Pernikahan Dini




[ SUARA MUSLIMAH ]

Pernikahan Dini
(Editor dan Blogger Profesional, Member Revowriter)

Awal tahun 2000-an, “Pernikahan Dini” juga menjadi trending topik rating tinggi. Tapi bukan karena berita tentang anak-anak ’belum cukup umur’ yang telah memutuskan menikah. Baik sukarela atau terpaksa karena perjodohan atau budaya tertentu. Pernikahan Dini yang dimaksud adalah sebuah sinetron yang tayang di RCTI dengan bintang tenar Agnes Monica dan Sahrul Gunawan sebagai pemerannya.

Sinetron garapan Prima Entertainment ini bercerita tentang Dini –diperankan oleh Agnes Monica- seorang gadis yang baru lulus SMP yang harus menikah karena “kecelakaan” (Married By Accident). Tentu, kecelakaan dalam tanda kutip ini adalah melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan pernikahan sebelumnya. Dalam Islam hal ini dihukumi dengan zina.

Sebenarnya pesan dari sinetron ini sangat bertentangan dengan pandangan Islam. Dimana salah satu tujuan pernikahan seharusnya menjadi sarana mencegah terjadinya zina, bukan menikah karena telah melakukan zina terlebih dahulu. 

Menikah dini sendiri sering kali menjadi polemik dan pembahasan hangat di tengah masyarakat. Masih adanya budaya menikahkan atau menjodohkan anak sejak dari kecil di beberapa wilayah masih sering menjadi sorotan banyak orang. Padahal pernikahan seharusnya dilakukan bila telah ada keridho-an dari keduanya (baik calon pengantin pria dan wanita). 

Terlebih ketika viral berita sepasang kekasih yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP memutuskan untuk menikah. Tak seperti Gunawan –diperankan oleh Sahrul Gunawan dalam sinetron Pernikahan Dini-, yang menikahi Dini karena telah terjadi kecelakaan, kedua anak SMP ini tidak terlibat ‘kecelakaan’ seperti halnya dalam drama fiksi tersebut.

Alasan pernikahan dini siswa-siswi yang tinggal di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini adalah karena takut tidur sendirian, sementara orang tuanya merupakan orang yang sangat sibuk dan jarang di rumah. Keinginan menikah yang awalnya ditolak oleh KUA setempat karena tidak memenuhi persyaratan usia berdasarkan pasal 7 ayat 1 undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Dimana di dalam undang-undang ini disebutkan bahwa batas usia menikah bagi perempuan adalah 16 tahun dan pria 19 tahun. Akhirnya mendapat pesetujuan setelah mengajukan gugatan ke pengadilan agama.

Dalam Islam tidak ada batasan umur pernikahan. Artinya berapapun usia calon suami-isteri tidak menghalangi sahnya pernikahan, bahkan usia belum baligh sekalipun. Umumnya anak laki-laki sudah baligh ketika berumur 10-15 tahun, sementara anak perempuan baligh rata-rata di usia 12-15 tahun. Baligh sendiri adalah awal masa dimana segala perbuatan hamba manusia telah terbebani hukum, saat dimulai malaikat Raqib dan Atid mulai mencatatkan amal perbuatannya untuk kelak dimintai pertanggung jawaban.

Namun begitu, Perkawinan menurut hukum Islam yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaaqqan ghaliidhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Bila menikah mengikuti aturan usia baligh di dalam Islam, maka jelas hal ini akan menjadi bulan-bulanan di masa kini. Ada banyak alasan orang menolak pernikahan dini, salah satunya karena belum adanya kematangan finansial dan kesiapan mental atau ‘kedewasaan’.

Meskipun begitu, seperti yang sedikit banyak telah digambarkan dalam sinetron “Pernikahan Dini” tersebut, dalam sistem sekuler pun terjadi pernikahan dini. Bukan dengan alasan ibadah tentunya, tapi karena pergaulan yang kebablasan yang berakibat kecelakaan.

Rumah tangga bukan ajang permainan, bukan pula hanya sekedar mencari “teman tidur” agar tak lagi takut gelap. Pernikahan merupakan ibadah yang paling panjang di dalam hidup manusia. Selain ada banyak keutamaan dalam menikah, bertambah pula tanggung jawab anak manusia ketika telah menyandang status sebagai suami atau istri.

Seorang laki-laki yang telah berubah status menjadi suami, memiliki kewajiban untuk menuntun keluarganya agar taat, tunduk dan patuh kepada Allah dan menjauhkan mereka dari api neraka. Hal ini seperti dalam firman Allah SWT : “Hai orang-orang beriman, perliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim 66:6]
Begitu pula dengan perempuan yang telah menjadi istri, memiliki kewajiban untuk menjadi partner suami dan pencetak generasi shalih dan shalihah.

Zaman sekarang, kematangan usia atau kedewasaan umumnya diukur dengan banyaknya umur. Jadi, sekalipun sudah baligh belum bisa dikatakan dewasa sampai mencapai angka usia tertentu. Bila dahulu kita mengetahui Muhammad Al-Fatih menjadi penakluk konstantinopel pada usia 21 tahun. Pada zaman sekarang, kebanyakan pemuda dan pemudi kita pada usia itu masih bergantung pada orang tuanya. 

Ibnu Batutta juga mulai berlayar mengelilingi dunia pada usia 21 tahun hingga usia 29 tahun. Selama kurun waktu tersebut ia telah mengunjungi 44 negara di dunia. Sesuatu yang sangat hebat, mengingat di masa itu belum ada transportasi seperti pada masa ini.

Jika Imam Syafi’i bisa menghafal Al-Qur’an pada usia 7 (tujuh) tahun, anak-anak zaman sekarang kebanyakan malah kecanduan gadget di usia tersebut. Imam Syafi’i berpisah dengan ibunya pada usia 15 (lima belas) tahun untuk menuntut ilmu di luar Makkah, sementara anak-anak zaman sekarang umumnya bahkan tak bisa mengatasi gejolak hatinya terhadap lawan jenis.

Perbedaan ini terjadi karena tidak kuatnya kepribadian Islam pada generasi-generasi muda. Jangankan menaklukkan sebuah negeri, atau seperti Ja’far bin Abu Thalib yang telah mampu bernegosiasi dengan Raja Najasyi di Habasyah pada usia 12 tahun. Kesiapan pemuda dan pemudi kita untuk menikah masih perlu dipertanyakan lagi.

Pupusnya kepribadian Islam pada pemuda kita di masa kini, semua ini tidak terlepas dari liberalisasi pendidikan yang tujuannya mencetak manusia sekuler dan hanya sekedar bisa bekerja di masa depan. Hal ini, berpengaruh juga pada kehidupan rumah tangga, bahkan sekalipun pernikahan telah dilakukan di dalam rentang usia dewasa versi hukum manusia. Ketidaksiapan ilmu agama, finansial dan ruhiyah bisa membahayakan rumah tangga mana saja tanpa memandang usia.

Pernikahan ideal itu untuk ibadah, maka hanya bisa dilaksanakan di dalam sistem yang mendukung menikah memang untuk ibadah. Tidak bisa atau sulit jika dipaksakan diterapkan pada sistem selain itu. Seperti pemaksaan ikan air tawar untuk hidup di lautan, atau pemaksaan ikan di lautan untuk hidup di sungai.

Wallaahu a’lam bi ash-shawab.

0 Comments

Posting Komentar