Senin, 16 April 2018

AMARAH RASULULLAH SAW



[Cermin Hati] 
AMARAH RASULULLAH SAW

Rasulullah saw. bukanlah tipikal pemarah. Beliau adalah sosok yang tidak mudah marah, apalagi jika hanya menyangkut diri beliau.

Beliau sosok yang berakhlak baik, lemah-lembut dan pemaaf. Bahkan beliau pernah bersabda, _“Orang yang kuat bukanlah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Malik)._

Dalam riwayat lain beliau juga bersabda, _“Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridhai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridhai.” (HR Ahmad)._

Namun demikian, bukan berarti Rasul saw. tak pernah marah. Beliau bisa sangat marah bahkan sekadar jika seorang Muslim ragu-ragu untuk mematuhi perintah beliau.

Ummul Mukminin Aisyah ra. meriwayatkan bagaimana Rasul saw. pernah marah. Kata Aisyah ra., _“Pada hari keempat atau kelima Dzul Hijjah, Rasulullah saw.. pernah datang menemui aku dalam keadaan marah. Aku berkata, ‘Siapa yang membuat engkau marah, wahai Rasulullah? Semoga Allah memasukkan dia ke dalam azab neraka.’ Beliau menjawab, ‘Apakah pendapatmu ketika aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah, lalu mereka bimbang (ragu dalam melaksanakan perintah itu).’” (HR Muslim)._

Yang menarik dari hadis di atas, Rasulullah saw. marah hanya karena orang-orang meragukan apa yang beliau perintahkan. Bandingkan dengan hari ini. Betapa banyak Muslim bukan lagi ragu, tetapi bahkan dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri melanggar banyak perintah Rasulullah saw.

Raut wajah Rasulullah saw. juga pernah seketika berubah karena marah saat ada sahabat yang merayu beliau agar tak memotong tangan seorang wanita yang mencuri. Alasan mereka, ia adalah wanita terpandang dari klan Bani Makhzum, salah satu suku besar Quraisy (HR al-Bukhari dan Muslim).

Alhasil, semua kemarahan beliau bermuara pada satu sebab, yakni berhubungan dengan kepentingan dan kemuliaan Islam, bukan karena alasan pribadi. Bagaimana dengan kita saat marah?

[Hari Moekti/BWA]

0 komentar:

Posting Komentar