Senin, 16 April 2018

Lelang Keperawanan, Dampak Buasnya Kapitalisme



[SUARA MUSLIMAH]

/ Lelang Keperawanan, Dampak Buasnya Kapitalisme /

Oleh : Dini Prananingrum, ST
(Pemerhati Masalah Perempuan, Pembina Pengajian Keluarga Sakinah Yogyakarta)

Di era milenial kini, kemajuan teknologi menjadi sarana efektif yang memudahkan masyarakat di berbagai belahan dunia untuk menjalin komunikasi dan mencari informasi. Namun bagaikan pisau bermata dua, kecanggihan teknologi informasi ini ternyata bisa disalahgunakan untuk melakukan kemaksiatan oleh beberapa pihak. Belum lama ini masyarakat Indonesia dikagetkan dengan terkuaknya kasus 350 perempuan Indonesia yang mendaftarkan diri untuk menjual keperawanannya melalui situs online Cinderella Escorts. (Tribunnews.com 2018/03/31).

Prostitusi Online Berbalut Bisnis

Cinderella Escorts sendiri adalah sebuah agensi penyalur perempuan yang bermarkas di Jerman. Agensi ini memfasilitasi para perempuan dari berbagai kalangan di dunia untuk menjual keperawanannya kepada para pembeli terpercaya. Pendiri dan pengelolanya adalah Jan Zakobielski, pemuda berkewarganegaraan jerman berusia 27 tahun. 

Zakobielski mengaku bahwa agensinya adalah sebuah perusahaan yang sangat profesional dan terorganisir dengan sempurna. Bahkan dia menjamin perempuan yang melelang keperawanan melalui agensinya masih murni perawan dengan adanya sertifikat keperawanan dari ahli kesehatan. Zakobielski juga memastikan para pelamarnya adalah orang-orang terpercaya sehingga dia harus mendampingi langsung agar terhindar dari hal-hal yang berbahaya. 

Pelamar keperawanan para perempuan ini-pun berasal dari berbagai kalangan dan negara, seperti pengusaha kaya, artis hollywood, pemain sepakbola, bahkan politikus terkenal dari Indonesia (TribunNews.com). Perempuan yang telah berhasil menjual keperawanannya ini akan mendapat prosentase 80 persen dari harga lelang yang bisa mencapai miliaran rupiah, sementara Zakobielski mendapatkan 20 persennya. Zakobielski mengaku agensinya resmi dan legal. Sehingga dia tidak mau disebut sebagai “mucikari” namun lebih tepatnya disebut sebagai pebisnis. Demikianlah sebuah potret kemaksiatan berbalut bisnis yang menguntungkan dengan dalih menolong para perempuan menggapai impiannya. 

Rendahnya Sebuah Keperawanan

Seperti yang dikatakan Jan Zakobielski dalam wawancaranya dengan TribunNews, dari 350 perempuan Indonesia yang melamar ke situsnya rata-rata berusia diantara 18-23 tahun. Bisa jadi mereka tergiur untuk mendaftar disitus ini karena terinpirasi dari perempuan-perempuan yang telah berhasil melelang keperawanannya dengan harga fantastis. Tahun 2017 Cinderella Escorts (CE) berhasil menjual perempuan Rumania Alexandria Khefren (18) dengan harga 34 Miliar kepada konglomerat Hongkong. Juga Jasmin (26) perempuan Inggris yang berhasil menjual keperawanannya dengan harga 21 miliar kepada seorang aktor terkenal Hollywood. 

Namun jika ditelisik motif kebanyakan perempuan yang melelang keperawanannya di situs ini merupakan orang-orang yang terjebak dalam masalah ekonomi dan pendidikan. Seperti Andriana (18) gadis asal Perancis yang menjual keperawanannya lewat CE seharga Rp 800 juta demi melanjutkan kuliah di Asia untuk mewujudkan cita-citanya menjadi guru. 

Tidak jauh berbeda dengan kondisi perempuan Indonesia yang terhimpit dengan sistem ekonomi kapitalis ditambah gempuran kehidupan hedonis ala selebritis, menjadikan mereka berfikir sempit dan materialis. Mengambil solusi melelang keperawanannya seakan jawaban akhir untuk memenuhi semua kebutuhan hidup mereka. Padahal keperawanan adalah sebuah simbol sakral kesucian akhlak dan kesempurnaan iman.

Kapitalisme Sekuler Biang Kerusakan

Sungguh sebuah ironi di negeri ini. Para perempuannya tidak hanya terbelit dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya, melainkan juga terkontaminasi dengan kapitalisme sekuler. Sekularisme berhasil menjadikan kaum perempuan terjebak dalam masalah duniawi dan mengesampingkan agama dalam setiap aktivitas kehidupannya. Mereka juga terjerat dengan gaya hidup liberal dan materialis, bebas dan lepas berperilaku dan bekerja apapun tanpa peduli halal dan haram. Paham ini juga menuntut senantiasa mengikuti gaya hidup konsumtif lagi mewah.

Rusaknya gaya hidup ini lahir akibat gurita kapitalisme-sekuler yang berlaku di negeri ini. Kehidupan kapitalis telah melahirkan kekacauan dalam berbagai sisi kehidupan. Kapitalisme nyata-nyata melahirkan kemiskinan. Penghasilan seorang suami/ayah sebagai kepala keluarga tak lagi mencukupi kehidupan keluarganya. Akibatnya banyak perempuan dipaksa secara sistemik untuk keluar mencari nafkah bahkan harus merelakan tubuhnya menjadi komoditas yang bisa diperjual-belikan tanpa memandang bahwa hal tersebut melanggar aturan agama.

Kecanggihan teknologi juga memberi andil cukup besar dalam menyeret perempuan ke jurang perzinahan. Ketika semua informasi mudah didapat tanpa filter dan batasan ruang dan waktu, mereka bisa menggunakan media sosial atau website prostitusi online resmi demi meraup pundi-pundi rupiah. Berkenalan dan mendaftar melalui penyalur resmi atau agensi menjadi amat mudah dilakukan. 

Negara yang mengadopsi sistem kapitalis ternyata juga gagal dalam mencegah maraknya prostitusi online. Contohnya aturan pidana di negeri ini tidak dapat menjatuhkan sanksi kepada mereka yang melakukan perzinahan secara sukarela. Terlebih jika RUU Pencegahan Kekerasan Seksual di sahkan, jasa yang ditawarkan oleh Cinderella Escorts (CE) tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan pidana. Karena perbuatan seksual yang dilakukan tanpa paksaan, dikehendaki oleh satu sama lain dan seseorang secara bebas memberikan persetujuannya, tidak akan dikategorikan sebagai perbuatan yang patut disanksi. Maka agensi seperti CE baik pengelola, pengguna dan para perempuannya tidak dapat tersentuh hukum. 

Sistem Kapitalis semakin lengkap menjadi biang kerusakan karena sistem ini terbukti gagal dalam membina dan melahirkan orang-orang sholih dengan kadar iman yang kuat. Kalaupun ada, jumlahnya tidaklah banyak. Lemahnya iman dan ketaqwaan yang rendah menyebabkan banyak orang tidak mampu menahan diri dari godaan. Sebuah kesucian perempuan begitu mudahnya untuk dijual-belikan. Tanpa memandang baik-buruk yang ditimbulkan atau bahkan harus menabrak norma-norma yang berlaku dalam tatanan masyarakat. Sungguh sangat memprihatinkan, sedemikian jahatnya kapitalisme-sekuler dalam merusak kehidupan manusia.

Islam Menjaga Kehormatan Perempuan

Dalam sebuah kaidah Syara’ dikatakan bahwa “Perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga”. Islam pun secara tegas memberikan penjagaan terbaik kepada perempuan melalui SyariatNya. Islam melindungi perempuan dari hal yang paling sederhana hingga yang paling kompleks, sehingga dapat menjadi solusi dalam mengatasi prostitusi melalui penyelesaian yang komprehensif. 

Setidaknya ada lima jalur penyelesaian yang dalam pelaksanaannya saling bersinergi. Yakni : 

Pertama, Jalur Hukum. Negara harus tegas memberikan sanksi pidana kepada para pelaku prostitusi yang telah berbuat zina. Bukan hanya mucikarinya yang diberi sanksi, juga perempuan dan pemakai jasanya. Selama ini, PSK selalu dibela sebagai korban. Sementara para lelaki hidung belang bebas melenggang. Mereka adalah subyek dalam lingkaran prostitusi yang harus dikenai sanksi tegas. Hukuman di dunia bagi pezina adalah dirajam (dilempari batu) jika ia pernah menikah, atau dicambuk seratus kali jika ia belum pernah menikah lalu diasingkan selama satu tahun. Sanksi yang menakutkan ini akan membuat siapapun berpikir ribuan kali agar tidak melakukan kemaksiatan tersebut.

Kedua, Jalur Ekonomi, Negara harus menjami kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat, termasuk penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Sehingga, alasan mencari nafkah dan himpitan ekonomi tidak bisa lagi digunakan untuk melegalkan prostitusi.

Ketiga, Jalur Pendidikan, Negara wajib menjamin pendidikan bermutu dan bebas biaya. Kurikulumnya harus mampu memberikan bekal ketakwaan, selain kepandaian dan keahlian pada setiap orang agar mampu bekerja dan berkarya dengan cara yang baik dan halal. Pendidikan juga menanamkan nilai dasar tentang benar dan salah, serta standar-standar hidup yang boleh diambil atau tidak. 

Keempat, Jalur Sosial, Pembinaan untuk membentuk keluarga yang harmonis merupakan penyelesaian jalur sosial yang juga harus menjadi perhatian pemerintah. Hal ini disebabkan keluarga merupakan salah satu pilar dalam masyarakat yang ikut menentukan kualitas suatu generasi.

Kelima, Jalur Politik, Penyelesaian prostitusi membutuhkan diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait prostitusi. Negara merupakan satu-satunya institusi yang mampu menerapkan syariat Islam.

Inilah gambaran penerapan Syariat Islam secara total yang mampu membebaskan perempuan dari jeratan prostitusi serta menjamin kesejahteraannya hingga dapat menjaga kehormatan dan kemuliaannya. Saatnya negeri ini meninggalkan sistem gagal Kapitalis sekuler dan beralih kepada sistem yang berasal dari Sang Pencipta manusia. Sistem ini pasti terjamin kebaikannya dan terbukti penerapannya membawa rahmat bagi semesta alam. 

Wallahu a’lam

0 komentar:

Posting Komentar