Sebuah impian dari Kopdar Info Muslimah Jember


[REPORTASE] 
Sebuah impian dari Kopdar Info Muslimah Jember

Ahad, 22 April lalu, adalah hari yang berkesan bagi ratusan bunda dan calon bunda dari berbagai daerah di Jember. Mereka mengikuti event kopdar Info Muslimah Jember (IMJ). Kopdar ini merupakan serangkaian kegiatan Kelas Intensif on-line Parenting Qurani yeng telah terselenggara empat kali pertemuan. Tema Islam Peradaban Emas, Generasi Emas menjadi penutup kelas parenting Qurani kali ini.
Memasuki Crown Hall, Royal Hotel Jember, peserta disambut persembahan sholawat dan lagu-lagu religi diiringi tabuhan rebana yang menggugah semangat dan kerinduan pada Rasulullah. Tim sholawat yang terdiri dari anak-anak ini adalah asuhan salah satu anggota grup KulWa IMJ. Mereka menyebut dirinya Majelis Sholawat Al-Ummu, yang dengan inisiatif sendiri ingin tampil untuk menghibur peserta Kopdar IMJ.
Setelah itu, Nasyid berjudul Ibu yang dipersembahkan 4 mahasiswi follower Info Muslimah Jember semakin membuat perasaan peserta mengharu-biru. Bagaimana tidak, mereka serasa diingatkan bahwa mereka adalah sosok yang sangat dirindu dan diharapkan oleh putra-putri mereka.


Kopdar kemudian dibuka oleh duet host Faiqotul Himmah (pemred IMJ) dan Wardah Abeedah (redaksi IMJ). Suasana pun menjadi meriah. Setelah dibuka dengan membaca surat Al-Fatihah, Ananda Qanita dan Ananda Khansa tampil membaca Al-Quran. Mereka adalah penghafal Al-Quran. Qanita yang tidak lain merupakan putri salah satu pemateri kulwa kini telah hafal 5 juz. Sementara Khansa, hafal 3 juz. Tilawah Al-Quran ini diharap mengundang keberkahan selama kopdar.
Mengingat kopdar baru pertama kali dilakukan, perkenalan menjadi penting. Host kemudian memandu peserta dalam game perkenalan. Game yang sangat seru. Selain menguji daya ingat dan kepercayaan diri, semua yang terlibat mendapat doorprize dari panitia. Ya, Kopdar perdana ini dihujani doorprize.
Sebelum sesi materi, host mengajak peserta mengingat kembali materi KulWa. “Bunda, apa tujuan mendidik anak dalam Islam? tanya Faiqoh pada peserta. Mendidik anak supaya taat pada Allah dan menjadi Khalifah fil ardli, jawab salah seorang peserta. Ya, itulah tujuan mendidik anak dalam Islam. Tujuan yang sejalan dengan visi penciptaan. Namun mendidik anak sekarang bukanlah hal mudah. Narkoba, pornografi, pergaulan bebas mengepung anak-anak. Mendidik anak tidak bisa hanya dengan mengandalkan perang orang tua. Harus ada sinergi antara sekolah, masyarakat dan negara.


Ustadzah Gadinia Bunga Vita, S.T dari Smart Parent Institute Jember menekankan bahwa ibu memang memiliki peran penting dalam mendidik anak. Ibu adalah orang yang memberikan waktunya 24 jam untuk keluarga, mencintai keluarga tanpa syarat dan membangun karakter seorang anak.
Didalam Islam seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Derajatnya 3 kali lebih tinggi daripada seorang ayah. Bahkan dalam hadist Nasa'i mengatakan bahwa Surga itu berada di telapak kaki ibu, pungkasnya.
Namun sayang, saat ini profesi sebagai ibu tak banyak diminati. Derasnya arus pemikiran gender atau feminisme membuat peran sebagai ibu terpinggirkan. Feminisme membuat perempuan merasa aturan syariah adalah pengekangan. Termasuk di dalamnya kewajiban seroang perempuan untuk mendidik anak dan mengurus rumah tangganya. Perempuan pun kini digenjot untuk menjadi penggerak ekonomi, meninggalkan peran strategis mereka yakni sebagai pengasuh pendidik generasi.


Ini membuat para ibu rumah tangga merasa menjadi tidak berharga dbandingkan mereka yang bekerja. Banyak pula yang merasa tidak memberi kontribusi dalam masyarakat jika hanya sekedar menjadi seorang ibu. padahal ibu adalah tulang punggung pendidikan generasi. Terakhir beliau menyampaikan bahwa generasi terbaik akan lahir dari Ibu yang terbaik. Ibu terbaik memiliki tiga ciri: mempunyai kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual dan kecerdasan mental. Oleh karena itu, seorang ibu harus mengkaji Islam secara mendalam.
Sementara itu, Ustadzah Yuniar Firdaus, S.Si memberikan langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan anak. Pada umumnya harapan orang tua terhadap anaknya adalah agar kelak anak-anaknya berbakti. Tapi ternyata tidak cukup sampai di situ. Karena Allah menciptakan kita dan anak-anak kita bukan hanya agar supaya berbakti pada orang tua. Tapi Allah menciptakan kita untuk menjadi Khalifah fil ardli. Sebagaimana firman Allah di Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30.
Menurut tafsir Jalalayn, yang dimaksud dengan menjadi khalifah di muka bumi adalah yang menjalankan hukum-hukum Allah di bumi. Artinya, anak-anak kita kelak harus menjadi pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Allah. Ustadzah Yuniar memaparkan bahwa hukum-hukum Allah amat sempurna. Mengatur segala aspek kehidupan. Mulai dari urusan ibadah dengan Allah, urusan dengan diri sendiri seperti makanan, pekaian dan akhlak, juga urusan dengan sesama manusia yang menckup berbagai sistem kehidupan. Seperti sistem politik, ekonomi, hukum dan sebagainya. Namun sayangnya saat ini, hukum-hukum Allah itu tidak diterapkan kecuali yang menyangkut diri sendiri. Dalam masyarakat dan negara? Hukum-hukum Allah ini diabaikan.


Untuk itu seorang ibu harus bercita-cita menjadikan putra-putrinya sebagai pemimpin. Kalau kita ingin menjadikan anak-anak kita pemimpin, akan diajari apa? tanya Ustadzah Yuniar. 
“Pertama, ajari anak-anak kita bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat; kedua, mempengaruhi tidak dipengaruhi (mencetak anak jadi agent of change), ketiga, berfikir solutif dan ke empat, komunikatif, jelasnya kemudian.

Ustadzah Yuniar kemudian mencontohkan output pendidikan masa Khilafah. Usia 8-10 Tahun hafal al Quran 30 Juz. Belasan tahun hafal kitab hadist, fiqh, bahasa dan ilmu-ilmu lainnya. Di usia 20-an tahun menjadi pemimpin besar di masyarakat dengan prestasi gemilang.
Para peserta sangat antusias menyimak materi dari kedua narasumber, terbukti saat sesi diskusi mereka berlomba menyampaikan pertanyaan. Kelima peserta yang bertanya, mendapatkan doorprize dari panitia. Begitu juga peserta yang paling aktif saat KulWa dan peserta yang datang paling awal.


Kopdar IMJ memang memberikan banyak ruang bagi peserta untuk berkarya. Seperti Bunda Azizah dan Bunda Yeni yang tampil membawakan puisi berjudul Ibu. sebelum pulang, sebuah refleksi tentang peran mulia seorang ibu dibacakan. Renungan yang sukses membuat mata para ibu sembab dan terisak mengingat kekurangoptimalan dalam mengasuh dan mendidik anak. Dan berakhir dengan sebuah azzam untuk memperbaiki diri, mengkaji islam lebih mendalam dan berjuang mencetak generasi khalifah fil ardhi.
Tak ketinggalan, momen spesial ini diabadikan dengan sesi foto bersama. Area photobooth yang disediakan panitia penuh sesak oleh antrian peserta. Semua berharap, Kopdar ini menjadi langkah awal kembalinya peran strategis para ibu sebagai pencetak generasi. Mereka pun pulang membawa sebuah impian besar: menjadi ibu tanguh pencetak generasi emas.[]
Penulis: Umi N. dan Faiq
Foto: Yuli dan Ani

@infomuslimahjember #infomuslimahjember #jember

1 komentar

  1. MasyaAllah, sungguh acara yg luar biasa, dan mampu memberi ruang baru di hati ibu untuk lebih baik lagi mendidik generasi, Barakallahu IMJ, sukses terus ^^

    BalasHapus


EmoticonEmoticon