Rabu, 04 April 2018

Miris! Jember Kota Santri Banjir Narkoba



[Suara Muslimah] 
Miris! Jember Kota Santri Banjir Narkoba

Oleh: Ulfiatul Khomariah 
(Mahasiswi Universitas Jember, Freelance Writer, Koordinator Komunitas Penulis Qiroah)

Berbicara tentang kota santri tentunya lekat dengan nuansa islami. Namun kota santri kini tak lagi menjadi kota Islami. Kota santri kini berubah menjadi kota yang miris karena generasinya tak lagi nyantri. Sebagaimana Jember yang terkenal dengan kota seribu pesantren kini lekat dengan berbagai masalah generasi, salah satunya adalah maraknya pengguna narkoba di Jember yang didominasi oleh kalangan pelajar bahkan para santri.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,1 juta orang, dan itu terbesar di Asia. Dari jumlah itu, 40% di antaranya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Merespon hal itu Komisi D DPRD Jember, Jawa Timur, meminta agar Dinas Kesehatan mengalokasikan anggaran uji urine untuk seluruh pelajar dalam APBD. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memerangi narkoba.

Sebagaimana yang diberitakan oleh berbagai media, beberapa hari yang lalu empat Mahasiswa di Jember ditangkap polisi karena ketahuan sedang berpesta ganja di kamar kos mereka. Lokasi pesta narkoba tepatnya di rumah kos di Perum Mastrip, tak jauh dari kawasan lingkungan sebuah kampus ternama di Jember. Dari tangan pelaku, Polisi berhasil mengamankan ganja dengan berat kotor 14,7 gram sebanyak 2 klip di dalam tas.

Tak hanya pelajar yang menjadi korban narkoba, namun para santri yang notabene sudah digembleng ilmu agama pun tak luput dari kasus narkoba. Berdasarkan berita yang dilansir di beritajatim.com, polisi membekuk AW (26), pria warga Dusun Karang Tengah, Desa Pace, Kecamatan Silo, yang menjadi pengedar pil koplo di kalangan pesantren. Informasi peredaran pil koplo ini berasal dari pengasuh pondok pesantren itu sendiri. "Sekitar dua minggu lalu ada santri yang terindikasi terkena pengaruh pil. Pengasuh pondok berkomunikasi dengan kami, dan kami melakukan penyelidikan," kata Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Kusworo Wibowo.

Sungguh sangat miris sekali, Jember yang terkenal sebagai kota santri kini menjadi tempat menjamurnya narkoba. Kondisi ini akan mengakibatkan efek yang sangat berbahaya bagi generasi bangsa. Dampak merusak luar biasa akan terjadi dan menjadi biang tindakan kriminal. Generasi muda adalah tonggak estafet kepemimpinan masa depan bangsa dan negara. Jika generasinya sudah rusak seperti ini lalu mau dibawa kemana arah kepemimpinan bangsa ini?

Melihat kondisi ini, tentunya pemerintah tak tinggal diam. Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menanggulangi masalah narkoba. Baik dari aparat maupun Lembaga Sosial Masyarakat (LSM). Bahkan beberapa kali hukuman mati dijatuhkan kepada pengedar narkoba dan beberapa pun telah dieksekusi. Namun, kasus narkoba seolah tak pernah berhenti dan tumbuh subur di negeri ini.

Yang perlu kita ketahui disini adalah bahwa narkoba tidak hanya mengancam masyarakat dari sisi kesehatan. Narkoba juga menjadi biang kerok bagi tumbuh suburnya kriminalitas. Tak terhitung dampak buruknya dalam merusak generasi. Ketiadaan solusi tuntas untuk menyelesaikan kasus narkoba sama dengan membiarkan negara ini menuju kehancuran. Karena Narkoba jauh lebih ganas daripada kanker.

Narkoba tidak hanya membunuh individu, namun membunuh masyarakat dan generasi. Ini merupakan masalah sosial sistemik. Namun rupanya program pemerintahan pusat dan lembaga sosial masyarakat kurang bisa mengatasi permasalahan narkoba. Terbukti dari tren pengguna narkoba saat ini terus meningkat setiap tahunnya.

Mengatasi masalah narkoba tentu memerlukan upaya preventif, bukan hanya represif. Upaya lni memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari keluarga, masyarakat dan Negara. Di sisi lain pihak kampus dan stakeholder harus memahami, bahwa kasus narkoba ini bukan masalah parsial. Hal ini dikarenakan peredaran narkoba termasuk masalah sistemik dan akut. Solusi yang ditawarkan harus mendasar hingga akar persoalan terbabat habis..

Upaya preventif yang bisa digunakan adalah menciptakan suasana ketakwaan di tengah keluarga, masyarakat dan Negara. Mendorong setiap individu menjadikan hidupnya berlandaskan aqidah. Sehingga orang tidak akan terjerumus untuk mengkonsumsi narkoba karena tahu itu adalah hal yang dilarang Allah SWT. Dorongan ketakwaan pula yang akan menjadikan orangtua berusaha menciptakan suasana yang nyaman dan aman di dalam keluarga sehingga anggota keluarga tidak mencari pelampiasan diluar keluarga.

Dari sisi masyarakat, dengan dorongan ketakwaan yang tinggi akan menjadi lingkungan yang kondusif dalam mencegah perbuatan yang dilarang agama termasuk mengkonsumsi narkoba. Negara juga memiliki peran penting dalam mencegah masuk dan beredarnya narkoba di dalam negeri. Selain itu harus ada upaya pencegahan dengan memberikan sanksi yang tegas kepada pengguna, pengedar dan produsen narkoba. Wallahu a’lam bish-shawwab...

Sumber: Suara Jatim Post 

0 komentar:

Posting Komentar