Perempuan Terdidik di Era Khilafah


[KAJIAN SIROH]
Perempuan Terdidik di Era Khilafah
Kaum feminis seringkali menuding Islam sebagai agama yang menomorduakan wanita dibanding lelaki. Tak hanya hukum waris dan iddah yang mereka anggap diskriminatif terhadap perempuan. Dalam hal pendidikan, Islam tak jarang difitnah tak memberi ruang bagi muslimah untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Padahal tegas sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya, bahwa mencari ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dua sosok wanita yang akan kita selami kemuliannya ini, adalah bukti dari sekian banyak bukto sejarah yang menggambarkan keagungan Islam dalam mencerdaskan dan memuliakan para wanita di masa kejayaannya dahulu.
1. Ummu Darda'
Ummu Darda pada abad ke-7 menjadi dosen Hadits dan Fiqh di Masjid Besar Umayyah di Damaskus, ibukota Khilafah pada saat itu. Salah satu muridnya adalah sang Khalifah, Abdul Malik bin Marwan.
Abu Darda’ adalah salah satu guru Ummu Darda’ Ash Sughra . Abu Darda’ sangat mengagumi kemampuan Ummu Darda’ dalam menghapal al Qur’an. Setelah Ummu Darda’ dewasa Abu Darda’ kemudian menikahinya. Selain belajar dengan sang suami, Ummu Darda’ juga memiliki kesempatan belajar kepada Salman AL Farisi, Abu Hurairah, Abu Malik Al Anshari, Fadhalah bin Ubaid serta Ummul Mukminin Aisyah.
Tak hanya pelajar yang cerdas, Ummu Darda’ juga seorang guru piawai dalam membagi ilmunya. Tercatat banyak ulama terkemuka yang menimba ilmu dari Ummu Darda’.
2.Fathimah al Fihri

Kecintaan untuk menuntut ilmu, dan pengabdian pribadi kepada Allah (swt) ditanamkan di dalam diri kaum perempuan di bawah pemerintahan Islam, mendorong banyak dari mereka untuk menghabiskan uang mereka sendiri untuk membangun sekolah-sekolah, universitas, dan lembaga lembaga-lembaga untuk menyediakan pendidikan bagi orang lain dan menjamin ganjaran di akhirat karena melakukan hal tersebut.
Pada tahun 859 M di Fez, Maroko, Fatima Al-Fihri mendirikan Masjid dan Madrasah Qarawiyyin, yang sekarang dikenal sebagai universitas pemberi gelar pertama di dunia. Ia menghabiskan seluruh warisannya dalam proses pendiriannya, dan terus berpuasa sampai bangunan itu didirikan. Al Qarawiyyin menjadi salah satu pusat pendidikan yang paling bergengsi dan penting di dunia. Tidak ada pungutan biaya dan para murid diberikan tunjangan moneter untuk makanan dan akomodasi.
Fatimah menyadari sepenuhnya arti kota Fes, Maroko. Letaknya yang sangat strategis memungkinkan para sarjana dan cendekiawan Muslim datang di masjid itu. Fes merupakan kota berpengaruh sepanjang abad dan berposisi sebagai pusat agama dan budaya. Sejak itulah, al-Qarawiyyin mengundang ketertarikan para sarjana dan cendekiawan Muslim. Kajian ilmu sering berlangsung di sana. Penuntut ilmu pun berdatangan dari penjuru Maroko, negara-negara Arab, bahkan penjuru dunia. Dalam waktu yang singkat, Fes mampu bersanding sejajar dengan pusat ilmu pada masa itu, yaitu Cordova dan Baghdad.
Universitas ini menghasilkan para pemikir ternama. Ada pakar matematika Abu al-Abbas az-Zawawi, pakar bahasa Arab dan seorang dokter Ibnu Bajah, serta pemuka dari Mazhab Maliki, Abu Madhab al-Fasi. Ibnu Khaldun, sosiolog tersohor itu konon juga pernah belajar di kampus ini. Al- Qarawiyyin juga merupakan pusat dialog antara kebudayaan Barat dan Timur.

0 Comments

Posting Komentar