Rabu, 04 April 2018

Sinergi Orang Tua, Sekolah dan Negara; Kunci Sukses pendidikan Generasi





Oleh Yuniar Firdaus, S.Si ( Praktisi Pendidikan & Pemerhati problem Generasi, tinggal di Jember)

Banyak orang tua geleng-geleng kepala dan mengelus dada melihat tingkah laku anak-anak zaman sekarang. Sampai-sampai populer ungkapan kids zaman now yang menggambarkan perbedaan anak-anak zaman sekarang dengan anak-anak zaman dulu, generasi ayah ibunya dan nenek kakeknya.

Yang bikin tambah nyesek adalah kenakalan anak-anak zaman sekarang yang jauh diluar batas kewajaran. Ada anak memperkosa temennya, anak menganiaya grunya, anak jadi begal, anak Sd tawuran dan segudang cerita pilu lainnya tentang anak. Bahkan data anak mengakses pornografi, data anak narkoba, anak seks bebas.. hati siapa yang tidak pilu melihat kenyataan ini. Mereka adalah amanah dari Allah yang harus kita jaga supaya tetap dalam keadaan baik bahkan mereka adalah calon pemimpin peradaban Islam kedepannya.

Tapi Herannya kalau udah bicara siapa yang harus berbenah, semua pihak saling lempar tanggung jawab. Orang tua sulit memberikan waktu banyak untuk anak, pilih menyerahkan anaknya ke sekolah, kalau bisa yang full day atau kalau bisa yang boarding sekalian. Padahal anaknya belum siap. Negara apa lagi, Negara yang memfasilitasi kerusakan, membiarkan pornografi dan pornoaksi misalnya. Tapi ketika ada kekerasan sexual, bukannya menutup penyebabnya, tapi negara merasa puas dengan mewanti-wanti keluarga untuk berbenah dan menerapkan satus darurat kejahatan sexual.  Lalu bagaimana kita membenahi masalah generasi?

Islam Kunci semua masalah

Islam adalah agama yang sangat sempurna. Semua masalah ada penyelesaiannya di dalam Islam. Sehingga semua masalah pasti bisa terselesaikan dengan Islam. Dengan catatan: Islam diterapkan secara Kaffah!! Termasuk dalam hal ini adalah mengembalikan generasi yang ada saat ini kembali menjadi generasi terbaik.

Didalam Islam perkembangan anak bisa dibagi dalam 3 kelompok usia, dimana dalam masing-masing usia ini ada sumber nilai dominan yang berpengaruh terhadap anak:

1.     Kelompok usia  1-7 tahun

Sumber nilai pada tahapan ini adalah keluarga. Sebagaimana dalam sabda rasul saw:

“Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah, lalu ibu bapaknyalah yang menjadikan dia seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi “ (HR. Bukhori dan Muslim)

Pendidikan di keluarga sanagatlah penting, terutama di usia dini adalah ungkapan yang tentunya semua orang sepakat. Tapi nyatanya, para calon  ibu hari ini lebih banyak yang menyibukkan diri belajar ilmu-ilmu untuk mengejar karier yang bisa menghasilkan setumpuk materi. Masih sangat jarang ibu yang paham tentang pendidikan anak.Bahkan menurut data KPAI, lebih dari separuh perempuan tidak siap menjadi  Ibu. Tentu sangat ironis! Belum lagi program dunia Internasional yang disambut oleh pemerintah untuk menjadikan perempuan sebagai economic driver sungguh telah berhasil menggerus peran keibuan.

Ayah apalagi. Sebagian besar ayah malah tidak merasa bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak mereka kecuali membayar baiaya sekolah mereka. Berdehem, Melotot, Marah adalah kebiasaan apara ayah menyelesaikan masalah anak mereka. Padahal Ayah sejatinya adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap keluarga mereka sebgaimana disebutkan dalam Al-qur’an surat At-tahrim:6.

2.    Kelompok usia  7-14 tahun
     
     Sumber nilai pada tahap ini adalah sekolah dan teman. Bahkan pengaruh teman dan guru di sekolah kadang lebih besar dari pengaruh keluarga. Sehingga kemauan orang tua untuk bersinergi dengan sekolah sangat penting pada fase ini,  karena bagaimanapun orang tua tidak boleh berlepas tangan terhadap pendidikan anak-anak mereka.

   Tidak seperti fenomena belakangan dimana, pengaruh ide-ide kebebasan ala barat telah membuat orang tua berlebihan dalam memberikan kebebasan pada anaknya sehingga orang tua justru tidak terima ketika guru di sekolah melakukan tindakan terhadap anak mereka. Walaupun tidak bisa kita pungkiri, tidak semua sekolah bisa dijadikan partner oleh orang tua. Terutama disaat para guru tidak lagi bisa menjadi teladan dan kurikulum yang bernafas ide sekuler seperti sekarang. Dalam fase ini orang tua harus berhati-hati memilihkan sekolah untuk buah hati mereka.

3.    Kelompok usia  14-21 tahun

Pada masa ini yang menjadi sumber nilai adalah masyarakat berikut media, sekolah, universitas, teman, sistem perundang undangan yang diterapkan pemerintah. Pada fase ini sering dijumpai, anak-anak yang lahir dari keluarga yang agamis ternyata hidup dalam pententangan nilai yang sangat lebar ketika mereka keluar ke masyarakat. Ada anak baik-baik yang terjerat LGBT, menjadi pejuang demokrasi, bahkan menjadi atheis dan sebagainya sangat besar terjadi pada fase ini. 

Inilah tantangan besar kita para orang tua saat ini karena negara yang ada saat ini justru mengambil sikap yang berbeda dengan nilai yang diambil oleh para orang tua muslim. Orang tua membentengi anak-nak mereka dari narkoba, tapi negara membiarkan narkoba melenggang bebas di selundupkan berton-ton. Orang tua sibuk mendidik anak-anak mereka supaya tidak terjebak pergaulan bebas, tapi malah negara menggencarkan gerakan kondomisasi dan kurikulum seks yang justru memicu seks bebas dan sebagainya.Sungguh kita merindukan kembali kehidupan Islam dalam Khilafah Islamiyah, sehingga para orang tua bisa mendidik putra-putri mereka dengan maksimal.

Bunda, dengan pemaparan diatas, jelaslah bagi kita mengapa Rasulullah SAW tidak hanya mengarahkan kita umatnya untuk mencukupkan diri mendakwahi kelurga kita saja. Tapi belio berjuang melakukan dakwah kepada pemimpin-pemimpin kabilah supaya Islam bisa di terapkan secara nyata dalam sebuah institusi negara. Yang negara itulah yang akan mampu melakukan perubahan secara besar-besaran pada kondisi masyarakat. Kita bisa membaca dalam sejarah, bagaimana sejak berdirinya Daulah di madinah, Kaum muslimin tampil  dengan berbeda. Sehingga jelas bahwa upaya pemebenahan generasi harus melibatkan seluruh komponen pelaku pendidikan yaitu keluarga, sekolah, masyarkat dan negara. Tidak ada kata terlambat, jika kita menuju Allah sambil..yakin Allah menutup kelalaian kita di masa lalu. Jangan pernah menyampaikan kita tidak mampu untuk menuju penerapan syariah Islam kaffah dalam keluarga, masyarakat dan negara. Karena itulah solusi hakiki untuk kita semua, termasuk problem generasi[]

0 komentar:

Posting Komentar