Ibu Zaman Now; Peduli Keluarga dan Bangsa



[KELUARGA SAKINAH] 
Ibu Zaman Now; Peduli Keluarga dan Bangsa

Ibu adalah sebuah sekolah
Yang apabila engkau persiapkan dia
Berarti engkau telah mempersiapkan
Suatu bangsa dengan dasar yang baik

Menjadi seorang ibu tidaklah main-main, tapi sayangnya banyak wanita yang tidak berpikir demikian. Masih banyak perempuan yang belum merasa pentingnya menjadi seorang ibu yang sungguhan. Hal ini paling tidak terlihat dari berbagai kasus kenakalan generasi yang tejadi di negeri ini. Tidak hanya rusaknya generasi yang mencerminkan rendahnya kualitas pendidikan oleh seorang ibu, bahkan kekerasan yang menimpa anak, yang dilakukan anggota keluarga, khususnya ibu kandung, ada kecenderungan meningkat. Menurut catatan KPAI, pada tahun 2016 ada 1000 kasus kekerasan pada anak yang terlaporkan. Dan kita tahu, ini adalah puncak gunung es, artinya jumlah yang riil bisa jadi lebih berlipat. Dari jumlah itu, 55 persen pelakunya adalah ibu, dan ini menunjukkan peningkatan yang memprihatinkan. Ini menunjukkan kalau negeri ini mengalami krisis ibu idaman anak.

Mengapa para Ibu yang sejatinya merupakan sekolah yang pertama bagi anak-anaknya mengalami kemunduran bahkan hingga menjadi pelaku kekerasan terhadap anak?

Pertama, beratnya problem hidup. Dengan kehidupan yang rusak seperti sekarang, maka berbagai masalah yang akut mendera ke tengah-tengan keluarga. Minimnya rasa percaya antara suami istri, minimnya komunikasi antar anggota keluarga, perselingkuhan, dorongan untuk berkarir di luar rumah dengan jam kerjadan porsi kerja yang tidak ramah keluarga dan lain-lain menjadi masalah-masalah yang terus dihadapi para ibu, sehingga sulit bagi mereka untuk memprioritaskan perhatian dan pendidikan bagi anak-anak. Apalagi, bagi para ibu di lapisan masyarakat ekonomi bawah. Tekanan hidup yang terus bertambah; naiknya tarif listrik, makin mahalnya harga sembako, biaya sekolah, ongkos angkutan, ditambah ditelantarkan suami, membuat mental seorang ibu ambruk, hingga ia tak sanggup mengendalikan emosinya dalam mengasuh anak. Percikan sekecil apapun akan menyulut emosi sang ibu yang mengalami depresi berat. Sehingga terjadilah kekerasan pada anak yang dilakukan oleh seorang ibu. Untuk para ibu dan keluarga di level ini, memiliki anak menjadi beban bukan lagi menyenangkan. Selain biaya hidup harian yang semakin berat, mereka juga dicemaskan dengan masa depan yang seperti tak ada harapan. Faktanya, banyak anak-anak dari keluarga ekonomi bawah ini tumbuh menjadi anak jalanan dan salah pergaulan.

Kedua, Kurangnya orientasi menjadi pendidik generasi dan minimnya kompetensi sebagai ibu. Tidak sedikit perempuan muda yang ketika menikah tidak mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Begitu pula saat mereka hamil dan melahirkan, tidak juga membuat para ibu ini mau meningkatkan kemampuan dan wawasan sebagai ibu yang ideal.
Faktor kedua ini terjadi di semua lapisan masyarakat, baik bawah maupun menengah dan atas. Kita bisa melihat para ibu ini sibuk dengan dunianya sendiri; bersosial media, sosialisasi, shopping, dll., terpisah dari kehidupan anak-anak mereka. 
Dua kondisi ini adalah gambaran umum dalam masyarakat sekulerisme-kapitalisme-liberalisme. Seperti di tanah air, untuk urusan pendidikan dan kesehatan negara lebih banyak berlepas tangan. Program BPJS bukanlah program yang dibiayai oleh pemerintah, tapi berasal kocek masyarakat itu sendiri, dan itu dihitung sebagai kewajiban yang ditagih oleh pemerintah. Karenanya potret masyarakat miskin semakin bertambah di tanah air.
Sementara itu, kehidupan liberal membuat banyak orang berumah tangga tanpa konsep keluarga Islami. Mereka tak mempersiapkan diri untuk kelak berperan dan bertanggung jawab sebagai orang tua, terutama menjadi ibu. Tak sedikit keluarga yang menganut prinsip liberalisme dalam hubungan antar anggota keluarga, termasuk dalam pengasuhan anak. Kebebasan beragama dan kebebasan pergaulan jadi salah satu aturan dalam keluarga kekinian. Ada sejumlah keluarga muslim yang melepas anaknya berganti agama, permisif dalam pergaulan dengan lawan jenis, termasuk membiarkan anaknya larut dalam kultur LGBT.

Kondisi keluarga yang liberal juga membuat emosi tak stabil. Hubungan antar anggota keluarga, khususnya ibu dengan anak menjadi banyak persoalan karena tak ada standar kasih sayang, boleh-tak boleh apalagi halal-haram.

Krisis ibu ini tak bisa dibiarkan berlanjut. Kondisi ideal memang hanya bisa didapat ketika masyarakat hidup dalam naungan kehidupan yang manusiawi, dan itu hanya dalam Syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Di luar itu, amat berat bagi keluarga mendapatkan nuansa kehidupan yang menjunjung akhlak dan terjaga secara sosial. Namun Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berikhtiar, karena dengan ikhtiar itulah Allah akan membukakan jalan keluar bagi kita. 

Melihat berbagai problem diatas, maka menjadi jelas bahwa berbagai masalah yang terjadi lahir dari sistem hidup kita yang salah, baik skala individu telebih lagi skala negara. Sehingga harus ada upaya untuk memperbaiki kondisi ini dengan melakukan beberapa hal berikut:

Pertama, membangun kesadaran bahwa menjadi ibu adalah amanah dari Allah SWT. Ada tanggung jawab besar di hadapan Allah pada pundak kaum ibu dalam pengasuhan anak sejak pernikahan hingga mereka dewasa. Pengasuhan anak bukanlah kontrak sosial dengan anak, tapi amanah dari Allah SWT.

Kedua, mempelajari tsaqofah Islamiyyah secara umum, dan secara khusus tentang hukum-hukum keibuan seperti peran istri, kehamilan, melahirkan, penyusuan, pengasuhan anak, dsb. Dengan demikian saat menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu, kaum muslimah memiliki panduan yang benar dan mudah untuk dijalankan, juga sesuai dengan tuntutan Allah SWT.

Ketiga, meningkatkan ketrampilan teknis sebagai seorang ibu seperti cara berkomunikasi, bermain, memberikan hadiah dan teguran, serta memberikan hiburan yang berguna bagi mereka, termasuk mengendalikan diri saat menghadapi tingkah polah anak.
Keempat, menyadari bahwa kondisi masyarakat dan negara akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita dan keluarga. Sehingga para ibu harus memiliki kepedulian terhadap berbagai masalah yang terjadi dan berperan aktif menyurakan solusi islam kaffah untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada secara menyeluruh. Akan sangat lebih baik, jika upaya ini dilakukan dengan bergabung dengan jamaah dakwah sebagai mana yang Allah sampaikan dalam QS. Al-Imron 104.

Semoga, negeri ini segera menjadi negeri yang berada dalam naungan Syariat Islam agar keluarga muslim dan masyarakat umum dapat terlindungi. Selain juga para muslimah wajib berbenah diri untuk menjadi seorang ibu yang dapat menjalankan amanah dari Allah SWT. dalam pengasuhan anak.

0 Comments

Posting Komentar