Muslimah Posting Foto di Sosmed. Bolehkah?


[KAJIAN FIQH]

Muslimah Posting Foto di Sosmed. Bolehkah?

Assalamualaikum Wr.Wb.

Pertanyaan :

Usth, bagaimana hukumnya muslimah meng-upload foto di media sosial?

Jawaban :

Perempuan tak dilarang tampil di media, baik cetak maupun elektronik selama masih dalam batasan yang dibolehkan syara'. 

Menutup aurat secara sempurna dengan memakai jilbab dan khimar di hadapan umum termasuk di dunia maya sudahlah tentu wajib bagi setiap muslimah. Namun tak cukup disitu. Ada beberapa hal yang patut diperhatikan sebelum seorang muslimah tampil di media. Diantaranya :

1. Fahami posisi perempuan dalam Islam “Hukum asal seorang perempuan adalah sebagai ibu dan rabbatul bayt; perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga.” [Taqiyuddin An-Nabhani, ….] 

Wanita adalah kehormatan yang wajib dijaga. Artinya disini, siapapun itu, baik suami, mahram, masyarakat bahkan negara wajib menjaga kehormatan setiap wanita. Terlebih wanita itu sendiri, urgen bagi mereka mengetahui posisinya sebagai sebuah kehormatan untuk kemudian menjaga dirinya dan kehormatannya 

2. Jangan bertabarruj, apalagi sengaja mengeksploitasi fisik. 

Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ “…. Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (Qs. Al Ahzab: 33). 

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّلاَبَائِهِنَّ 

“Hendaknya wanita tidak menampakkan kecantikan (perhiasan)-nya kecuali yang boleh tampak dari dirinya. Hendaknya wanita tidak menampakkan kecantikan (perhiasan)-nya kecuali kepada suami-suami mereka atau bapak-bapak mereka.” (QS: an-Nur [24]: 31) 

Tabarruj diambil dari kata al-burj (bintang, sesuatu yang terang, dan tampak). Secara istilah syar’i tabarruj bermakna Menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada laki-laki asing (bukan mahram).

Hendaknya tampilan wanita yang muncul di media bukanlah yang menonjolkan kecantikan ataupun menampakkan perhiasan. 

Terlebih jika foto atau video yang diunggah atau ditampilkan di media sengaja ditujukan untuk mengeksploitasi kecantikan atau kemolekan tubuh. Terlebih jika demi keuntungan materi.

Dari Rafi’ bin Rifa’ah RA, dia berkata,”Rasulullah SAW telah melarang kita dari pekerjaan budak perempuan, kecuali apa yang dia kerjakan dengan tangannya.” Beliau mengatakan, ”Yaitu pekerjaan seperti ini, sambil beliau memperagakan dengan jarinya, yaitu membuat roti, memintal, dan menenun.” (HR Ahmad) 

3. Menghiasi diri dengan sifat malu. 

Sifat malu adalah bagian dari akhlaq mulia yang dianjurkan oleh Islam. 
Rasulullah SAW bersabda, “…sesungguhnya sifat malu itu bagian dari keimanan (HR. Bukhari) 

Diantara kalam beliau yang masyhur, 

“Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan Nabi-Nabi terdahulu adalah, “Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu” (HR Bukhari). 

Ibnul Qoyyim menjelaskan dalam Madarijus Salikin :

“Kuatnya sifat malu tergantung kondisi hidup hatinya. Sedikit sifat malu disebabkan oleh kematian hati dan ruh, sehingga semakin hidup hati itu maka sifat malupun semakin sempurna. Beliau juga mengatakan, Sifat malu darinya tergantung kepada pengenalannya terhadap Rabbnya.”

Sifat malu adalah buah dari keimanan, utamanya iman akan sifat Allah yang Maha Melihat. Wanita mukmin akan senantiasa merasa dilihat oleh Allah, sehingga dalam setiap amalnya ia akan berhati-hati karena malu untuk bermaksiat ataupun melakukan hal yang tak mendatangkan ridha Rabb-nya.

4. Anjuran bersikap wara’

Rasulullah SAW bersabda,

“…Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara” (HR.Thobroni)

Beliau juga pernah menasehatkan pada Abu Hurayrah, “Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahi ibadah.” (HR.Ibnu Majah)

Ibrahim bin A’dham berkata,
“Wara’ adalah meninggalkan syubhat (yang masih samar), termasuk pula meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untukmu. Yang dimaksud adalah meninggalkan perkara mubah yang berlebihan” [Madarijus Salikin] 

Sikap wara’ senantiasa menghiasi sahabat Rasulullah SAW, generasi terbaik sepanjang zaman. Utamanya para wanita di masa itu. 

Meski tak haram wanita tampil di media -asal memenuhi beberapa syarat yang dibahas sebelumnya-, jika itu tak bermanfaat dan tak ada kepentingan apapun untuk tampil, sebaiknya ditinggalkan. Namun jika dilakukan dengan niat lillah dan demi kepentingan dakwah atau mensyi’arkan Islam tanpa lebih dari pemenuhan kewajiban, maka ini bukanlah termasuk ketidak wara’an. 

Terlebih, bersikap sopan dan serius akan menjauhkan kaum hawa dari pandangan nakal dan lalainya hati para lelaki yang lemah iman. Allahu a’lam bis shawab.

0 Comments

Posting Komentar