Pendidikan Karakter VS Pendidikan Islam


Pendidikan Karakter VS Pendidikan Islam

(Editor dan Blogger Profesional, Member Revowriter)

#InfoMuslimahJember – Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi anak-anak yang menyenangkan hati dan kelak bisa menjadi pemimpin. Harapan tinggi orang tua ini pun telah disebutkan dalam QS. Al-Furqan:74 yang berbunyi,  “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Namun sebenarnya, dewasa ini masih banyak orang tua yang belum mengerti apa maksud anak yang bisa menjadi penyenang hati dan menjadi pemimpin. Kebanyakan akan menganggap anak yang masih belum sampai pada masa dewasanya adalah yang menyenangkan hati, ketika ia telah beranjak dewasa, maka anak-anak akan menjadi sosok yang selalu membuat hati orang tua waspada.

Pada KOPDAR IMJ Session Sharing Parenting yang diadakan pada Sabtu (12/05) kemarin, Gadinia Bunga Vita, seorang ahli parenting dari SmartParents Institute Jember menjelaskan bahwa sebenarnya yang dimaksud dengan Penyenang Hati (Qurrota A’yun) adalah anak-anak yang memiliki 3 (tiga) ciri utama yakni : 1.) Taat pada orang tua; 2.) Tingkah laku sopan; dan 3.) Santun perkataannya.


Dengan begitu, berapapun usia seorang anak, bila memiliki ciri-ciri seperti di atas maka anak tersebut adalah anak yang menjadi penyenang hati.

Selain itu, pada kopdar yang diadakan di gedung Bhayangkara Jember ini, juga dijelaskan apa yang dimaksud dengan anak menjadi pemimpin. Ternyata yang dimaksud pemimpin di sini bukan sekedar ia bisa meraih jabatan tertentu baik di pemerintahan atau bidang lainnya. Seorang pemimpin seharusnya memiliki 3 (tiga) ciri utama sebagai berikut : 1.) Bertanggung jawab; 2.) Mampu berpikir solutif; dan 3.) Komunikatif.

Namun sayangnya, hasil pendidikan zaman sekarang belum mampu memperbaiki kualitas generasi muda Indonesia. Sehingga bisa kita lihat adanya kegagalan-kegagalan pendidikan. Misalnya, tawuran pelajar hingga memakan korban jiwa yang  masih kerap kali terjadi, kasus pembunuhan antara murid dan guru juga tidak sedikit, kasus pencabulan dalam dunia pendidikan (misal guru cabuli murid) dapat dengan mudah kita temukan dengan pencarian yang mudah di google. Jangan lupakan masalah narkoba, aborsi dan pelacuran yang dilakukan oleh pelajar. Hati orang tua mana yang tidak akan mengelus dada bila melihat ada fakta yang seperti ini?

Perkembangan teknologi informasi pun memberi pengaruh. Kedekatan anak-anak zaman sekarang dengan gadget mempermudah mereka mengakses berbagai macam game (permainan). Salah satu game tersebut adalah “Pukul Guru Anda”. Game ini adalah game dimana pemain berperan sebagai murid yang tengah menghadapi guru karena ‘kedapatan’ nilai jelek saat ujian. Tugas pemain adalah memanfaatkan segala barang yang ada di sekitarnya untuk melakukan pemukulan kepada guru. Semakin babak belur guru, maka makin tinggi skornya. (detik.com)

Untuk itu dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab, pemerintah memandang perlu penguatan pendidikan karakter.

Dan hal inipun dituangkan dalam Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 disebutkan, Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).”

Pada acara Kopdar IMJ yang dihadiri oleh puluhan bunda sholihah dari kecamatan Kaliwates, Ajung, Rambipuji, Panti, Patrang, Arjasa dan Jelbuk ini juga dibeberkan bagaimana Pendidikan berbasis akidah Islam akan memberikan hasil lebih baik daripada pendidikan lainnya.

Pendidikan karakter saat ini merupakan program dari PBB Sehingga yang menjadi dasarnya bukanlah aqidah Islam tetapi asas sekulerisme. Dimana pembentukan karakter menggunakan pola pembiasaan.  Sehingga karakter yang terbentuk karena kebiasaan, sangat berbeda dengan pendidikan berbasis aqidah Islam, yang akan menghasilkan pribadi-pribadi yang taat, tunduk, patuh hanya pada Allah. Sehingga ketika mereka berada dimanapun dan dalam kondisi apapun akan berupaya untuk selalu taat pada Allah.  Pribadi-pribadi inilah yang dibutuhkan untuk menjadi Pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Pada acara yang dibuka oleh penampilan anak-anak dari Majelis Sholawat Anak ini, pemateri juga menjelaskan cara-cara menanamkan akidah pada anak yaitu : 1.) Biasakan mendengarkan ayat Al-Qur’an bahkan sejak dalam kandungan; 2.) Mengenalkan anak pada dirinya, orang tuanya, hingga alam semesta; dan 3.) Beri anak ruang bertanya dan mengeksplor fakta terindra.

Tidak mudah memang mendidik seorang anak, apalagi tantangan zaman semakin berat. Orang tua tidak akan sanggup bila sendirian. Untuk itu mendidik anak memerlukan usaha, bukan hanya mengusahakan kebutuhan anak dengan waktu dan materi, tapi juga memantaskan diri menjadi orang tua yang baik sesuai dengan tuntunan Islam. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjadi orang tua pembelajar, taat pada Allah dan syariatnya serta memulai mengkaji Islam secara rutin.

Harapannya dengan adanya kopdar ini, akan membuat banyak orang tua sadar akan betapa berharganya anak-anak yang telah dititipkan oleh Allah SWT. Sehingga memiliki keinginan dan tekad yang kuat dalam menjaga mereka, menyiapkan mereka sesuai dengan tujuan penciptaannya.

0 Comments

Posting Komentar