Serbuan TKA, Masihkah Hukum Jahiliyah Pilihan Kita?



[Suara Muslimah]

Serbuan TKA, Masihkah Hukum Jahiliyah Pilihan Kita?

Oleh : Faiqotul Himmah*)

Salah satu tuntutan dalam demo buruh hari ini adalah stop tenaga kerja asing (TKA) buruh kasar asal Cina. Serbuan tenaga kerja asing terutama asal Cina memang menjadi momok bagi tenaga kerja lokal. Siapa yang tidak khawatir? Saat jutaan rakyat menganggur, pemerintah justru mempermudah TKA masuk ke Indonesia. 

Maret 2018 ada 126 ribu tenaga kerja asing berdasarkan data Kemenakertrans. Sementara itu di dalam negeri ada 7,04 juta pengangguran berdasarkan data BPS pada Agustus 2017. 

Sungguh aneh ketika tenaga kerja asing diurus bahkan presiden sebagai pemimpin tertinggi negeri ini mengeluarkan Perpres No. 20 tahun 2018 untuk memudahkan perijinan tenaga kerja asing. Sementara tenaga kerja lokal yang tak lain rakyatnya sendiri banyak yang menganggur.

Pemimpin kita hari ini sangat jauh dari fungsi pemimpin dalam Islam. Dalam Islam, ada dua fungsi seorang pemimpin atau kepala negara. 

Pertama, pemimpin adalah pelayan atau pengurus. Rasulullah saw menggunakan kata Ra’in untuk menyebut pemimpin. Beliau berkata “ kullukum ra’in, wa kullu ra’in mas-ulun ‘an ra’iyyatih”. Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kepemimpinannya di kemudian hari. 

Mari kita renungkan, mengapa Rasul menggunakan kata ra’in yang artinya adalah penggembala untuk menyebut pemimpin? Rasul Saw tidak menggunakan kata said atau rais yang arti harfiahnya adalah pemimpin. 

Rasulullah ingin menekankan bahwa fungsi pemimpin adalah sebagai pelayan, pengurus. Seorang penggembala, akan mengurus hewan gembalaannya. Dia akan selalu memperhatikan keadaan gembalaannya. Katakanlah gembalannya adalah kambing. Dia akan menggiring kambing-kambingnya ke padang rumput misalnya. Supaya kambingnya bisa cukup makan, sehingga kambingnya sehat atau gemuk. Jika kambing-kambingnya kenyang, dia giring pulang. Sudah dia siapkan kandang, sehingga kambingnya bisa tidur dengan aman di malam hari. Dia juga akan menjaga kambingnya agar tidak mendapat bahaya. Seperti serangan penyakit atau diterkam serigala. 

Jika ada seorang penggembala, dia giring gembalannya ke tempat yang tandus, tiada air ataupun rumput, bagaimana menurut Anda? Atau dia biarkan saja gembalannya kehujanan, kepanasan, kedinginan. Dia tak peduli apakah gembalaannya kekurangan makan, kurus atau terkena penyakit. Atau dia serahkan gembalaannya pada serigala? Dia biarkan gembalannya dicuri, dirampok? Atau... dia bawa gembalaan orang lain ke padang rumput, sementara gembalaanya sendiri dibiarkan begitu saja tak diurusnya. Bagaimana menurut Anda? Tentu kita menyangikan bahwa dia adalah seorang penggembala! 

Seperti saat ini. Ketika jutaan rakyat menganggur. Jutaan sarjana tak bisa bekerja sesuai keahlian dan keilmuannya. Pemimpin kita justru memberi kesempatan luas dan mudah tenaga kerja asing masuk. Bahkan mereka mendapat banyak keistimewaan. Di antaranya adalah gaji yang sangat tinggi. 

Pemimpin dalam Islam akan bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Muslim maupun non muslim. Tidak akan membiarkan rakyatnya kelaparan atau tidak memiliki tempat tinggal. Menciptakan lapangan pekerjaan bagi kepala keluarga. 

Selain itu, Rasulullah juga menyatakan bahwa seorang pemimpin adalah junnah. Perisai. 

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai (junnah), dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Junnah dalam hadits ini, bermakna pelindung dari kezhaliman dan penangkal dari keburukan, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu al-Atsir. Imam al-Mala al-Qari menyatakan seorang al-Imam menjadi pelindung bagi kaum muslimin dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara berkelanjutan.

Mudahnya bagi tenaga kerja asing masuk ke Indonesia membawa ancaman tersendiri. Keberadaan TKA akan merusak budaya dan agama. Miras, prostitusi, seks bebas, pedofila mengancam kita. Demi memeprlancar investasi dan masuknya TKA, aturan perdagangan minuman beralkohol masuk dalam paket deregulasi. Kita juga tak boleh lupa, kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh dua guru berkebangsaan Amerika Serikat di Jakarta International School (JIS) tahun 2014. Belum lagi ancaman LGBT.

Sayangnya, dua fungsi kepemimpinan itu tak akan pernah kita dapatkan dalam sistem demokrasi. Asas demokrasi adalah sekulerisme, pemisahan antara agama dan kehidupan. Dalam demokrasi, manusialah yang berhak membuat aturan kehidupan. Agama tak boleh turut campur dalam penetapan Undang-undang. Ya, sebagaimana kita tahu, undang-undang yang ada saat ini hanyalah untuk memuluskan kepentingan global. Yang tak lain ingin mengeruk kekayaan alam Indonsia dan menguatkan cengkraman penjajahan dalam berbagai bidang. Politik, ekonomi, budaya, pendidikan.

Dan pemimpin hari ini, bukanlah diangkat untuk menjalankan amanat Islam, namun untuk menerapkan Undang-undang kufur yang ada.

Sudah saatnya kita renungkan firman Allah berikut ini:

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. AL-Maidah : 50)

Kita yang merasa terpanggil oleh seruan Allah itu, pasti akan memilih untuk berjuang mengambalikan hukum-hukum Allah secara kaffah di muka bumi. Wallahu a’lam.[]

*)pemred Info Muslimah Jember

@infomuslimahjember #infomuslimahjember

0 Comments

Posting Komentar