Kamis, 05 April 2018

Mendidik Anak dengan Bahagia


Materi 1 Kul WA Parenting Qur’ani : Mendidik Anak dengan Bahagia
(Ustdzh. Gadinia Bunga)

Memiliki anak adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh pasangan yang telah menikah. Setelah memiliki bayi mungil dan lucu kebahagiaan keluarga kecil kita semakin bertambah, tetapi akankah kebahagiaan ini akan terus terasa hingga mereka bertambah besar?



Anak adalah Harapan Vs Beban


Kehadiran anak bisa menjadi harapan bagi orang tua, namun tak jarang juga akan menjadi beban. semua sangat dipengaruhi oleh cara orang tua dalam memandang keberadaan mereka. 


Seorang anak akan menjadi harapan orang tua, ketika orang tua menyadari bahwa anak adalah harapan bagi orang tua, karena mereka memahami bahwa:

1.       Anak adalah Rizki.

Allah SWT Berfirman :

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (QS. Asy Syura: 49-50)


       Anak adalah penyenang hati

Allah SWT Berfirman :

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqon : 74)


3.      Anak adalah Penyelamat di Akhirat.

Rasulullah SAW Bersabda:


Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannyakecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau doa anak yang shalih." (HR. Muslim no. 1631)


Namun, saat ini tidak sedikit orang tua menganggap anak sebagai beban. Faktanya tidak sedikit orang tua yang merasa tidak bahagia ketika mendidik anak-anak mereka. Banyak kasus orang tua menganiaya anak, bahkan membunuh mereka karena motif ekonomi maupun karena stress.


Survey tersebut menjadi terkenal, karena isinya yang mengejutkan. Menurut survey tersebut, secara rata-rata, ibu rumah tangga lebih rentan stres (yaitu ibu tak bekerja yang punya anak <18 tahun) mengalami tingkat rasa sedih, stres, marah, serta depresi lebih tinggi dibandingkan perempuan bekerja. 


Hal ini terjadi karena cara pandang seorang Ibu tentang bahagia diukur dari seberapa besar mereka bisa memenuhi kebutuhan materi seperti pakaian, mainan, makanan dan lain sebagainya. Sehingga menjadi suatu yang wajar ketika seorang Ibu menjadi stress tatkala tidak bisa memberikan kebahagiaan berupa materi. Selain itu Ibu merasa bahwa mendidik anak tidak menghasilkan materi, jika dibandingkan dengan Ibu Pekerja.



Akan menjadi berbeda ketika seorang Ibu mengetahui bahwa mendidik anak hanya mengharap Ridho Allah SWT, serta akan menjadi Investasi di Akhirat. Ibu yang paham hakikat kebahagiaan dalam Islam akan sadar bahwa kehidupan di Dunia ini hanyalah senda gurau belaka, sedangkan kehidupan di akhirat itu lebih baik daripada kehidupan di dunia.


Selain itu Ibu juga memahami bagaimana Islam memuliakan Ibu. Seperti riwayat dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasululah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab ‘Ibumu !’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu !’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian Siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian Ayahmu’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548). Rasulullaah SAW mrmuliakan Ibu dengan 3 tingkatan dibandingkan Ayah.


Bahkan ketika seorang anak berbakti pada Ibu, maka akan menghapus dosa . Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata bahwasannya aku meminang wanita, tapi enggan menikah denganku. Dan dia dipinang orang lain lalu dia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata : Apakah Ibumu masih hidup? Ia menjawab tidak. Ibnu Abbas berkata :  bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNYa sebisamu. Atho’ bin YAsar berkata : maka aku pergi menanyakan pada Ibnu Abbas, kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan Ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri  kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada Ibu. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al BAihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya. Lihat As Shohihah 2799)).


Dan satu lagi kemuliaan seorang Ibu yaitu Do’anya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya,(2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372)).



Sehingga ketika seorang Ibu memahami bagaimana kemuliaan menjadi Ibu, maka tidak ada lagi perasaan bahwa menjadi Full Mom adalah sesuatu yang sangat membosankan dan membuat Ibu mempunyai tingkat stress yang tinggi. Untuk menghasilkan generasi Sholih Sholihah yang bisa menjadi harapan ORANGTUA KELAK di akhirat, maka Ibu juga harus memahami apa tujuan dari mendidik Anak dalam Islam. Yaitu :
1

  1. Menjadi ’aabidush shaalihiin (hamba yang shaleh).    

Firman Allah SWT yang artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka  menyembah-Ku”.
[TQS. Adz Dzaariyat: 56]

Makna “liya’buduun” pada akhir ayat tersebut adalah ketundukan kepada Allah SWT dalam segala hal. Sehingga Ibu akan berusaha sekuat tenaga untuk mendidik anaknya dengan tujuan menjadikan mereka sebagai hamba Allah SWT yang taat, tunduk, dan patuh hanya kepada Allah SWT, jadi mendidik anak tidak hanya agar mereka berprestasi dalam kehidupan dunia saja.

 
2.      Menjadi  “kholifah fil ardl” (pemimpin di bumi).

Firman Allah SWT yang artinya : “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"…..[TQS. Al Baqarah: 30].

Bagaimana cara agar bs mendidik anak menjadi hamba Allah yang taat, tunduk, dan patuh hanya kepada Allah dan Ibu akan untuk menjadi seorang Premimpin sekaliber Dunia? Maka yang Ibu perlukan adalah mengetahui dan memahami Potensi anak kita. Potensi setiap anak sebagai hamba Allah adalah :

1. Potensi akal
               Allah memberikan akal pada manusia agar bisa membedakan mana yang baik dan mana                   yang benar

2. Kebutuhan Jasmani
Kebutuhan yang rangsangannya berasal dari dalam tubuh, dan wajib untuk dipenuhi. Karena jika tidak akan menimbulkan kematian. Contoh : makan, minum, istirahat, dll

3. Kebutuhan Naluri
Kebutuhan yang rangsangannya dari luar, dan tidak harus dipenuhi, karena tidak akan menimbulkan kematian jika tak terpenuhi.

a. Naluri Tadayyun : kecenderungan dalam beragama
b. Naluri Nau' : kecenderungan untuk memberikan kasih sayang, dan melestarikan                      keturunan
c. Naluri BAqo': kecenderungan untuk mempertahankan diri, atau menunjukkan eksistensi diri

Dengan memahami potensi anak, maka Ibu akan bisa memenuhi kebutuhannya sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.contoh : Ibu bs membedakan tangisan anak karena lapar, haus, takut, ingin diperhatikan, atau karena merasa dirinya tidak dipedulikan, karena penanganan dari setiap kebutuhannya akan berbeda.

Selain itu Ibu juga harus memahami tahapan usia anak, sehingga Ibu bisa menyelesaikan permasalahan anak dengan tepat sesuai dengan tahapan usai anak. Secara biologis, fase pertumbuhan seorang manusia telah digambarkan oleh Allah di dalam Alquran, yaitu dalam surat Al-Mu’min ayat 67 :

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahaminya.”


Dari penjelasan ayat di atas bahwa proses kejadian individu mengalami tahapan dan dinamika sejak dalam kandungan hingga lahir. Seorang individu tumbuh menjadi anak, dewasa, tua. Dan Alquran menegaskan bahwa ada yang diwafatkan sebelum seorang individu berubah kepada fase perkembangan selanjutnya. Namun inti dari ayat ini adalah bahwa seorang manusia, pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan.

Jika kita membahas Fase pertumbuhan di masa kanak-kanak hingga baligh, maka Islam telah menetapkan masa kanak-kanak ini menjadi beberapa fase :
  • Masa bayi (0 hingga 2 tahun)
  • Masa anak-anak (2-7 tahun atau disebut dengan fase thufulah)
  • Masa Tamyiz (7-10 tahun)
  • Masa Amrad (10-15 tahun)
  • Masa Taklif (15-18 tahun) --- dewasa

Ini gambaran umumnya. Usia tidak bisa dipatok. Karena sekarang banyak yang mengalami fase baligh di usia 10-15. Jika diringkas lagi, fase perkembangan anak itu ada
  1. Fase pra tamyiz
  2. Fase tamyiz
  3. Fase baligh

Ada banyak versi, tapi intinya seperti itu.

Namun, ingat pada setiap fasenya, perlakuan orangtua tidak boleh sama. Alih-alih anak menjadi generasi pejuang, ketika salah/tidak tepat memberi perlakuan saat mendidik, anak malah jadi antipati terhadap perjuangan.


Di fase pra tamyiz, misalnya, dimana anak-anak sedang membutuhkan full perhatian dan kasih sayang, maka tidak tepat jika orangtua mendidik anak dengan keras dan menekan. Jika ini dilakukan, maka hati anak akan menjauh dari orangtuanya.

Untuk panduan ini, berdasar nasihat bijak dari Sahabat Ali -karramahullahu wajhah - : "Perlakukan anakmu dengan penuh kasih sayang di 7 tahun pertama, sebagai prajurit di 7 tahun ke dua, dan perlakukan sebagai sahabat setelahnya"


Untuk fase-fase mendidik anak di 7 tahun pertama, bisa saya jelaskan sebagai berikut :

  • Biasakan anak, kita talqin kalimah tauhid. Hal ini bisa dilakukan bahkan sejak dalam kandungan. Sehingga anak terbiasa mendengar kalimah thayyibah
  • Biasakan menceritakan Allah Rabb mereka.
  • Biasakan membacakan, mengisahkan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Kisah akan membuat pikiran mereka berkembang
  • Ajarkan Alquran (bukan mengajarkan hurufnya), tapi membiasakan memperdengarkan atau menghafalkan alquran bersama
  • Mengenalkan beberapa macam ibadah dan tatacaranya (baru mengenalkan lho ya)
  • Terkait point mengenalkan ibadah, di usia 7 tahun pertama (pra tamyiz), orangtua bisa mulai membimbing anak mengerjakan sholat, dimulai ketika anak sudah bisa membedakan tangan kanan dan kiri (HR. Thabrani dari Abdullah bin Habib).


Dan sebelum usia 7 tahun, tidak boleh orang tua memaksakan anak untuk sholat. Karena perintah sholat baru ditekankan oleh Baginda di usia 7 (usia tamyiz). Jadi sebelum usia ini, targetnya adalah melatih, dan menumbuhkan kecintaan. Esensi dari shalat untuk apa, dsb harus diulang-ulang di usia pra tamyiz. Sehingga ketika tamyiz sudah tidak terlalu berat utk melaksanakan sholat. Dan saat usia baligh, sudah ringan mengerjakannya. Sholat salah satu contoh saja yang saya gambarkan.


Jadi jangan sampai, mohon maaf, anak usia pra tamyiz, tapi mereka sudah "diseret-seret" orangtuanya untuk menunaikan ibadah, padahal belum ada taklif kepadanya. Dan orangtua memarahinya saat si anak tidak melaksanakan "kewajiban" tersebut. Akhirnya yang terjadi, anak jadi males, terlebih ortu tidak clear menyampaikan filosofi dsb.

Mohon maaf, saya hanya ingin mencontohkan salah satu kesalahan dalam perlakuan orangtua tsb kepada anak : Ada anak (perempuan), yang saat usia baligh menyampaikan begini "ana bosan pake kerudung. Dari balita ana udah disuruh-suruh menutup aurat sama umi ana. Pingin banget sekali-kali ana buka kerudungnya ah". Ini kisah nyata.

Masih tentang sholat, baginda Rasulullah saja memberikan tahapan pengajaran agar anak mencintai sholat:
  • Periode Pengkondisian. Melibatkan anak sholat -- pra mumayyiz (batasan : saat anak bisa membedakan tangan kanan dan kiri)
  • Periode Pengajaran Sholat. Mengajarkan rukun, kewajiban dalam sholat, apa saja yg membatalkan sholat. Ini usia tamyiz, atau usia 7 tahun awal periode pengajarannya (HR. Abu Dawud dari Sibrah bin Ma'bad)
  • Baginda Rasulullah saw, memberi waktu 3 tahun, kita menggembleng anak-anak sampai sholat mereka sempurna. Dimana, jika usia mereka telah menginjak 10 tahun, maka boleh memukulnya jika mereka tidak mau sholat. Tentu ukuran usia ini, bisa jadi berkurang, jika di usia sebelum 10 tahun, anak kita telah baligh.



Bunda…..Kehadiran kita di dunia untuk menyempurnakan Penghambaan kita kepada Allah SWT. termasuk saat kita mendidik anak, adalah dalam rangka Taqorrub kepada Allah dan mencetak mereka menjadi  jiwa-jiwa yang sholih dan ummat terbaik.......

Mendidik anak secara ISLAM tentu sulit kita lakukan sendiri, butuh teman dan butuh komunitas yang mempunyai tujuan yang sama yaitu terlahirnya generasi-generasi Qur'ani yang Sukses di Dunia dan membela Agamanya.......
Wallahu ‘alam bish Showab.

@gadinia.bunga   



0 komentar:

Posting Komentar