Renungan: Sudahkah Kita Didik Anak Kita?


Renungan: Sudahkah Kita Didik Anak Kita?*)
Bunda... mari kita pejamkan mata
Kita kosongkan pikiran kita.... 
Lalu hadirkanlah wajah anak-anak kita
Satu per satu…

Ingat baik-baik wajah mereka
Ketika mereka baru saja dilahirkan
Ketika mereka tersenyum, tertawa...
Ketika mereka tertidur pulas, 
Wajah-wajah lugu tanpa dosa

Ingat baik-baik tingkah lucu mereka
Mereka yang dulu, telah menghadirkan bahagia

Pejamkan mata kita Bunda...
Putarlah kembali waktu
Ingatkah dulu, kita lah yang mengharap kehadiran mereka ke dunia?

Dalam doa-doa di kesunyian malam,
Kita memangis memohon meminta pada Allah 
Untuk diberi sebuah amanah mulia, 
Untuk diberi gelar mulia: seorang IBU

Bunda, jika setiap anak memiliki ibu
Maka setiap anak di dunia ini sesungguhnya 
punya kesempatan merasakan surga
Ya! Karena surga ada di telapak kaki setiap ibu
Ya! Surga ada di telapak kaki kita


Lalu apakah ketika bersama kita, 

Anak-anak kita telah merasakan surga?
Apakah bahasa yang kita ucapkan pada mereka adalah bahasa surga?
Atau sebaliknya.
Yang mereka rasakan adalah amarah, keluh kesah, omelan dan bentakan
Nada tinggi dan kasar

Bunda, setiap anak terlahir ke dunia ini tak tahu apa-apa
Lalu Allah beri kehormatan kita untuk menjadi sekolahnya yang pertama
Ya, sekolahnya Bunda!

Apakah kita telah memberi ilmu terbaik?
Pengajaran terbaik?
Contoh terbaik?

Apakah kita telah membuat mereka tau siapa dirinya?
Apa makna kehadirannya ke dunia?
Siapa yang menciptakannya?
Apakah kita telah membuat mereka merasakan kebesaran dan keagungan Allah?
Sehingga mereka mengerti bahwa,
Hidup ini hanyalah untuk beribadah pada Allah, 
Taat-tunduk-patuh padaNya



Sudahkah kini, mereka taat tunduk patuh pada Rabb-Nya semata?
Apakah kita telah membuatnya mengerti dia diciptakan untuk menjadi kholifah fil ardh?
Ketika Allah berfirman :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"
Ya. Kita dan anak2 kita Allah turunkan ke bumi ini untuk menjadi Khalifah. Pemimpin dan pengurus bumi, agar berjalan sesuai ketentuan Allah.
Sudahkah kita mendidik anak-anak kita supaya dia memiliki sifat seperti Abu Bakar as-shiddiq: yang slebih mencintai Rasulullah, daripada dirinya sendiri, merelakan dirinya digigit kalajengking demi melindungi Rasulullah


Sudahkah kita menididk anak2 kita agar kelak mereka menjadi seperti Umar bin Abdul Aziz: sangat menjaga diri dan keluarganya agar tidak korupsi, tidak menggunakan fasikitas negara. Hingga dalam masa kepemimpinanya taka da satu pun rakyatnya yang pantas mendapat zakat
Atau sudahkah kita mendidik anak2 kita agar menjadi ulama seperti Imam Syafi’i, 7 tahun hafal al quran, 11 th hafal al muwaththo’, 13 th jadi mufti,
Sudahkah kita didik anak2 kita agar kelak mengikuti jejak Muhammad Al-Fatih, khalifah, penakluk KOnstantinopel yang digelari Rasul sebagai Ni’Mal Amiir….Panglima terbaik!
Jika kita memiliki ianak perempuan, sudahkah kita didik anak kita agar mewarisi kecerdasan Aisyah, atau ketangguhan ibunda, atau keberanian Nusaibah, bijaksana seperti ummu salamah, ibunda pada mujahid seperti Khansa’ …
Atau para ilmuwan semacam al khawarizmi, ibnu sina yang higga saat ini penemuannya sangat bermanfaat untuk dunia


Sudahkah Bunda? Sudahkah kita didik mereka?
Atau kita biarkan mereka tumbuh ala kadarnya. Dan kelak menjadi pecandu game, pecinta drama korea, lebih nikmat mendengar musik daripada lantunan ayat suci Al-Quran.
Lebih khusyu’ menonton film daripada menghadiri majlis2 ilmu.
Lebih senang sukses karir daripada sukses meninggikan kalimat Allah…
Karena kita, terjebak dengan rayuan manis dari para feminis…. Yang membisikkan bahwa menjadi wanit akarir lebih berharga ketimbang ibu rumah tangga
Bunda, akankah kita biarkan semua ini? Kita biarkan generasi terjajah oleh gaya hidup Barat? Yang merusk dan menjauhkan mereka dari visi penciptaan..
Akankah bunda?....
Tidak!
Kita tidak boleh diam. Jangan sampai2 wajah2 lugu anak2 kita kelak menjadi wajah2 rakus yang beringas, tamak terhadap dunia dan abai terhadao agamanya.
Kita harus berbenah, Bunda! Kita harus memperbaiki semua ini..
Siapa, yang ingin menjadi ibu sejati? Angkat tangannya Bunda!
Siapa yang ingin meraih kemuliaan hakiki?
Siapa yang ingin memantaskan diri, untuk kelak berbaris bersama Ibuda Khadijah, Ummu Salamah, Khansa’ dan Nusaibah???? Yang bangga karena telah melahirkn generasi terbaik bagi umat ini.
Jika bunda ingin, saat ini, tuliskanlah komitmen bunda. Apakah setelah ini siap mengkaji islam? Siap mengamalkan islam?
Mari kita tulis bersama, sebagai bentuk doa dan pengharapan kit apad aAllah,s ebagai bentuk komitmen kita pada Allah:
Saya siap menjadi ibu sejati, pencetak pemimpin di bumi!
Terakhir, tuliskan pesan cinta untuk putra anda di rumah… bagaimana harapan dan perasaan bunda… dari lubuk hati yang terdalam, apa yang bunda ingin lakukan terhadap mereka…
Hanya Bunda dan Allah yang tau, semoga Allah memberi kit apertolongan dan kemudahan bagi kit auntuk menjadi ibu yang terbaik.
*) Dibacakan saat Kopdar IMJ, oleh Faiqotul Himmah

0 Comments

Posting Komentar