sebagai sebuah sistem pemerintahan sering digunakan sebagai tempat berlindung bagi kapitalisme. Hal ini dapat terjadi karena kapitalisme mengendalikan demokrasi bukan demokrasi yang mengendalikan kapitalisme. Ketika kapitalisme mempunyai kekuatan yang lebih besar maka kapitalisme akan mengendalikan demokrasi melalui mekansime pemerintahan.

Kapitalis butuh politikus yang bisa menjadi mesin pencetak keuntungan. Gelontoran dana selama pencalonan harus dikembalikan setelah politikus menjabat.
Oleh sebab itu politikus harus licin bak belut agar bisa bertahan dan eksis. Maka pencitraan adalah keniscayaan. Mengadaikan idealisme atau keyakinan, tidak lagi dipersoalkan. Yang wajib adalah menjabat, menjabat dan menjabat lagi.

/Islam Mencetak Pemimpin Amanah/

Berangkat dari sabda Rosulullah SAW
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه

Artinya:
Diriwayatkan Abdullah bin Maslamahdari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin umar r.a berkata : saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan di minta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan dimintai pertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya ...."

Pemimpin Islam menjadikan kekuasaan sebagai ladang pahala. Melayani urusan hidup rakyat dengan sepenuh hati. Sampai dipastikan bahwa semua rakyat terpenuhi kebutuhannya dan hidup sejahterah.

Sebagaimana kisah masyhur yang dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab RA, memanggul bantuan sembako untuk janda dan anak2nya. Sekaligus, memasakkan dan menyuapi anak anak janda tersebut sampai kenyang, wujud pertanggung jawabannya. Bahkan, saat pelayan Sang Khalifah hendak membantu memanggul sejumlah bantuan yang akan diberikan kepada Ibu janda dan anak anaknya, jawaban tegasnya menyentak relung hati "....Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”. Luar biasa. Hanyalah Allah yang membuat pemimpin Islam takut dan berharap hanya pada keridhoan Allah semata.

Melompat ke masa sekian abad setelah Khalifah Umar Bin Khattab. Adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Khalifah yang mematikan lentera ruang kerjanya saat putranya hendak mengajaknya diskusi diluar urusan negara. Saat putranya terkejut dengan tindakannya, Sang Khalifah menjelaskan dengan tegas dan penuh kelembutan bahwa lentera dibiayai uang negara. Uang diperoleh dari harta yang bukan kepemilikan pribadi. Sehingga, tidak bisa cahaya digunakan untuk pembicaraan pribadi. Luarbiasa. Sosok sosok anti mainstream yang ada bukan karena semata personalnya, namun ideologi Islam telah menancap dalam diri mereka dan melebur menjadi darah dalam tubuhnya.

Islam ideologi yang sempurna dan paripurna telah Allah SWT tegaskan dalam
Qs. Al maidah:3
ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu

Begitu pula dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Semua urusan hidup manusia sbg pribadi, bagian dari masyrakat juga bernegara diatur secara komprehensif dalam Al Qur'an dan As Sunnah. Begitu juga terkait dengan sosok sosok pemimpin negara yang layak dipilih.

Imam Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya:

1. Adil dengan ketentuan-ketentuannya.
2. Ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum.
3. Sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan.
4. Normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi.
5. Bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara.
6. Keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.

Dengan kriteria pemimpin tersebut, serta keimanan kepada Dzat Yang Maha Menghisab setiap perbuatan pemimpin muslim jauh dari pencitraan dan kerja sebatas lips service.

Sumber: http://www.syariahnews.com/2018/02/pemimpin-islam-anti-pencitraan.html?m=1

@infomuslimahjember || #infomuslimahjember

0 Comments

Posting Komentar