Sya’ban dan Ukhuwah


Sya’ban dan Ukhuwah 

Oleh: Wardah Abeedah

Dalam sebuah hadist yang dikeluarkn oleh At-Thabrani dalam Al-Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, juga Al-Bayhaqi dan Ibnu Majah, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:

يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن 

"Allah mendatangi seluruh mahlukNya pada malam Nishfu Sya'ban dan mengampuni seluruh mahluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan."

Diantara sekian banyak bertebarannya hadits terkait Sya’ban, hadits di atas adalah salah satu hadits shahih dan bisa dijadikan pijakan dalam beramal. Malam Nishfu Sya’ban, yang Rasul sebutkan sebagai malam diangkatnya amalan kita dalam setahun akan tiba. Malam ini, sebagaimana pada hadits di atas, adalah sebuah kesempatan emas bagi kita menutup catatan amal tahun kemarin dengan ampunan Allah. Tentunya hal itu akan mengawali catatan baru amalan kita dengan kondisi terbaik. Meski kabar gembira ini hanya Allah khususkan bagi mereka yang tak melakukan dua maksiat ; musyrik dan bermusuhan.

Yang dimaksud musyrik adalah mereka yang menyekutukan Allah dalam dzatNya, sifatNya atau dalam beribadah padaNya. Penjelasan ini senada dengan firman Allah dalam surat An Nisa’ ayat 48 dan ayat 116.

Sedangkan yang dimaksud dengan musyahin, menurut Ibnu Atsir adalah orang yang bermusuhan dengan sesama muslim. Imam Abu Daud dan Ibnu Abdil Barr berpendapat senada. Bermusuhan dengan sesama muslim adalah permusuhan yang tegas diharamkan syariat. Berbeda dengan permusuhan terhadap kafir harbiy, maka memang hukum asalnya wajib. Hubungan seorang muslim dengan muslim lainnya adalah saudara. Allah telah memfirmankan dalam kalam mulianya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 

_“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”_ (Al-Hujurat: 10)

Dalam ayat ini, Allah memilih kata ‘ikhwah’, bukan ‘ikhwan’. Dalam khazanah Bahasa Arab, ikhwan dipakai untuk menyebut persaudaraan sedarah, atau saudara kandung. Sebagaimana firmanNya dalam surat Yusuf ayat 58. Sedangkan kata ikhwan biasa dipakai untuk konteks saudara yang tak sedarah. Hal ini menegaskan bahwa persaudaraan sesama mukmin sangat utama sebagaimana persaudaraan sedarah.

Penegasan yang sama disabdakan oleh Rasul kita tercinta dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.”

Sebagaimana nash-nash tentang kewajiban dan keutamaan ukhuwah Islamiyah, hadits tentang Nishfu Sya’ban kembali menegaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah dan larangan bermusuhan dengan saudara sesama muslim. Bahkan terdapat ancaman terhalang dari ampunan Allah jika melakukan larangan tersebut. Wal ‘iyaadzu billah.

Sejatinya, bulan Sya'ban menjadi momentum untuk menguatkan tawhid dan mnghapus kesyirikan. Lebih dari itu, Sya'ban harusnya menjadi momentum persatuan umat Islam. Momentum untuk kembali merefresh pemahaman dan perasaan, bahwa siapapun dia, apapun kelompoknya, suku dan bangsanya, selama ia muslim, dia adl saudara yang wajib dicintai. Baik itu muslim Palestina, Suriah, Rohingya, meski bukan bagian Indonesia, mereka adalah anggota tubuh kita. 

Berbanding dengan hal itu kita juga perlu merefresh pemahaman bahwa musuh kita adalah mereka yang merebut tanah kaum muslimin, dan menguras sumber daya alamnya. Bahwa musuh kita adalah ideologi sekuler-kapitalis yang merusak moral generasi mukmin pemikiran dan budaya kafir. Sehingga generasi muslim akrab dengan narkoba, miras juga seks bebas. Musuh kita adalah kafir harbiy Israel, Amerika, Rusia yang tengah membantai umat Islam serta mengusir saudara-saudara kita dari tanah kaum muslimin.

Alangkah celakanya jika kita terjebak pada propaganda penjajah yang membuat kita bergandeng mesra dengan musuh, tapi keras memusuhi saudara. Gereja dijaga, pengajian dibubarkan paksa. Pemimpin kafir dibela, pejuang Islam dicela. Kedzaliman didiamkan, sedang saudara seaqidah dinyinyiri hanya karena perbedaan fiqh yang ijtihadiy.

Alangkah celakanya jika di malam yang mulia, semua makhluq berbahagia dengan ampunan Allah, kecuali kita. Karena kesyirikan atau permusuhan kita terhadap saudara sesame muslim. Semoga pada malam Nishfu Sya'ban ini, kita termasuk mahluk Allah yang mendapatkan ampunan dariNya, dzat Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

Wallahu a’lam bis showab

0 Comments

Posting Komentar