Perempuan Bukan Tumbal Kesejahteraan



/ Perempuan Bukan Tumbal Kesejahteraan /

Oleh: Ragil Rahayu Wilujeng, SE

Ide feminisme hadir karena kegagalan kapitalisme menyejahterakan perempuan. Feminisme pertama menggejala di Amerika tahun 60-an dengan tokohnya Betty Friedan, penulis buku The Feminine Mystique. Saat itu terjadi diskriminasi terhadap pekerja perempuan terkait upah. Kaum feminis lalu menuntut upah sama dengan laki-laki untukpekerjaan yang sama. Mereka berhasil mendorong dikeluarkannya Equal Pay Right (1963).

Pada 1975 diselenggarakan Konferensi Perempuan Sedunia Pertama di Mexico City dengan slogan "Gender, development, dan equality". Sejak itu, pengarusutamaan jender atau gender mainstreaming melanda dunia. Sehingga indeks pembangunan jender menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan. 

Feminis memandang bahwa perempuan harus diberi hak untuk tampil di ruang publik. Karena ruang domestik tidak mendukung kesejahteraan perempuan. Aktifitas rumah tangga dipandang tidak produktif secara ekonomi sehingga menjadikan perempuan tergantung secara ekonomi kepada laki-laki. Perempuan harus dibebaskan bekerja di luar rumah, agar sejahtera. Maka berbondong-bondonglah perempuan keluar rumah untuk bekerja. Tak cukup sampai di situ, selanjutnya muncullah konsep pemberdayaan ekonomi perempuan. Perempuan didaulat sebagai economic driver (penggerak ekonomi). 

Meski telah "berjuang" menyejahterakan perempuan selama puluhan tahun, namun kesejahteraan perempuan masih menjadi mimpi yang tak kunjung terwujud. Permasalahan PHK sepihak dan upah rendah masih menjadi hantu bagi buruh perempuan. Juga problem buruh migran yang tak kunjung usai. 

Di sisi lain, akibat perempuan diprovokasi untuk keluar rumah, urusan rumah tangga dan pengasuhan menjadi terbengkalai. Muncul lost generation yang terindikasi pada maraknya narkoba, seks bebas, kekerasan dan setumpuk persoalan generasi lainnya. Ibarat jatuh tertimpa tangga. Itulah nasib perempuan di alam kapitalis. Sudahlah tak sejahtera, generasi hilang pula. 

/ Islam Menjamin Kesejahteraan Perempuan /
Pokok kesalahan kapitalisme adalah memandang perempuan sebagai faktor produksi. Sehingga perempuan dipaksa bertugas ganda. Di rumah mengurus rumah tangga, di luar rumah menanggung ekonomi keluarga, bahkan negara. Sedangkan Islam memandang perempuan sebagai ciptaan Allah ta'ala. Di dalam Islam, kesejahteraan perempuan itu ditanggung. Jadi perempuan tidak dibebani untuk menyejahterakan dirinya. Karena tugas perempuan adalah mengurus rumah tangga dan sebagai ibu mendidik anaknya agar menjadi calon pengisi peradaban Islam nan gemilang di masa depan. Perempuan adalah tonggak peradaban, bukan tumbal kesejahteraan. 

Lalu, siapa yang menanggung kesejahteraan perempuan? Yang pertama adalah walinya. Jika dia gadis, maka yang menanggung adalah ayahnya. Jika dia sudah menikah, yang menanggung nafkahnya adalah suaminya. Jika dia menjadi janda, maka nafkahnya kembali ditanggung ayahnya. Jika tak ada ayah, tak ada suami, maka jalur wali yang menanggung nafkahnya. Yaitu ayahnya ayah, saudara laki-laki, anak laki-laki, dll. 

Jika para wali tidak menjalankan kewajibannya, maka perempuan itu bisa mengajukannya pada khalifah untuk dicarikan solusi. Seperti Hindun istri Abu Sufyan yang mengeluhkan kurangnya nafkah karena suaminya pelit. Maka Rasulullah memberi solusi Hindun boleh mengambil harta suaminya tanpa ijin, tapi secukupnya saja. Jika perlu negara bisa memberi sanksi pada wali yang malas bekerja atau tak mau menafkahi. Agar para laki-laki mampu bekerja maka khilafah menerapkan sistem ekonomi Islam yang menghasilkan ketersediaan lapangan kerja dan usaha. 

Jika semua wali tidak mampu (fakir dan miskin) maka perempuan ditanggung kesejahteraannya oleh negara. Wujudnya adalah :

/Pertama/. Untuk kebutuhan dasar kolektif seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan maka negara menyediakan untuk semua warga negara secara gratis dan berkualitas. Ketentuan ini didasarkan pada sabda Rasulullah : Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR al-Bukhari).

Perempuan bisa bersekolah dan menyekolahkan anaknya serta mendapat layanan kesehatan tanpa harus mengeluarkan uang. Seluruh pembiayaan pendidikan dan kesehatan di dalam Khilafah diambil dari Baitul Mal. Yakni dari pos fai’ dan kharaj serta pos milkiyyah ‘amah. Seluruh pemasukan Negara Khilafah, baik yang dimasukkan di dalam pos fai’ dan kharaj, serta pos milkiyyah ‘amah, boleh diambil untuk membiayai sektor pendidikan dan kesehatan.

Jika harta di Baitul Mal habis atau tidak cukup untuk menutupi pembiayaan pendidikan, maka Khilafah meminta sumbangan sukarela dari kaum Muslim. Jika sumbangan kaum Muslim juga tidak mencukupi, maka kewajiban pembiayaan untuk pos pendidikan beralih kepada seluruh kaum Muslim. Dalam kondisi seperti ini, Allah subhanahu wa ta'ala memberikan hak kepada negara untuk memungut pajak (dharibah) dari kaum Muslim. Hanya saja, penarikan pajak dilakukan secara selektif.(Syamsudin Ramadhan, 2017).

/Kedua/. Untuk kebutuhan dasar individual yaitu sandang, pangan dan papan maka negara mendata perempuan yang miskin dan memberi santunan berupa kebutuhan pokok tersebut. Di masa Khalifah Umar bin Khatab, orang-orang Mekah yang bukan termasuk kaum muhajirin mendapat tunjangan 800 dirham, warga Madinah 25 dinar, kaum muslimin yang tinggal di Yaman, Syria dan Irak memperoleh tunjangan sebesar 200 hingga 300 dirham, serta anak-anak yang baru lahir dan yang tidak diakui masing-masing memperoleh 100 dirham. Di samping itu, kaum muslimin memperoleh tunjangan pensiun berupa gandum, minyak, madu, dan cuka dalam jumlah yang tetap (Abdul Ghafur, Kebijakan Ekonomi di masa Umar bin Khatab). 

Negara juga mendorong kalangan kaya untuk menolong perempuan miskin. Di masa khulafa'ur rasyidin para sahabat yang kaya suka mendermakan hartanya, di luar zakat maal uang dikeluarkannya. Misalnya Talhah bin Ubaidillah. Bahkan Abdurrahman bin Auf adalah spesialis mengurusi semua keperluan istri Nabi sesudah wafatnya beliau. Suasana keimanan yang kental dalam khilafah Islam menjadikan umat Islam ringan untuk berderma. 

Sungguh Islam telah terbukti berhasil menyejahterakan perempuan selama berabad-abad. Yaitu selama rentang masa khilafah. Maka kunci kesejahteraan perempuan ada pada khilafah yang menerapkan Syariat Allah ta'ala, Zat yang sangat memuliakan perempuan. Wallahu a'lam bi shawab

——————————

Sumber: Muslimah News ID 

@infomuslimahjember #infomuslimahjember#jember

0 Comments

Posting Komentar