Rabu, 04 April 2018

Hentikan Jargon Negara Darurat Narkoba Tanpa Aksi Nyata!


[SUARA MUSLIMAH] 

Hentikan Jargon Negara Darurat Narkoba Tanpa Aksi Nyata!

Oleh: Yuniar Firdaus, S.Si 
(Praktisi Pendidikan dan pengamat masalah generasi, tinggal di Jember)

Beberapa hari yang lalu, Kapolres Jember menggelar konferensi press penangkapan 6 mahasiswa yang tertangkap sedang mengkonsumsi ganja di sebuah rumah kontrakan di daerah Sumber Sari, Jember. Meskipun satu diantara mereka mengaku sebagai anak legislator DPRD Bondowoso, namun Kapolres Jember menjamin semua tersangka akan diperlakukan sama dan tidak ada pengistimewaan. Enam orang tersebut terancam hukuman lima tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara.

Berita-berita serupa tentang penangkapan pengguna narkoba, pengedar narkoba bahkan bandar narkoba dari berbagai kalangan hampir setiap saat kita dengar. Namun, bagaimanapun masyarakat tetap pesimis terhadap upaya pemberantasan narkoba. Bagaimana tidak, meskipun status darurat narkoba sudah dicanangkan pemerintah sejak lama dan upaya pemberantasan narkoba terlihat massif, namun berita-berita miris tentang narkoba tak henti-hentinya diterima publik. Baru saja ramai-ramai diberitakan bagaimana penggunaan narkoba di kalangan artis, dan bagaimana dekatnya kehidupan artis dengan barang haram tersebut. Tapi setelah itu, publik dikejutkan dengan berita bahwa Polri bersama Bea Cukai mengungkap kapal Taiwan berbendera Singapura yang menyelundupkan 1,6 ton narkotika jenis sabu di perairan batam, kepulauan Riau. Berita itu semakin membuat miris, ketika Buwas menduga masih ada sekitar 600 ton bahan baku sabu berkualitas tinggi senilai Rp. 1200 trilyun atau hampir setengan dari total APBN Indonesia, siap memasuki wilayah Indonesia. Wow!! Tak heran jika Fadli Zon menyatakan bahwa membanjirnya upaya penyelundupan sabu menunjukkan Indonesia sudah menjadi pasar narkoba internasional yang sangat besar. Bahkan Fahri hamzah menyatakan bahwa narkoba ini termasuk invasi produk-produk berbahaya, akrena efek dari open sky. Sehingga negara-negara yang memiliki kebijakan untuk perang candu, mengirimkan produk-produk berbahaya kepada Indonesia supaya bangsa ini lumpuh.

Lemahnya pertahanan negara terhadap upaya penyelundupan narkoba masih di dukung oleh hukum yang tidak memberikan efek jera. Hukuman mati bagi para pebisnis narkoba masih sulit dilakukan. Belum lagi ada ketentuan hukum yang bisa memberikan dispensasi bagi terpidana mati yang berkelakuan baik selama 10 tahun pertama menjalani masa tahanan semakin memberikan angin segar bagi para pebisnis narkoba. Belum lagi, maraknya suap menyuap dalam sistem hukum kita membuat hukum semakin tidak berarti bagi para pebisnis narkoba.

Dari pemaparan diatas, jelaslah bahwa narkoba marak bukan semata-mata masalah krisis identitas yang sedang terjadi di negeri ini. Tapi narkoba semakin marak karena masyarakat yang sudah rapuh karena jauh dari agama ini justru dijadikan pasar empuk bisnis narkoba, dan pemerintah sebagai pihak yang seharusnya bertanggung jawab belum melakukan upaya yang memadai. Sehingga tentu saja masalah ini membutuhkan penangan serius! Bukan sekedar menerapkan status darurat narkoba, lalu serius melakukan sosialisasi tentang bahaya narkoba, lalu melakukan penangkapan pada pengguna narkoba di level bawah, sementara pada saat yang sama bandar-bandar besar dan penyelundupan narkoba dalam jumlah besar justru dibiarkan dan hukum juga dibiarkan tumpul dalam mengatasi masalah narkoba.

Membiarkan narkoba merajalela tentu saja berdampak buruk pada generasi kita. Sehingga perlu upaya serius untuk memberantas narkoba. Dalam Islam, narkoba jelas adalah barang haram yang tetap haram statusnya meskipun ada pihak-pihak yang menginginkannya. Narkoba jelas bahayanya sehingga pemberantasan narkoba tidak boleh hanya dari satu aspek atau sebatas wacana. Harus ada penyatuan upaya preventif dan kuratif yang komprehensif dalam menangani masalah narkoba. Harus ada upaya serius untuk mensinergiskan peran keluarga, sekolah, masyarakat dan yang paling penting negara untuk seutuhnya kembali kepada prinsip pemimpin yang sudah digariskan dalam Islam yaitu sebagai pelindung (junnah) dan pengurus rakyatnya (rain). Dan upaya komprehensif yang seutuhnya hanya bisa maksimal jika bangsa ini kembali kepada sistem Islam sebagai identitas asli negeri ini.

Negeri ini sudah hancur, tidak ada satu daerahpun yang terbebas dari pengaruh narkoba. Bahkan institusi Polri dan TNI pun sudah di klaim Buwas juga berada dalam pengaruh narkoba. Masalah akan semakin rumit jika kita terus berpaling dari hukum Islam yang menyeluruh. Jadi, jangan sekedar beretorika, segera berikan aksi nyata untuk masalah narkoba dan segudang masalah lainnya dengan kembali kembali Islam seutuhnya.[]

Sumber: Suara Jatim Post 

@infomuslimahjember #infomuslimahjember#jember

0 komentar:

Posting Komentar