Strategi Politis Peran Domestik Perempuan



/ Strategi Politis Peran Domestik Perempuan /

Oleh: Nur’aini Nora (Ibu Rumah Tangga, tinggal di Lampung)

Saat ini, banyak kaum perempuan yang lebih bangga menjadi seorang wanita karir ketimbang menjadi seorang ibu rumah tangga. Mereka berlomba mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya agar bisa bekerja di tempat bergengsi, tentu saja dengan jabatan dan penghasilan yang tinggi pula. 

Tidak sedikit pula dari perempuan yang merasa modern dan berpendidikan tersebut rela menghabiskan waktu mudanya untuk meniti karir daripada menikah dan memiliki anak. Menurut mereka menikah kemudian menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga bukanlah sesuatu yang membanggakan.

Pun tidak jarang kita temukan seorang perempuan, ketika ditanya apa pekerjaannya, dengan perasaan rendah diri dia menjawab "Ah... Saya cuma ibu rumah tangga". Seolah-olah menjadi ibu rumah tangga adalah suatu kelemahan dan prestasi buruk yang layak dia sesali. Padahal, Syariah Islam telah menetapkan bahwa perempuan berperan penting dalam membangun kehidupan dan peradaban umat.

Partisipasi perempuan dalam Islam tidak seperti yang sering digambarkan secara picik , yaitu hanya berputar di sumur, dapur dan kasur. Islam memberi ruang partisipasi bagi perempuan, baik di ranah domestik maupun di ranah publik. Di ranah domestik, Islam mewajibkan seorang perempuan untuk menjadi al-Ummu (ibu) yang memiliki peran strategis sebagai Madrasatul Ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya.

Seorang perempuan merupakan master pendidikan bagi generasi penerus. Di sekolah pertama itulah, perempuan sebagai ibu berkontribusi besar dalam menancapkan Aqidah Islam yang kokoh sekaligus membina kepribadian Islam pada diri anak. Kekuatan aqidah inilah yang akan menjadi pondasi pembentuk pola pikir dan pola sikap anak ketika mereka dewasa. 

Perempuan juga diberi peran kunci sebagai manajer bagi terciptanya keluarga sakinah. Peran ini membutuhkan keahlian dan keterampilan mengelola, mengatur, menjaga, dan merawat rumah maupun interaksi antara anggota keluarga. Maka, peran strategis politis perempuan sebagai seorang istri adalah menjadi mitra suaminya dalam menjalin kehidupan rumah tangga harmonis. 

Rumah tangga merupakan tempat bernaung dan tumbuh kembang generasi calon pemimpin. Para ibu berperan memastikan anak-anaknya dibesarkan dalam lingkungan kondusif yang bersandar sepenuhnya pada penerapan syariah Islam. 

Bersama suaminya, seorang perempuan wajib mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholih dan sholihah. Keduanya mempersiapkan generasi yang siap memimpin orang-orang bertaqwa, menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, serta mampu menjalankan roda pemerintahan sesuai syariah Islam. 

Kita mengenal sosok wanita mulia dari kalangan Sahabat Rasulullah ﷺ bernama al-Khansa binti Amr. Ia sukses menghantarkan empat orang putranya menjadi mujahid hingga meraih kedudukan mulia sebagai syuhada. 

Kita juga mengenal banyak nama tokoh Islam seperti Imam Bukhori, seorang perawi hadits yang diakui seluruh kaum muslimin. 

Imam Syafi'i, seorang ahli Fiqh yang berhasil menghafal al-quran pada usia 7 tahun. Imam Hambali, seorang ahli hadits, ahli fiqh dan mujtahid. Imam asy-Syaukani, seorang ulama besar dan pakar pendidikan. Dan juga Jabir bin Hayyan, seorang ahli Kimia yang menciptakan skala timbangan akurat dan mendefinisikan senyawa kimia. 

Mereka adalah anak-anak dari para ibu mulia yang memahami kewajibannya untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya menjadi orang mulia. Kita juga harus bercermin pada perempuan-perempuan Syam yang memiliki kesadaran politik bahwa mereka harus mendidik langsung para generasi penerus. Bahkan di tanah Syam, merupakan sebuah aib jika dalam satu keluarga tidak ada yang menghafal al-quran. 

Seorang perempuan Palestina bahkan pernah bertanya kepada suami dan anak laki-lakinya yang baru saja dia lepas ke luar rumah, "Mengapa kalian masih hidup? Apakah syahid belum menghampiri kalian?". Tidakkah kita memperhatikan begitu banyak kaum laki-laki berguguran sebagai syuhada di Palestina, namun mujahid-mujahid muda selalu bermunculan? Ini semua karena Palestina memiliki banyak ibu bermental pejuang yang menyadari bahwa tugas mereka sangat strategis dan politis. 

Lahirnya para mujahid dan syuhada tidak terjadi secara tiba-tiba. Lahirnya para pemimpin bertaqwa yang Shiddiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh bukanlah kebetulan dan hadiah cuma-cuma. Mereka tercipta melalui proses pendidikan serta pembinaan yang amat panjang, yang penuh kesungguhan dan pengorbanan. Ini tidak didapat dari seorang ibu yang mengasuh dan mendidik anaknya di sisa waktu luang. Tidak pula dari seorang ibu yang tak menyadari bahwa dia adalah hamba Allah yang memiliki tugas menjaga tegaknya agama ini. 

Seorang perempuan yang sadar peran strategis politisnya dalam mengembalikan kejayaan Islam. Ia juga paham kewajibannya turut berjuang melanjutkan kembali kehidupan Islam. Pasti Ia tidak akan setengah hati melaksanakan tugas utamanya sebagai seorang ibu. Dan pasti ia akan berupaya meningkatkan kualitas ketakwaannya, serta memperkaya tsaqofah (pengetahuan) keislaman dan wawasan keilmuan agar bisa mencetak generasi berkualitas, penerus perjuangan Islam. 

Seorang pejuang tidak lahir kecuali dari rahim perempuan pejuang. Seorang pengemban dakwah tidak akan lahir kecuali dari rahim seorang perempuan pengemban dakwah. Dan ingatlah, Rasulullah ﷺ telah bersabda "wanita (istri) adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya. Dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya". Wallahu a'lam.

——————————



0 Comments

Posting Komentar