Politik Kartini Era Kini



[TRENDING TOPIC]
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan. Bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar bagi kaum perempuan agar lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam ke dalam tangannya, yaitu menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)


-----
/ Politik Kartini Era Kini /

Oleh: Puspita Satyawati (Founder Majelis Qonitaat Sleman, Yogyakarta)

Ironis. Atas nama perjuangan Kartini, sebagian kaum hawa menuntut emansipasi. Mereka memperjuangkan nilai liberal ala Barat yang justru ditentang oleh sang pejuang. 

Kesetaraan gender sebagai isu utama yang diusung kaum feminis jauh dari makna pembelaan hak perempuan ala Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Beliau hanya berkehendak agar perempuan sebagaimana lelaki mendapatkan pendidikan layak.

Sampai hari ini kalangan feminis tak lelah meneriakkan tuntutan kesetaraan peran. Berbagai problem perempuan menjadi spirit melakukan penentangan terhadap apa yang disebut diskriminasi atau kesenjangan gender. Termasuk sebagian ajaran Islam yang dipandang sebagai doktrin bias gender. 

Pun mereka giat melakukan berbagai tekanan untuk membebaskan belenggu perempuan melalui jalur politik formal. Kaum feminis memosisikan diri sebagai kelompok penekan yang mendesak pengesahan berbagai kebijakan sebagai payung hukum ide-ide mereka. Seperti tengah dipraktikkan dalam proses legislasi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang sarat dengan nilai liberal sekuler. 

Mereka juga mendambakan kondisi perempuan yang lebih indah dengan keterlibatan di ranah politik. Keberhasilan pemberdayaan politik perempuan ala feminis diukur dengan seberapa banyak representasi perempuan dalam semua tingkatan pengambilan kebijakan. Baik di level eksekutif, legislatif dan yudikatif. 

Rendahnya kesadaran politik perempuan yang diukur dari rendahnya tingkat partisipasi di bidang tersebut menjadi agenda utama perjuangan mereka. Pandangan pokok feminisme yang menyebut bahwa akar persoalan perempuan adalah ketidakadilan gender hanya bisa ditamatkan dengan pelibatan kaum hawa dalam proses kebijakan dan legislasi. 

Isu kepemimpinan perempuan, kuota perempuan dalam parlemen, demokratisasi, dan isu sejenis mengemuka dalam diskursus keperempuanan di negeri ini. Memasuki tahun politik 2018-2019 perempuan Indonesia pun didorong mengejar posisi tersebut. 

Bak jauh panggang dari api, logika feminis semakin banyak perempuan dalam ranah politik akan berbanding lurus dalam penyelesaian masalah perempuan tak akan pernah terwujud. Sejatinya persoalan utama terletak pada penerapan sistem sekularisme liberal. 

Sebuah aturan hidup yang abai terhadap agama dan mengakomodasi sekian kebebasan. Pun miskin perlindungan terhadap perempuan. Wajar jika hari ini beranda hidup kaum hawa di negeri ini dipenuhi oleh eksploitasi, pelecehan, kekerasan, dan perlakuan bengis lainnya. 

Berpadu dengan kapitalisme. Berbagai kebijakan yang ditelurkan tak lagi atas aspirasi rakyat dan kebutuhan riil umat. Tapi lebih karena perselingkuhan dengan penguasa, pesanan kapitalis, atau desakan kekuatan asing.

/ Politik Muslimah dalam Koridor Islam /

Di samping tugas domestik sebagai ibu dan pengelola rumah tangga, perempuan merupakan bagian dari masyarakat yang mesti menjalankan peran publik. Bersama lelaki bertanggung jawab mengantarkan umat Islam menjadi umat terbaik di dunia. 

Jika demokrasi harus merekayasa berbagai sisi demi mendudukkan perempuan dalam peran politiknya, Islam justru menjadikan aktivitas politik sebagai hal lazim dilakukan perempuan. Tentu bukan aktivitas politik pragmatis yang penuh tipu daya sebagaimana praktik dalam jagad demokrasi. 

Aktivitas politik dalam definisi syariat Islam adalah mekanisme yang menjamin terselenggaranya pelayanan terhadap semua hajat seluruh masyarakat. Bukan sekadar mengejar kursi kekuasaan.

Sejarah telah mencatat para shahabiyah di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan aktivitas politik tanpa meninggalkan tugas utama sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Khadijah, Sumayyah, Asma binti Abu Bakar, Fathimah, Aisyah, adalah sederet muslimah yang menjalankan aktivitas politik secara gemilang. 

Dengan kesadaran politik tinggi, mereka mempersembahkan pengorbanan terbaik di jalan perjuangan.

Peran politik muslimah yang diarahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah saat beliau memberi peluang bagi perempuan sebagai representasi kaumnya. Peristiwa ini terjadi saat delegasi haji dari Madinah datang dalam prosesi bai’at kedua di Aqobah. 

Rombongan 75 orang itu disertai dua perempuan yakni Nusaibah binti Ka’ab dan Asma’ binti ‘Amru bin ‘Adiy. Keduanya melakukan aktivitas politik penting. Membicarakan strategi politik yang menentukan penegakan institusi pemerintahan Islam pertama. Daulah islamiyyah di Madinah. Peristiwa ini pun menjadi embrio keterwakilan perempuan dalam khazanah politik khilafah Islam.

Pelaksanaan peran politik perempuan dalam institusi khilafah menjadi bukti kontribusi riil muslimah di ranah politik. Tak perlu pengarusutamaan gender. Karena hakikatnya syariat Islam telah menjadikan laki-laki dan perempuan setara dalam peran politiknya. 

Khalifah Umar bin Khaththab berkenan merevisi kebijakannya atas keberanian seorang perempuan Quraisy menjalankan peran politiknya.

Umar dikritik saat mengancam akan memangkas setiap kelebihan mahar yang diajukan para perempuan dan memasukkannya ke Baitul Mal.

Muslimah berpolitik karena mendapat jaminan dalam syariat. “Hendaknya ada di antara kalian sebuah jama’ah yang menyerukan kepada kebajikan (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar..” Bahkan para politisi tersebut diberi penghargaan sebagai “..golongan yang beruntung” ( Q.S Ali Imron : 104 ). 

Demikianlah cara Islam memberi jaminan perempuan berkontribusi dalam medan politik. Tanpa harus duduk dalam tampuk kekuasaan, muslimah tetap mampu menjalankan peran politiknya. []

0 Comments

Posting Komentar