Senin, 16 April 2018

Hukum Mengghibah Penghina Syariat



[KAJIAN FIQH]

/Hukum Mengghibah Penghina Syariat

Tanya: Ustadzah, apakah termasuk dosa dan termasuk ghibah jika kita menggunjingkan penghina agama atau syariat? Misalnya dengan ikut memviralkan videonya kemudian menjelek-jelekkannya?
(B. Sumiatun) 

Jawab: Sebelum menjawab pertanyaan ukhti, kami akan menjelaskan definisi ghibah menurut syari’at Islam. Ghibah adalah menceritakan saudara kita dengan sesuatu yang tidak disukainya. Apabila yang kita ceritakan itu tidak ada padanya, maka disebut buht (fitnah). Definisi ini diambil dari penjelasan Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim. Beliau pernah bertanya kepada para sahabatnya, 

_“Tahukah kalian apa ghibah itu?”_ Para sahabat berkata, _“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”_ Rasulullah saw. bersabda, _“Ghibah adalah jika engkau menceritakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.”_ Para sahabat berkata, _“Bagaimana pendapat engkau jika apa yang kukatakan itu ada padanya?”_ Rasulullah saw.bersabda, _“Apabila apa yang kau katakan ada padanya, maka engkau telah menggunjingnya. Apabila yang engkau katakan tidak ada padanya, maka engkau telah mengatakan atas seorang muslim hal-hal yang tidak ada padanya (al-buhtaan).”_ (HR. Muslim).

Hukum ghibah dalam Islam adalah haram. Allah mencela perbuatan ghibah dengan memberikan peumpamaan yang buruk dalam Alquran, yaitu diibaratkan memakan daging saudara yang sudah mati. Ini adalah bentuk ketegasan larangan Allah bagi kaum muslimin. Bahkan mendengarkan ghibah, haram juga hukumnya. 

Namun ternyata ada ghibah yang dikecualikan dari keharaman. Dengan kata lain, ada ghibah yang dimubahkan. Para ulama telah membolehkan ghîbah karena enam alasan yaitu, mengadukan kedzaliman (kepada hakim), menjadikan ghîbah sebagai jalan untuk mengubah kemunkaran, meminta fatwa, memberikan peringatan kepada kaum Muslim dari kejahatan (hal ini termasuk dalam kategori nasihat), menceritakan orang yang terang-terangan melakukan kefasikan dan bid’ah, dan karena memperkenalkan seseorang (dalam ta’aruf ketika menuju pernikahan). 

Imam an-Nawawi berkata dalam kitab al-Adzkar, _“Kebanyakan dari sebab-sebab ini telah disepakati sebagai sebab kebolehan ghibah.”_ Beliau berkata, _“Dalil-dalilnya sangat jelas dari hadits-hadits shahih dan masyhur.”_ Beliau juga telah mengulangi pembahasan tentang ghîbah ini dalam kitab Riyâdhush Shâlihîn. Dalam kitab ini beliau menceritakan sebagian dalil-dalilnya. Ash-Shan’ani juga telah menceritakan masalah ghibah ini dalam kitab Subulus Salâm. Al-Qarafi berkata dalam adz-Dzakhirah, _“Sebagian ulama berkata ada lima perkara yang dikecualikan dari ghibah, yaitu nasihat, mencari rawi dan saksi yang cacat atau yang sehat,orang yang terang-terangan melakukan kefasikan, para pelaku bid’ah, pengarang-pengarang yang menyesatkan, dan ketika orang yang menggunjing dan yang digunjingkan telah sama-sama mengetahui topik pergunjingannya.”_

Membicarakan kedzaliman penghina agama yang sudah viral dan sama-sama diketahui kedzalimannya baik oleh pembicara dan yang mendengarkan termasuk di dalam enam alasan yang dikecualikan para ulama. Apalagi jika hal itu dilakukan untuk mencegah kemungkaran. Mencegah agar hinaan yang disampaikan dengan bahasa yang indah tidak mempengaruhi keimanan umat Islam. Terlebih lagi, di masa gencarnya perang pemikiran yang ada saat ini. Dimana banyak kaum kafir menyuarakan kebathilan melalui antek-anteknya yang berKTP Islam. Maka sangat dibutuhkan adanya ghibah untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan pemikiran seseorang dalam rangka memperingatkan kaum muslimin dari kejahatan dan kesesatan.

Sebagaimana di masa tiga per empat terakhir abad pertama hijriyah, yang diduga sebagai awal bemunculan hadits-hadits palsu yang dilakukan kaum zindiq dan mereka yang ta’ashub (fanatic, kesukuan, tokoh dan bangsa). Untuk menjaga kemurnian hadits (ajaran Islam) dan mencegah merebaknya pengrusakan agama dan ummat, para ulama menggagas ilmu ulumul hadits. Dimana di dalamnya terdapat cabang ilmu _rijaulul hadits_ dan ilmu _jarh wa ta’dil_. Yang berisi pengenalan terhadap perawi hadits termasuk dari sisi sifat adilnya atau cacatnya apakah ia pendusta atau tidak, apakah si perawi lemah hafalannya dan pelupa atau sebaliknya. Di dalamnya juga mencakup penilaian ulama pada personal perawi hadits dari segi keadilan dan kecacatannya agar kita bisa tahu kedudukan hadits yang diriwayatkannya. Ini sebagian dari contoh ghibah yang bahkan bersifat wajib hukumnya demi penjagaan terhadap agama dan umat. 

Akan tetapi, tentu saja, dalam ghibah yang diperbolehkan pun, kita wajib berbuat adil kepada obyek yang dighibahi. Jangan sampai membicarakan kejelekan diluar konteks kedzaliman yang ia lakukan, dalam hal ini selain penghinaan agama yang ia lakukan. Haram hukumnya kita mencela fisiknya, mencela keluarganya atau apapun yang ada pada dirinya diluar konteks kedzaliman atau kerusakan yang dilakukannya. _Allahu a’lam bis showab._

(Usth. Wardah Abeedah)

0 komentar:

Posting Komentar