SDG’s: Haruskah Menjadi Global Goals?


[Suara Muslimah] 
SDG’s: Haruskah Menjadi Global Goals?

Oleh: Ummu Shofa
(Aktivis Dakwah Islam)

SDG’s? Barangkali banyak yang tidak tahu dan tidak mau tahu. Tetapi bahwa SDG’s ini menjadi global goals 191 negara di bawah PBB, termasuk Indonesia. Hiruk pikuk tahun politik 2018 ini, seolah memberi kesimpulan ‘kebijakan pemerintah bergantung kepada siapa pemimpinnya’.

Yang perlu disadari, entah akan satu periode atau dua periode. Lanjut nawacita atau ganti cita yang lain. Siapapun presidennya, SDG’s global goals-nya.

Apa itu SDG’s?
SDG’s adalah Sustainable Development Goals, diterjemahkan sebagai TPB/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu 17 goal dengan 169 target yang terukur yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda pembangunan dunia untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi sampai periode tahun 2030.

SDG’s merupakan kelanjutan dari MDG’s yang berakhir tahun 2015 lalu. Ke-17 goals SDG’s adalah Dunia tanpa kemiskinan , tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi layak , energi bersih dan terjangkau , pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi , Industri, inovasi dan infrastruktur , berkurangnya kesenjangan , kota dan komunitas berkelanjutan , konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab , penanganan perubahan iklim , ekosistem laut , ekosistem daratan , perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh , kemitraan untuk mencapai tujuan. 

Di Indonesia, proyek ini telah berkekuatan hukum dengan keluarnya Perpres nomor 59 tahun 2017. Dalam KTT G20 di Hamburg, Jerman. Presiden Jokowi menyampaikan, “Saya telah menandatangani Peraturan Presiden dan membentuk Tim Koordinasi Nasional bagi implementasi SDG’s, dan akan melaporkan implementasi agenda 2030 ini di PBB melalui Voluntary National Review.”

Sounds good?

SDG’s terdengar sebagai konsensus dunia yang sangat menjanjikan. Namun SDG’s bukan tanpa kritik. Majalah The Economist pada tahun 2015 mengemukakan bahwa 169 target SDG’s digambarkan terlalu banyak dan luas.

Majalah tersebut memperkirakan bahwa pengurangan kemiskinan dan pencapaian SDG’s lainnya akan membutuhkan sekitar $ 2- $ 3 triliun USD per tahun selama 15 tahun ke depan yang mereka sebut sebagai "murni khayalan”

Terlebih ketika SDG’s dirancang dengan frame Barat yang sekuler kapitalistik. PBB seolah mengabaikan situasi kaum muslimin yang tertindas. Misalnya, kemiskinan tampak jelas di negara-negara yang sedang berkonflik, salah satunya Suriah.

Adalah kuasa PBB jika rezim Assad yang dzalim segera dihentikan sehingga suasana damai tercapai, tercipta kehidupan yang tenang dan sejahtera. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya, PBB dan dunia terus saja mengulur waktu kepemimpinan rezim Assad.


0 Comments

Posting Komentar