Lautan Inspirasi Ibu Hebat, Ibunda Hasan bin Shalih bin Huyai



[Kajian Sirah]

Lautan Inspirasi Ibu Hebat, Ibunda Hasan bin Shalih bin Huyai

Oleh : Hana Ummu Dzaki

Semoga belum terlambat jika baru memulai membaca dan meneladani Ibunda yang luar biasa ini. Mari kita duduk tawadhu menyimak kisah Ibunda Ulama. Ibunda yang mempunyai daya juang tinggi. Kisah ibunda yang setiap harinya mengkhatam Alquran bersama dua orang puteranya. Masing-masing membaca sepertiga mushaf. Hasan bin shalih bin Huyai mengkhatamkan sepertiga pertama di awal malam. Lalu dilanjutkan oleh Ali bin Shalih bin Huyai pada sepertiga berikutnya, dan dikhatamkan oleh ibu mereka di sepertiga malam terakhir. Demi apa? Menjaga hafalan anaknya. MasyaAllah, suatu keluarga Qurani karena peran seorang ibu yang shalihah. 

Sepeninggal sang ibu, Hasan dan Ali masing-masing mengkhatamkan separuh Alquran. Mereka berbagi tugas untuk melanjutkan tradisi luar biasa tersebut. Sepeninggal Hasan, Ali meneruskan tradisi tersebut seorang diri. Ia membaca Alquran semalam suntuk hingga khatam. MasyaAllah. 

Tak hanya itu saja. Dari keluarga Qurani yang didominasi oleh ibunda shalihah ini, Hasan menjadi pribadi yang takut kepada Allah. Pernah dalam suatu qiyamullail, ketika membaca 'amma yatasaan aluun' Hasan selalu pingsan dan tidak dapat mengkhatamkannya hingga fajar. 

Hasan juga sosok ulama yang Zuhud. "Kadangkala aku bangun di pagi hari tanpa memiliki uang sedirham pun.Tapi aku merasa bahwa dunia seluruhnya ada dalam genggaman tanganku". Hasan bin Shalih bin Huyai dan saudara kembarnya Ali bin Shalih bin Huyai adalah orang yang alim, faqih, dan ahli ibadah. Hasan adalah seorang ahli fiqih dan perawi hadist yang tsiqah. Sementara Ali adalah seorang ahli qiraah. 

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari ibunda Hasan bin Shalih bin Huyai? Ibunda Hasan adalah ibu yang berdaya juang tinggi dalam menghasilkan generasi terbaik. Beliau sukses menanamkan visi dan misi kepada anaknya sejak dini. Bukan sembarang visi. Tapi visi berbasis akidah Islam yang kokoh dan semangat beramal shalih. Ibunda Hasan juga sukses mengajarkan kepada anaknya bahwa kesuksesan itu bukan diukur dari capaian materi dunia tapi berorientasi akhirat. Ibunda Hasan memang tidak mendapat balasan materi yang banyak dari anak-anaknya tapi beliau mendapat investasi pahala dari anaknya. InsyaAllah, beliau adalah ibu yang sukses. 

Sebagai ibu dari generasi penghafal Alquran zaman now, kita juga bisa meneladani dari sisi bahwa seorang ibu harus menyediakan waktunya untuk duduk bersama anaknya untuk murojaah hafalan anaknya. Satu juz butuh waktu kurang lebih satu jam untuk murojaah. Satu jam adalah waktu yang lumayan bisa dimanfaatkan untuk memasak, sambil memasukkan baju ke mesin cuci, sambil beberes rumah. Satu jam juga adalah waktu yang lumayan lama untuk browsing dan eksis di sosmed. Tapi sang ibu hebat rela duduk satu jam tanpa memikirkan cucian, masakan, dan sosmedan. Fokus murojaah bersama anaknya. Memang akhirnya waktu tidur dan istirahat jadi kurang. Itulah pengorbanan seorang ibu. Sebagaimana ibunda para ulama terdahulu.

Ibunda Hasan bin Shalih bin Huyai memang tidak dikenang sebagai pejuang emansipasi karena sejatinya ide ini lahir di barat. Ide ini dirancang sedemikian rupa untuk menjajah negeri kaum muslim. 'Negara-negara penjajah disamping memaksakan dominasi politik, militer, dan ekonomi di dunia Islam untuk mengeksploitasi manfaat-manfaat materialnya, juga berupaya untuk menyebarkan kapitalisme pada banyak bidang. Misalnya perhatian negara penjajah terhadap konferensi emansipasi dan kesetaraan gender.' (Politik: Fikrah dan Thariqah by Syaikh Taqiyuddin And Nabhani).

Ibunda Hasan bin Shalih bin Huyai juga tidak menulis buku yang senantiasa dikenang. Beliau juga tidak dinisbahkan sebagai pahlawan wanita yang setiap tahunnya diperingati. Tapi beliau mengajarkan kepada kita bahwa ibu bukan sekadar pengasuh bayi. Bukan hanya juru masak dan tukang cuci. Perannya sangat strategis dan bernilai tinggi. Jejak langkah kakinya mampu menghantarkan anaknya mendekat kepada surga. Oleh sebab itu, seorang ibu harus senantiasa mengisi hari-harinya dengan kebaikan, agar juga meninggalkan jejak kebaikan dalam diri anaknya. Bukan sebaliknya. 

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.
-Surat An-Nisa', Ayat 9

Oleh karena itu peran penting perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga jangan diganggu gugat, diotak-atik, apalagi dibonsai. Inilah yang sedang digencarkan oleh penjajah barat agar keluarga muslim hancur. Sangat bahaya jika ibu tidak pandai menjalankan fungsi strategisnya. Apalagi menganggap sepele profesi Umm warabatul bayt. Seorang ibu harus mempersenajati dirinya dengan ilmu. Terutama ilmu Aqidah dan syariah. Agar tidak terkontaminasi dengan ide barat yang justru menjerumuskan perempuan. Selain itu penting juga melengkapi dirinya dengan persenjataan ilmu teknis semacam parenting, manajemen waktu, manajemen konunikasi, manajemen emosi dan hati. Ia juga mampu membina ibu yang lain agar lebih baik banyak lagi ibu yang menjalan fungsinya sebagai ibu dengan baik. 

Perempuan adalah penentu wajah dunia. Perannya sangat besar dalam membentuk dinamika zaman, menciptakan rupa dunia. Generasi unggul lahir dari 'tangan dinginnya'. Dengan mewarisi semangat ibunda Ulama semoga kita mampu menjadi ibu hebat yang memperjuangkan wajah generasi dan dunia menjadi lebih baik.

"Ibu adalah sekolah yang jika engkau telah mempersiapkannya berarti engkau telah mempersiapan suatu bangsa dengan akar-akar yang baik"

Selamat menjadi ibu yang menginspirasi, seperti ibunda Ulama.

@infomuslimahjember #infomuslimahjember#jember

0 Comments

Posting Komentar