Kamis, 12 April 2018

ANAK PERMATA HATI DAN MUTIARA PERADABAN ISLAM



ANAK PERMATA HATI DAN MUTIARA PERADABAN ISLAM
Oleh : Gadinia Bunga Vita, ST

ANAK PERMATA HATI

Anak adalah permata hati bagi orangtuanya, kilauan cahayanya bisa memukau setiap mata yang memandangnya, mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga yang benar-benar dijaga, dilindungi dan dirawat agar cahayanya tidak memudar. Untuk menghasilkan permata hati butuh proses yang cukup panjang dan tempaan yang sangat kuat dari seorang Ibu yang memahami fungsinya dan keutamaannya dalam membentuk anak-anak sebagai permata hati.

Dibutuhkan keyakinan bahwa anak adalah rizki dari Allah yang tidak semua orang mendapatkannya, anak adalah penyejuk mata, serta anak adalah investasi di akhirat. Sehingga para Ibu berupaya keras untuk mendidik anak sesuai dengan apa yang Allah harapkan yaitu menjadi Ibadush Shaalihin, dan Kholifah fil Ardh, dengan cara mendidik sesuai dengan potensi dan sesuai dengan tumbuh kembang anak. Selain itu juga perlu sinergi antara orangtua, masyarakat dan negara dalam membentuk mereka menjadi permata hati.

Islam memandang anak dan generasi muda bagaikan mutiara yang begitu indah, dengan sinarnya yang mempesona, serta keberadaanya yang amat berharga dan akan senantiasa dijaga dan dilindungi. Mutiara ini tidak hanya menjadi perhiasan terindah dan termahal bagi keluarganya, tetapi juga menjadi perhiasan nan berharga bagi masyarakat, bangsa, bahkan umat manusia. Mutiara-mutiara inilah yang akan terus menjaga keagungan dan kemuliaan peradaban Islam selama berpuluh-puluh abad.

PERLINDUNGAN ANAK

Eksistensi anak dan generasi muda sangatlah penting salam membangun dan menjaga kejayaan sebuah peradaban. Sehingga menjadi sesuatu yang wajar bial Islam sangat memperhatikan anak dan generasi muda dengan sangat detail, dan komprehensif. Perhatian Islam kepada anak berupa jaminan hak keberlangsungan hidup anak yang meliputi : hak nafkah, penyusuan, pengasuhan, kesehatan, pendidikan, larangan aborsi, dan perlindungan dari kekerasan dan hal-hal yang mebahayakan fisik, akal, dan mental anak.

Selain itu, ada pula jaminan terhadap penjagaan nasab (keturunan), yaitu berupa perwalian, mahrom,dan waris. Islam juga memberikan perhatian terhadap fitrah anak sebagai hamba Allah, dengan menjaga aqidah mereka melalui pengaturan adopsi, pernikahan dan sanksi terhadap perilaku murtad.

Dengan aturan dan perangkat hukum yang terperinci seperti tersebut diatas, maka nasib anak-anak dan generasi muda sungguh akan terjaga. Anak sebagai mutiara bagi peradaban Islam akan tetapeksis dan terlindungi dari berbagai macam kerusakan. Mereka dapat berkembang menjadi sosok yang memiliki fisik kuat, mental yang sehat dan kepribadian yang tangguh dan mulia.

MENJAGA FITRAH ANAK

Rasulullah saw menegaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dalam sabdanya : “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuat menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani, maupun seorang Majusi.” Dalam Al- Qur’an Surat Ar Rum ayat 30 menyebutkan kata fitrah sebagai berikut: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah, (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Al – Qurthubi menafsirkan bahwa fitrah dalam ayat tersebut bermakna kesucian jiwa dan rohani. Fitrah disini adalah fitrah Allah yang ditetapkan kepada manusia, yaitu bahwa manusia sejak lahir dalam keadaan suci, dalam artian tidak mempunyai dosa. Sementara Ibnu Katsir mengartikan Fitrah yairu mengakui ke-Esa-an Allah atau Tauhid. Manusia sejaklahir telah membawa Tauhid, atau paling tidak ia berkecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuahannya, dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut.

Dari ayat Al – Qur’an dan Hadits di atas kita bisa memahami betapa pentingnya menjaga fitrah (tauhid) pada setiap anak yang terlahir. Orang tua memang menjadi penanggung jawab pertama dalam menjaga fitrah aak ini. Namun dalam tumbuh kembangnya, kontribusi keluarga, masyarakat, serta negara dalam menjaga fitrah ini juga cukup penting. Misalnya dalam memberikan pemahaman tauhid, pengenalan kepada Allah SWT, pembiasaan beribadah dan menumbuhkan sikap taqwa kepada Allah SWT.
Sedangkan di Indonesia bukti kerusakan terhadap generasi sudah sangat memprihatinkan. Kapitalisme, Liberalisme, Sekulerisme, dan Hedonisme telah menyuburkan kerusakan aqidah pada generasi muslim. Kasus adopsi yang berujung pemurtadan, yang lebih memprihatinkan pemerintah tidak berdaya menghadapi tuntutan kalangan liberal untuk melegalkan adopsi dan perkawinan beda agama. Belum lagi tontonan yang disuguhkan pada generasi muslim adalah cerita yang merusak aqidah mereka.  Tipisnya perlindungan negara terhadap aqidah anak-anak ini sangat membahayakan kualitas generasi muda Islam. Betapa banyak anak-anak muslim yang memuja budaya dan peradaban Barat (Kapitalisme, Liberalisme, Sekulerisme, dan Hedonisme). Sehingga mereka menganggap budaya barat lebih modern, lebih bebas, lebih ekspresif dan lebih menantang. Na’udzubillahi min dzalik!

BUTUH SINERGI HARMONIS

Untuk menghasilkan generasi mutiara peradaban Islam mengatur tanggung jawab dalam sinergi yang harmonis, antara orang tua, keluarga dan kerabat, masyarakat, dan juga penguasa (negara). Karena tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak ini tidak hanya dibebankan pada orang tua saja.

Dalam soal jaminan terhadap nafkah anak, Islam memberikan tanggung jawab utama kepada ayahnya. Kewajiban ayah memberikan nafkahseperti yang diperintahkan Allah SWT dalam Firman-Nya :

وَعَلَىالْمَوْلُودِلَهُرِزْقُهُنَّوَكِسْوَتُهُنَّبِالْمَعْرُوفِۚلَاتُكَلَّفُنَفْسٌإِلَّاوُسْعَهَا...

Artinya : “....Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah : 233)

Namun, bila dalam kondisi ayah tidak memungkinkan menjamin nafkah secara sempurna, maka tanggung jawab ini juga dibebankan kepada keluarga (wali) dan kerabat dekat. Bila ternyata jaminan nafkah juga tidak sempurna dilakukan oleh keluarga maupun kerabat, maka Islam memberi kesempatan pada masyarakat untuk berkontribusi dalam membantu. Jika nafkah masih belum terpenuhi maka tanggung jawab nafkah beralih pada negara  dengan memberikan santunan dari kas baitul maal. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ”Anas bin Malik RA meriwayatkan  bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah bertanya setiap pemimpin tentang apa yang ia pimpin, apakah ia menjaga atau menyia-nyiakan (yang dipimpinnya), sampai seseorang ditanya tentang keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Demikian juga dalam soal pengasuhan dan perlindungan anak, tak hanya orang tua saja yang dituntut, namun kepedulian masyarakat, bahkan penguasa berperan sebagai pengontrol dan penjamin berjalannya fungsi keluarga, masyarakat juga media, serta memberikan sanksi jika ada pelanggaran.

Dengan sinergi dan sistem berlapis antara keluarga, masyarakat, media dan negara, niscaya jaminan terhadap nafkah, pengasuhan, pendidikan,kemanan serta perlindungan darikekerasan pada anak akan terjaga dengan baik.

NEGARA PERISAI HAKIKI

Melihat semakin banyaknya anak-anak terlantar, rusaknya akhlak dan moral generasi muda, semakin mejamurnya budaya asing seperti pergaulan bebas, hura-hura, serta kekerasan yang terjadi pada mereka menimbulkan orang tua menjadi miris dan khawatir pada masa depan mereka. Kita butuh pemimpin yang peduli dengan persoalan ini, serta sosok pemimpin yang bisa menghadirkan kembali peradaban Islam yang agung dan mulia. Peradaban emas yang akan mengantarkan generasi anak-anak dan generasi muda menjadi pemimpin masa depan kaliber dunia.

Mengapa Islam dikatakan sebagai peradaban emas? 

Karena Islam adalah peradaban tertinggi di dunia, tak ada yang bisa menandingi ketinggian, kesempurnaan, keunggulan dan kemuliaannya. Peradaban Islam dibawa oleh Rasulullaah SAW. Pondasinya adalah Tauhid, sedang pengaturan kehidupannya Peradaban Islam berdasarkan Syariat Islam yang diberlakukan dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah).
Kejayaan Peradaban Islam tampak gemilang pada masa Rasulullah SAW, bertambah gemilang di zaman Khulafaur Rosyidin, berlanjut hingga zaman Kekhilafahan Umayyah, Khilafah Abbasiyah hingga Khilafah Utsmani.

Bahkan Pada masa Emas Peradaban Islam ada Khalifah Umar bin Abdul Azis pada masa Kekhilafahan Umayyah yang menorehkan tinta emas yang mengharumkan nama Islam. Karena di masa pemerintahannya tidak ada rakyat yang kelaparan. Kehidupan rakyatnya makmur, tidak ada kelaparan bahkan pendapatan negara sangat tinggi. Bidang keilmuan berkembang pesat, dibuka perpustakaan di Baghdad “Bait Al Hikmah” yang juga berfungsi sebagai lembaga penerjemah.

Pada Abad ke 10 didirikan Perpustakaan Mosul yang didirikan oleh Ja’far bin Muhammad yang sering dikunjungi ilmuwan, bahkan pengunjung diberikan fasilitas gratis berupa pena, tinta, kertas dan segala yang dibutuhkan. Madrasah Al Muntashiriah didirikan oleh Khalifah Al Muntashir di Baghdad, dimana setiap siswa menerima beasiswa berupa emas 1 dinar, semua fasilitas disediakan oleh negara. Sehingga wajar lahir para Ilmuwan muslim seperti Al KIndi, Al Farabi, Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusydi (Averroes), Ibnu Haitsam, Al Khawarizmi, Abu Hanifah, Malik bin Anas, dan masih banyak yang lain.

Generasi yang terlahir dari Peradaban Emas adalah Generasi Emas. Generasi yang tak hanya bertauhid, tetapi juga membebaskan berbagai bangsa dari kemusyrikan menuju cahaya Tauhid. Ilmu pengetahuan dan Teknologi yang selaras dengan Islam dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia, tak peduli berbangsa dan beragama apa. Peradaban Islam mengayomi mereka, selama mereka tidak memusuhi Islam. Terbukti, kejayaan Islam mampu memimpin peradaban manusia selama 14 abad.

Peradaban Emas ini lahir karena Sinergi orang tua, masyarakat, media dan negara yang sangat memperhatikan dan mendukung terbentuknya Generasi Emas. Wallahu a’lam bish showab.

========================================

Sumber Foto : Satu Jam

0 komentar:

Posting Komentar