Senin, 09 April 2018

Di Jember Beredar Isu Makanan Mengandung Cacing, Tim Gabungan Langsung Sidak



[INFO JEMBER]
Di Jember Beredar Isu Makanan Mengandung Cacing, Tim Gabungan Langsung Sidak

JEMBER, (suarajatimpost.com) - Khawatir dengan peredaran produk makanan kaleng ikan makarel yang mengandung cacing, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember bersama dengan Dinas Perdagangan dan Industri (Disperindag) Jember, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jember, Dinas Kominfo, Satpol PP Pemkab Jember, dan Polres Jember melakukan sidak ke sejumlah toko retail modern, supermarket, minimarket, dan swalayan di Kabupaten Jember.

Hasil sidak di lapangan, diketahui sejumlah toko retail modern dan swalayan sudah tidak memperjualbelikan produk makanan ikan makarel tersebut. Sebab, sebelum dilakukan sidak, terkait informasi peredaran makanan produk makanan kaleng ikan makarel yang mengandung cacing, sudah banyak diberitakan oleh media.

Store manager Swalayan Golden Market Jember, Diah Purdiana menyampaikan, terkait pemberitaan tentang produk makanan ikan makarel yang diduga mengandung cacing, maka pihaknya sejak Jumat (30/3) kemarin sudah menarik produk tersebut untuk diperjual belikan.

“Setelah saya dapat informasi dari pemberitaan di media online itu, semampu saya langsung menarik peredarannya, sehingga tidak kita perjualbelikan. Kemudian saya koordinasi dengan principal-principal, ternyata informasi (makanan kaleng mengandung cacing) memang benar,” ujar Diah kepada sejumlah wartawan, Selasa (03/04/2017) siang.

“Bahkan sebelum saya menerima surat edaran, instruksi untuk menarik dari peredaran makanan kaleng tersebut dari Dinkes, ataupun dinas terkait, kami sudah berinisiatif menarik sejak seminggu lalu, tepatnya Jumat kemarin,” sambungnya.

Dari 27 macam jenis produk makanan kaleng ikan makarel, yang masuk daftar catatan mengandung cacing, lanjut Diah, pihaknya hanya menjual 3 merek saja. “Ada 500 biji (produk makanan kaleng ikan makarel) yang saya tarik (dari penjualan). Saya juga hanya menjual 3 brand (merek, red) saja, yakni ABC, Botan, dan Maya,” ungkapnya.

Diakui olehnya, penjualan produk makanan kaleng ikan makarel tersebut, memang banyak diminati oleh konsumennya. “Sehingga banyak yang membeli, karena cenderung laris daripada sarden. Per hari bisa satu karton, yang isinya bisa 60 atau 24 biji,” tandasnya.

Sementara itu saat sidak juga dilakukan di toko Slamet di Jalan Gajah Mada, produk makanan kaleng ikan makarel tersebut juga sudah tidak diperjualbelikan lagi. Bahkan penjualan produk makanan tersebut sudah dihentikan sejak bulan Februari lalu.

“Kami mendapat informasi dari broadcast (siaran, red) di media Whatsapp sejak Februari kemarin, jadi sudah 2 bulan ini kami tidak menjual lagi produk makanan kaleng ikan makarel itu,” kata Owner Toko Slamet S&D Debiyani kepada sejumlah wartawan.

“Untuk penjualannya memang lebih banyak peminat makarel dibandingkan sarden. Selain produknya kosong, saya juga menunggu informasi lebih lanjut terkait produk makanan ikan makarel itu. Jadi kami inisiatif untuk tidak menjual, sebelum ada instruksi dari Dinkes,” sambungnya.

Sumber : Suara Jatim Post 

0 komentar:

Posting Komentar