Menunggu Giliran Mati


[SUARA MUSLIMAH] 
Menunggu Giliran Mati

Oleh: Wardah Abeedah (Penulis, Revowriter Jember)


Entah seperti apa rasanya jika, satu persatu orang yang kau cintai tewas, rumah yang kau diami runtuh? Entah bagaimana rasanya jika setiap hari suara bom dan bangunan-bangunan hancur memekakkan telingamu, meratakan kotamu dan menjadikannya abu-abu tanpa warna?

Entah seperti apa rasanya setiaphari menyaksikan banyak pesawat berseliweran di langitmu dan menjatuhkan bom-bom yang menghujani masjidmu, sekolah anakmu, pasarmu, rumah tetanggamu?

Lalu kau melihat satu persatu orang yang kau kenal diselamatkan darireruntuhan dalam keadaan tewas, atau tak berkaki, atau berdarah-darah dan kau menunggu kapan giliranmu, mati?

Ya, ini bukan semata kisah fiksi dalam novel. Ini kisah nyata yang sedang menimpa saudara-saudara kita di Ghouta, Suriah. Aljazeera.com melaporkan, dalam lima hari 400 orang meninggal dalam serangan pesawat oleh Rezim Assad dan Rusia. Sementara itu, Rusia yang selama ini ikut berperan dalam genosida di Suriah menolak Resolusi Suriah Dewan Keamanan PBB yang mengusulkan gencatan senjata agar organisasi bantuan bias masuk ke wilayah konflik.

Siapa Pembela Muslimin di Ghouta dan Suriah yang Terdzalimi?

Sejak Revolusi Suriah tahun 2010 yang lalu, pada tahun 2016 saja Al Arabiya menlasir 470 ribu orang meninggal akibat perang. Baik tewas ketika perang, atau akibat minimnya fasilitashidup dan kesehatan sebagai efek dari perang yang berkepanjangan.

Selama kurun waktu tersebut, pemimpin-pemimpin muslim bergeming! Tak ada satupun yang berani mengirimkan tentaranya ke Suriah untuk membela kaum muslimin di sana. Saudi justru sibuk bertika idengan saudara se-aqidah di Yaman. Turki sibuk memerangi Suku Kurdi. Sementara rezim Mesir sibuk menyerang saudara sendiri di Bukit Sinai.

Memiliki pasukan yang banyak, persenjataan perang yang lengkap, tak membuat mereka mengarahkan alutsista –alat utama sistem pertahanan- mereka demi menjadi tameng bagi kaum muslimin di Suriah.

Bagaimana Sikap PBB?

Sebagaimana kasus genosida yang menimpa Palestina, Myanmar dan negeri muslim lainnya, soal Suriah mereka tak banyak lakukan upaya. Pun, tak satu pun dari upaya mereka berhasil menghentikan pembantaian Warga Suriah.

Disinilah esensi kebutuhan kaum muslimin terhadap adanya khalifah atau imam yang memimpin seluruh kaum mukminin di dunia dengan hukum Allah. Karena dalam konsep kepemimpinan Islam, fungsi khalifah adalah dua; Pertama, pengurus urusan ummat dengan Islam. Kedua, sebaga ijunnah atau benteng.

Sebagaimana sabda rasulullah SAW ,

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) ituperisai, dimana (orang-orang) akanberperang di belakangnya (mendukung) danberlindung (darimusuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Kata ini mengandung konotasi al-Khalifah atau al-Imam al-A’zham yang artinya mengurusi urusan manusia. Imam al-Mulla al-Qari (1041 H) secara gambling menyatakan:

(فَإِنَّمَاالْإِمَامُ) أَيِالْخَلِيفَةُأَوْأَمِيرُهُ

”Makna kalimat (إنماالإمام ; Sesungguhnya al’imam) yakni Al-Khalifah atau amirnya.” [Ali bin Sulthan Muhammad Abu al-Hasan Nuruddin Al-Mala Al-Qari, Mirqât al-MafâtiihSyarhMisykât al-Mashâbiih]

“Sementara kalimat ( يُقَاتلمنوَرَائه ; dimana orang-orang akan berperang di belakangnya) Yakni kaum kuffar, para pemberontak, khawarij dan seluruh pembuat kerusakan diperangi bersamanya dan makna (يتقىبِهِ) yakni dari keburukan musuh, pembuat kerusakan dan kezhaliman.” [Jalaluddin al-Suyuthi ‘Abdurrahman bin Abu Bakr,Al-Diibâj ‘alâShahiih Muslim bin al-Hijâ ]

“Ditutur kan oleh Imam Al-Shan’ani, maksud kalimat ini adalah memerangi mereka dengan kekuasaannya, kekuatannya dan pengaruh wibawa Al-Imam.” [Muhammad bin Isma’il al-Kahlani al-Shan’ani, Al-TanwiirSyarh al-Jâmi’ al-Shaghiir]

Para khalifah di masa tegaknya Islam dahulu sadar betul akan posisi ini. Sehingga Khalifah Al-Mu’tashim pernah mengirimkans ejumlah besar pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki).

Diriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di Baghdad hingga Ammuriah demi menyelamatkan seorang wanita muslimah yang ditawan Romawi pada masa itu.

Kisah heroic lainnya dicontohkan olehRasulullah sang pemimpin Negara Islam Madinah. Demi kehormatan seorang muslimah dan nyawa seorang muslim, Rasulullah memimpin sendiri pengepungan terhadap Bani Qaynuqa ‘ untuk kemudian mengusir kaum Yahudi tersebut dari Madinah.

Dalam Islam, jihad atau perang dilaksanakan oleh Negara untuk membela tanah dan darah ummat Islam, juga untuk menyebarkan Ideologi Islam keseluruh dunia. Dengansyari’at jihad, kaum kafir tak akan bermudah-mudah mendzalimi umat Islam. Apalagi sampai membantai mereka seperti kondisi kita sekarang. Jihad menjadi kewajiban agung yang diperhatikan betul oleh khalifah, serta dirindukan oleh tentara Islam bahkan oleh kaum muslimin yang mencita-citakan syahid fi sabilillah.

Ghouta, Douma, Aleppo dan seluruh kota di Suriah. Rohingya, Palestina dan seluruh tanah kaum muslimin saat ini tak membutuhkan PBB, OKI, danpejuang-pejuang HAM yang sudah terbukti tak pernah serius berpihak pada Islam. Kaum muslimin membutuhkan seorang khalifah yang, menjadi junnah atau benteng pelindung. Memimpin dan mengerahkan pasukan untuk berjihad membebaskan tanah kaum muslimin di penjuru dunia.

0 Comments

Posting Komentar